
KATURI NEWS – Platform berbagi video YouTube kembali menjadi sorotan setelah sejumlah pengguna mengungkapkan bahwa konten tidak pantas atau Not Safe For Work (NSFW) masih dapat ditemukan dengan relatif mudah. Isu ini mencuat setelah seorang pengguna Reddit dengan nama u/coreynj membagikan temuannya mengenai keberadaan video eksplisit yang telah ditonton jutaan kali dan berasal dari jaringan akun yang saling terhubung.
Dalam unggahan yang ramai dibahas, u/coreynj menyebutkan bahwa beberapa klip NSFW di YouTube memiliki jumlah penayangan yang sangat tinggi. Bahkan, salah satu kanal yang memuat konten serupa diklaim memiliki lebih dari 200.000 pelanggan, angka yang tergolong besar untuk kanal yang diduga melanggar pedoman komunitas. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai efektivitas sistem moderasi konten yang diterapkan oleh YouTube.
Lebih lanjut, u/coreynj mengungkapkan bahwa akun-akun tersebut tampak saling terhubung satu sama lain. Pola keterkaitan ini memunculkan dugaan adanya aktivitas terkoordinasi, termasuk kemungkinan penggunaan akun bot untuk meningkatkan jumlah penonton dan visibilitas video. Jika dugaan ini benar, maka permasalahan yang dihadapi YouTube tidak hanya sebatas pelanggaran konten, tetapi juga menyangkut manipulasi sistem platform.
Dalam postingan yang sama, disebutkan pula bahwa pengguna dapat menemukan video eksplisit dengan menggunakan kata kunci tertentu, salah satunya “mmd r18”. Temuan ini dikutip oleh media teknologi Android Authority pada Kamis (1/1/2026). Fakta bahwa pencarian sederhana dapat mengarah pada konten semacam ini menimbulkan kekhawatiran, terutama karena YouTube digunakan oleh berbagai kalangan usia.
Tidak hanya video tunggal, masalah lain yang disoroti adalah keberadaan playlist yang berisi kumpulan konten NSFW. Playlist tersebut disebut-sebut menghubungkan banyak video tidak pantas tanpa sensor yang jelas, sehingga memudahkan pengguna untuk mengakses lebih banyak konten serupa dalam satu waktu. Hal ini dinilai bertentangan dengan kebijakan YouTube yang secara tegas melarang konten pornografi dan eksplisit.
Sejumlah pengguna menilai bahwa algoritma rekomendasi YouTube turut berperan dalam memperparah situasi. Ketika satu video berhasil lolos dari moderasi, algoritma berpotensi terus menyarankan konten serupa, sehingga jangkauan video tersebut semakin luas. Kondisi ini dinilai berbahaya karena dapat membuka akses konten tidak pantas kepada pengguna yang seharusnya dilindungi.
Hingga kini, YouTube memang telah memiliki sistem pelaporan dan moderasi otomatis, namun kasus ini menunjukkan bahwa masih terdapat celah yang bisa dimanfaatkan. Banyak pengguna berharap pihak YouTube dapat meningkatkan pengawasan, memperketat penyaringan kata kunci, serta menindak tegas jaringan akun yang terindikasi melanggar aturan.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa tantangan moderasi konten di platform berskala global seperti YouTube tidaklah sederhana. Dengan jutaan video diunggah setiap hari, keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan perlindungan pengguna menjadi isu yang terus membutuhkan perhatian serius.
