
KATURI NEWS – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mendorong negara-negara anggota brics memperkuat kerja sama di bidang industrialisasi.
Selain itu, hal itu juga mencakup rantai pasok global. Selanjutnya, hal itu berdampak pada rantai pasok global.
Selain itu menurut Prabowo, kolaborasi antarnegara seperti brics jadi langkah penting menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia.
Hal ini juga meningkatkan daya saing negara Global South.
Oleh karena itu, gagasan tersebut sejalan dengan posisi Indonesia yang semakin aktif dalam aliansi brics.
Indonesia resmi menjadi anggota penuh kelompok tersebut pada awal 2025. Kemudian mengikuti KTT 2025 di Rio de Janeiro, Brasil.
Dalam forum itu, Prabowo menekankan pentingnya kelompok tersebut berperan sebagai kekuatan.
Selain itu, tujuan utamanya adalah memperjuangkan kepentingan negara berkembang dalam tata kelola global.
Prabowo menilai kerja sama industri tidak cukup hanya dilakukan melalui perdagangan komoditas.
Selain itu, negara-negara brics perlu membangun kapasitas produksi, teknologi, investasi, serta jaringan pasokan yang lebih kuat.
Dengan demikian, negara berkembang tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah.
Namun, mereka mampu memperoleh nilai tambah melalui pengolahan dan pengembangan industri di dalam negeri.
Pandangan tersebut relevan dengan kebijakan hilirisasi yang selama ini menjadi salah satu fokus ekonomi Indonesia.
Oleh karena itu, pemerintah berupaya meningkatkan pengolahan sumber daya mineral agar menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi.
Selain itu, kerja sama internasional dinilai dapat memperluas akses terhadap teknologi, pembiayaan, pasar, dan keahlian industri.
Selanjutnya, akses tersebut dibutuhkan untuk mempercepat proses tersebut.
Indonesia memiliki sejumlah sumber daya strategis yang dapat mendukung agenda itu.
Termasuk nikel, timah, batu bara, emas, serta berbagai mineral yang dibutuhkan dalam perkembangan teknologi modern.
Selain itu, Pemerintah juga tengah mendorong pengembangan mineral kritis dan unsur tanah jarang.
Ini adalah bagian dari strategi untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Selain mineral, potensi Indonesia juga terdapat pada sektor energi. Kehutanan juga menjadi bagian penting dari potensi tersebut.
Selain itu, pengembangan energi terbarukan dapat menjadi bagian dari transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Sementara hutan tropis memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Mereka juga menyerap karbon.
Namun, pemanfaatan sumber daya alam juga menghadirkan tantangan. Selain itu, perubahan iklim, bencana alam, dan tekanan terhadap lingkungan dapat memengaruhi pembangunan ekonomi dalam jangka panjang. Karena itu, industri brics perlu dilakukan dengan memperhatikan keberlanjutan dan manfaat sosial bagi masyarakat.
Kerja sama rantai pasok menjadi semakin penting.
Oleh karena itu, gangguan perdagangan internasional dapat berdampak langsung terhadap produksi dan investasi.
Selain itu, dalam deklarasi brics sebelumnya, negara-negara anggota menekankan pentingnya ketahanan rantai produksi dan pasokan.
Selain itu, keterhubungan rantai tersebut mendukung pemulihan ekonomi dan perdagangan global.
Selanjutnya, bagi Indonesia, penguatan kerja sama BRICS dapat menjadi peluang untuk memperluas mitra ekonomi.
Selain itu, hal ini memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan internasional.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan instrumen perdagangan komoditas strategis untuk memperkuat posisi negara.
Instrumen itu memberi Indonesia pengaruh lebih besar dalam menentukan nilai dan arah perdagangan sumber daya miliknya.
Dengan pendekatan tersebut, industrialisasi diharapkan tidak berhenti.
Selain itu, tidak berhenti pada peningkatan produksi.
Selain itu, ia mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat teknologi nasional, meningkatkan investasi.
Oleh karena itu, nilai tambah bagi perekonomian tercipta.
Selain itu, kolaborasi antarnegara brics pada akhirnya dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan rantai pasok.
Untuk membangun rantai pasok yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan bagi negara berkembang.
