
KATURI NEWS – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,9 mengguncang wilayah Minahasa Utara, Sulawesi Utara, pada Jumat pagi, 22 Mei 2026, sekitar pukul 09.05 Wita. Getaran gempa dirasakan cukup kuat oleh warga dan pengunjung hotel di sejumlah wilayah sekitar pusat guncangan. Salah satu lokasi yang terdampak kepanikan adalah Hotel Sutanraja Maumbi, tempat para tamu berhamburan keluar gedung untuk menyelamatkan diri.
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, gempa terjadi pada pukul 09.05.09 Wita dengan pusat gempa berada di wilayah Laut Maluku. Guncangan yang terasa cukup kuat membuat banyak warga panik dan segera mencari area terbuka demi menghindari risiko bangunan runtuh atau gempa susulan.
Situasi kepanikan sempat terjadi di Hotel Sutanraja Maumbi saat getaran mulai dirasakan. Sejumlah pengunjung terlihat berlari menuruni tangga hotel, sementara beberapa tamu lainnya meninggalkan aktivitas sarapan pagi dan langsung menuju halaman terbuka di depan bangunan hotel. Evakuasi spontan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan dampak yang lebih besar.
Salah seorang pengunjung hotel mengaku terkejut ketika guncangan terjadi secara tiba-tiba. Ia memilih segera meninggalkan ruang makan dan berlari keluar gedung demi keselamatan. Menurutnya, getaran terasa cukup kuat sehingga membuat para tamu dan staf hotel panik dalam beberapa menit pertama setelah gempa terjadi.
Meski sempat menimbulkan kepanikan, kondisi di lokasi berangsur normal setelah sekitar lima menit. Para pengunjung kemudian kembali memasuki gedung hotel setelah situasi dinilai aman dan tidak ada tanda-tanda kerusakan serius. Hingga beberapa saat setelah kejadian, aktivitas di area hotel mulai kembali berjalan normal meskipun sebagian warga masih terlihat waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Gempa bumi merupakan fenomena alam yang cukup sering terjadi di wilayah Indonesia karena letaknya berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Kawasan ini dikenal memiliki aktivitas tektonik tinggi akibat pertemuan beberapa lempeng bumi aktif, termasuk Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Sulawesi Utara sendiri termasuk daerah yang cukup rawan gempa karena berada dekat dengan jalur sesar aktif dan wilayah pertemuan lempeng.
Hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa maupun kerusakan besar akibat gempa tersebut. Namun, pihak terkait terus melakukan pemantauan untuk memastikan kondisi masyarakat dan infrastruktur di wilayah terdampak tetap aman. BMKG juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi, terutama terkait isu tsunami atau gempa susulan.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk selalu memahami langkah mitigasi bencana gempa bumi. Saat terjadi guncangan, warga disarankan segera menjauh dari benda-benda yang berpotensi jatuh, tidak menggunakan lift, dan menuju area terbuka jika memungkinkan. Setelah gempa berhenti, masyarakat juga diminta memeriksa kondisi bangunan sebelum kembali masuk untuk menghindari risiko kecelakaan akibat kerusakan struktur.
Peristiwa gempa di Minahasa Utara ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam di Indonesia. Kesadaran masyarakat terhadap prosedur evakuasi dan keselamatan menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko korban saat gempa terjadi. Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan terus meningkatkan edukasi kebencanaan agar masyarakat lebih siap menghadapi situasi darurat di masa mendatang.
