
KATURI HEALTH – Kebiasaan buang air kecil sering dianggap sebagai aktivitas sederhana yang tidak memerlukan perhatian khusus. Namun, bagi pria, cara dan posisi saat berkemih dapat memengaruhi kenyamanan serta proses pengosongan kandung kemih, terutama ketika memasuki usia lanjut.
Spesialis urologi dari Bethsaida Hospital, dr Boyke Budiman Sumantri, SpU, menyarankan pria untuk tidak selalu buang air kecil dalam posisi berdiri. Menurutnya, posisi duduk atau jongkok dinilai lebih anatomis dan dapat membantu proses pengeluaran urine.
“Yang penting adalah pada saat kencing, usahakan jangan sering berdiri. Karena posisi kencing yang terbaik adalah posisi duduk atau jongkok, baik untuk pria dan wanita,” ujar Boyke.
Anjuran tersebut berkaitan dengan proses pengosongan kandung kemih. Ketika seseorang buang air kecil, otot kandung kemih harus berkontraksi sementara saluran urine mengalami relaksasi agar urine dapat keluar dengan baik. Posisi tubuh tertentu dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengosongkan kandung kemih secara optimal.
Sejumlah penelitian mengenai posisi berkemih pada pria menunjukkan bahwa posisi duduk dapat membantu mengurangi sisa urine pada sebagian pria, terutama mereka yang mengalami gejala saluran kemih bagian bawah. Namun, hasil penelitian tidak berarti bahwa semua pria wajib duduk saat buang air kecil atau bahwa posisi berdiri secara langsung menyebabkan penyakit prostat.
Hal yang perlu diperhatikan adalah kesehatan prostat memang cenderung menjadi persoalan yang lebih umum seiring bertambahnya usia. Pembesaran prostat jinak atau benign prostatic hyperplasia (BPH), misalnya, dapat menekan saluran urine dan menyebabkan berbagai keluhan, seperti pancaran urine melemah, sulit memulai buang air kecil, sering terbangun pada malam hari untuk berkemih, hingga muncul sensasi kandung kemih belum sepenuhnya kosong.
Karena itu, perubahan kebiasaan buang air kecil dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk meningkatkan kenyamanan, tetapi tidak dapat dianggap sebagai metode untuk mencegah atau menyembuhkan pembesaran prostat.
Selain memperhatikan posisi, pria juga sebaiknya tidak terbiasa menahan urine terlalu lama. Kebutuhan buang air kecil sebaiknya tidak terus-menerus diabaikan. Asupan cairan pun perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan kondisi masing-masing individu.
Jika muncul perubahan pola berkemih yang berlangsung terus-menerus, seperti nyeri saat kencing, urine berdarah, pancaran urine semakin lemah, sulit mengeluarkan urine, atau frekuensi buang air kecil meningkat secara signifikan, pemeriksaan ke dokter diperlukan.
Pada akhirnya, posisi duduk atau jongkok saat buang air kecil dapat menjadi pilihan yang nyaman bagi pria, terutama untuk membantu proses pengosongan kandung kemih. Namun, kesehatan saluran kemih dan prostat tidak ditentukan oleh posisi berkemih saja. Faktor usia, kondisi prostat, fungsi kandung kemih, pola hidup, serta adanya penyakit tertentu juga perlu diperhatikan.
Dengan memahami kebiasaan berkemih yang sehat dan mengenali tanda-tanda gangguan sejak dini, pria dapat lebih waspada terhadap kesehatan saluran kemih tanpa terjebak pada anggapan bahwa satu kebiasaan tertentu dapat mencegah seluruh masalah prostat.
