
KATURI NEWS – Ketegangan geopolitik yang terjadi di berbagai belahan dunia menjadi pengingat bahwa tantangan global tidak dapat diselesaikan oleh satu negara secara sendiri-sendiri. Konflik bersenjata, gangguan perdagangan, perubahan iklim, hingga tekanan ekonomi saling berkaitan dan memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Di tengah situasi tersebut, kerja sama negara-negara berkembang atau Global South semakin memiliki arti strategis. Indonesia berupaya mendorong kelompok negara berkembang untuk membangun kolaborasi yang lebih kuat, terutama dalam menghadapi persoalan ekonomi dan lingkungan yang semakin kompleks.
Presiden Prabowo Subianto menilai kekuatan kolektif Global South dapat menjadi modal penting untuk membuka lebih banyak peluang pembangunan. Pandangan tersebut sejalan dengan posisi Indonesia sebagai anggota penuh BRICS sejak Januari 2025. Keanggotaan itu memperluas ruang Indonesia untuk bekerja sama dengan negara-negara berkembang dalam berbagai bidang, termasuk perdagangan, investasi, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan.
Salah satu persoalan yang membutuhkan kerja sama lintas negara adalah perubahan iklim. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan meningkatnya suhu bumi, tetapi juga berpengaruh terhadap ketahanan pangan, pertanian, perikanan, kesehatan, infrastruktur, dan perekonomian.
Bagi Indonesia, persoalan tersebut memiliki tingkat kepentingan yang tinggi karena karakter geografisnya sebagai negara kepulauan. Perubahan pola cuaca, kenaikan muka laut, banjir, kekeringan, serta bencana hidrometeorologi dapat memberikan tekanan terhadap masyarakat dan kegiatan ekonomi.
Di sisi lain, konflik geopolitik juga dapat memperbesar persoalan ekonomi. Gangguan terhadap jalur perdagangan dan distribusi barang berpotensi meningkatkan biaya logistik serta memengaruhi ketersediaan sejumlah komoditas. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga dan menambah tekanan terhadap masyarakat.
Karena itu, penguatan rantai pasok menjadi salah satu kepentingan penting bagi negara-negara Global South. Kerja sama yang lebih erat dapat membantu negara berkembang mengurangi ketergantungan terhadap sumber pasokan tertentu sekaligus meningkatkan kemampuan produksi dalam negeri.
Potensi ekonomi kelompok negara berkembang juga sangat besar. China, India, Indonesia, dan Pakistan, misalnya, memiliki jumlah penduduk yang besar sehingga menyediakan basis konsumen dan pasar yang luas. Besarnya populasi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa negara-negara berkembang kerap dikaitkan dengan istilah Global Majority.
Namun, jumlah penduduk yang besar harus diikuti peningkatan produktivitas, kualitas sumber daya manusia, infrastruktur, serta akses terhadap teknologi. Tanpa penguatan kapasitas tersebut, besarnya pasar tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan yang merata.
Indonesia dapat mengambil peran melalui pengembangan industri bernilai tambah, hilirisasi sumber daya alam, ekonomi digital, serta energi bersih. Kerja sama dengan negara-negara BRICS dan mitra Global South dapat membuka akses terhadap investasi, teknologi, pasar, dan jaringan produksi.
Pada akhirnya, kekuatan Global South tidak hanya ditentukan oleh besarnya populasi atau sumber daya alam. Faktor yang lebih penting adalah kemampuan negara-negara tersebut membangun kepercayaan, memperkuat konektivitas ekonomi, dan menghasilkan kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Di tengah ketidakpastian global, persatuan negara berkembang dapat menjadi instrumen untuk menciptakan sistem ekonomi yang lebih inklusif dan tangguh. Bagi Indonesia, diplomasi melalui BRICS menjadi salah satu jalur untuk memperjuangkan kepentingan pembangunan sekaligus mendorong kerja sama menghadapi tantangan bersama, termasuk perubahan iklim dan ketahanan ekonomi.
