
KATURI NEWS – Perayaan Paskah di Gereja Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga, Jakarta, pada tahun 2026 tampil dengan nuansa yang berbeda dan penuh makna mendalam. Tidak hanya menjadi momentum refleksi spiritual atas kebangkitan Yesus Kristus, perayaan tahun ini menjadi panggung besar bagi kampanye pelestarian lingkungan hidup dan apresiasi terhadap kekayaan budaya nasional melalui Wastra Nusantara.
Melalui tema yang diangkat, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) ingin menegaskan bahwa iman kristiani tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab menjaga alam dan menghargai identitas bangsa.
Pertobatan Ekologis: Menjaga Bumi sebagai Rumah Bersama
Humas Keuskupan Agung Jakarta dan Gereja Katedral, Susyana Suwadie, dalam keterangannya pada Jumat (3/4/2026), menjelaskan bahwa konsep dekorasi dan rangkaian acara Paskah tahun ini merujuk pada Arah Dasar (Ardas) KAJ yang kelima. Fokus utamanya adalah kepedulian terhadap keutuhan alam ciptaan.
Gereja Katedral mengajak seluruh umat untuk melakukan apa yang disebut sebagai “Pertobatan Ekologis”. Istilah ini merujuk pada perubahan gaya hidup dan pola pikir yang lebih ramah lingkungan sebagai bentuk syukur atas ciptaan Tuhan. Dalam praktiknya, Katedral Jakarta mengimplementasikan hal ini melalui penggunaan material dekorasi yang berkelanjutan. Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan pemanfaatan elemen-elemen alam yang dapat didaur ulang menjadi pemandangan utama di area gereja.
Langkah ini merupakan respon nyata terhadap tantangan krisis iklim global. Dengan menjadikan bumi sebagai “Rumah Kita Bersama”, umat diingatkan bahwa merusak alam sama saja dengan merusak ruang hidup bagi generasi mendatang.
Wastra Nusantara sebagai Identitas Spiritual
Selain pesan lingkungan, Paskah 2026 di Katedral Jakarta juga sangat kental dengan nuansa tradisional. Gereja secara khusus menonjolkan Wastra Nusantara—kain tradisional khas Indonesia—dalam berbagai elemen perayaan. Penggunaan batik, tenun, dan berbagai kain adat lainnya dari seluruh penjuru tanah air menghiasi sudut-sudut gereja, mulai dari dekorasi altar hingga busana yang dikenakan oleh petugas liturgi.
Susyana menekankan bahwa Katedral berupaya keras untuk terus mendukung dan mencintai warisan budaya bangsa. Pengintegrasian wastra dalam momen religius ini memiliki dua tujuan utama:
- Pelestarian Budaya: Mengajak generasi muda untuk tetap bangga dan mengenakan kain tradisional dalam acara-acara sakral.
- Dukungan Ekonomi Lokal: Mengapresiasi karya para perajin kain di daerah-daerah yang telah menjaga teknik menenun dan membatik secara turun-temurun.
Perpaduan antara arsitektur neo-gotik Katedral yang megah dengan warna-warni kain tenun menciptakan visualisasi kebhinekaan yang harmonis. Hal ini mencerminkan semangat “Gereja yang Menasional”, di mana iman Katolik berakar kuat dan tumbuh subur dalam tanah budaya Indonesia.
Inovasi Perayaan dalam Kesederhanaan
Meskipun mengusung tema yang kuat mengenai lingkungan dan budaya, perayaan Paskah di Katedral tetap menekankan kekhusyukan dan kesederhanaan. Panitia Paskah tahun ini memastikan bahwa setiap ornamen yang dipasang memiliki cerita dan makna. Misalnya, penggunaan sisa-sisa kain perca dari wastra yang dirangkai sedemikian rupa menjadi seni instalasi yang artistik di halaman gereja.
Langkah ini membuktikan bahwa kemeriahan hari raya tidak harus selalu identik dengan pemborosan atau penggunaan bahan-bahan sintetis yang merusak lingkungan. Kreativitas dalam mengolah bahan alam dan kain tradisional justru memberikan nilai estetika yang lebih tinggi dan berkarakter.
Harapan bagi Umat dan Masyarakat
Melalui perayaan Paskah 2026, Katedral Jakarta berharap pesan mengenai kepedulian alam dan cinta budaya tidak hanya berhenti di lingkungan gereja saja. Umat diharapkan membawa semangat “Pertobatan Ekologis” tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari, seperti mulai mengurangi limbah rumah tangga, menanam pohon, atau mendukung produk-produk lokal berkelanjutan.
Paskah tahun ini menjadi pengingat bahwa kebangkitan Kristus juga berarti kebangkitan kepedulian kita terhadap sesama makhluk hidup dan alam semesta. Dengan merawat bumi dan mencintai budaya sendiri, umat manusia sejatinya sedang memuliakan Sang Pencipta yang telah memberikan kekayaan alam dan keberagaman yang luar biasa bagi bangsa Indonesia.
Katedral Jakarta telah memberikan contoh bagaimana tradisi agama dapat berjalan beriringan dengan isu-isu kontemporer, menjadikan perayaan iman sebagai katalisator bagi perubahan sosial dan lingkungan yang lebih baik.
