
KATURI HEALTH – Selama bertahun-tahun, kanker identik sebagai penyakit yang menyerang kelompok lanjut usia. Risiko penyakit ini memang meningkat seiring bertambahnya umur karena akumulasi kerusakan sel dan perubahan genetik dalam tubuh. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti menemukan tren yang mengkhawatirkan, yaitu meningkatnya jumlah kasus kanker pada kelompok usia muda, terutama mereka yang berusia 20 hingga awal 40 tahun.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu negara, tetapi juga dilaporkan di berbagai belahan dunia, termasuk Singapura. Sejumlah penelitian menunjukkan peningkatan kasus kanker dengan awitan dini (early-onset cancer), terutama pada usia di bawah 50 tahun. Jenis kanker yang paling sering ditemukan antara lain kanker kolorektal, kanker payudara, kanker tiroid, kanker darah, serta beberapa jenis kanker saluran pencernaan.
Peningkatan kasus tersebut mendorong dunia medis untuk mencari penyebab yang mendasarinya. Hingga kini, para ahli meyakini tidak ada satu faktor tunggal yang menjadi pemicu. Sebaliknya, kondisi ini diduga merupakan hasil kombinasi antara faktor genetik, lingkungan, serta perubahan gaya hidup modern.
Pola makan menjadi salah satu aspek yang paling banyak diteliti. Konsumsi makanan tinggi gula, lemak jenuh, daging olahan, serta makanan ultra-proses dalam jangka panjang diduga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko beberapa jenis kanker, khususnya kanker usus besar. Sebaliknya, rendahnya konsumsi serat, buah, dan sayuran juga dapat memengaruhi kesehatan saluran pencernaan.
Selain pola makan, obesitas dan kurangnya aktivitas fisik turut dianggap sebagai faktor penting. Kelebihan berat badan dapat memicu peradangan kronis dan perubahan hormon yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan sel abnormal. Gaya hidup sedentari, seperti terlalu lama duduk dan minim olahraga, juga dikaitkan dengan peningkatan risiko sejumlah jenis kanker.
Paparan polusi udara, asap rokok, konsumsi alkohol, hingga gangguan kualitas tidur juga sedang menjadi perhatian para peneliti. Meski hubungan sebab akibatnya masih terus dipelajari, berbagai faktor tersebut diduga berkontribusi terhadap meningkatnya angka kanker pada usia muda.
Di sisi lain, kemajuan teknologi medis juga membuat kanker lebih mudah ditemukan dibandingkan beberapa dekade lalu. Pemeriksaan pencitraan yang lebih canggih, meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melakukan skrining, serta akses terhadap layanan kesehatan membantu dokter mendeteksi kanker pada stadium yang lebih dini. Artinya, sebagian peningkatan kasus juga dapat dipengaruhi oleh kemampuan diagnosis yang semakin baik.
Meningkatnya jumlah pasien usia muda melahirkan pendekatan medis baru yang dikenal sebagai adolescent and young adult oncology (AYA Oncology). Cabang ilmu ini berfokus pada penanganan pasien kanker berusia sekitar 15 hingga 39 tahun yang memiliki kebutuhan berbeda dibandingkan pasien anak maupun lansia.
Kelompok usia ini umumnya masih berada pada masa produktif, sedang menempuh pendidikan, membangun karier, atau merencanakan keluarga. Oleh karena itu, pengobatan tidak hanya bertujuan mengatasi kanker, tetapi juga mempertimbangkan kualitas hidup, kesehatan mental, kesuburan, hingga peluang kembali bekerja atau bersekolah setelah terapi selesai.
Para ahli menekankan bahwa peningkatan kasus kanker pada usia muda bukan berarti setiap anak muda memiliki risiko tinggi terkena kanker. Sebagian besar tetap memiliki peluang hidup sehat apabila menerapkan gaya hidup seimbang, menghindari rokok dan alkohol, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang tidak biasa, seperti penurunan berat badan tanpa sebab, perdarahan, benjolan yang menetap, atau perubahan pola buang air besar yang berlangsung lama.
Kesadaran untuk mengenali gejala sejak dini menjadi kunci penting. Semakin cepat kanker terdeteksi, semakin besar peluang keberhasilan pengobatan dan kualitas hidup pasien dapat dipertahankan.
