
KATURI NEWS – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid telah mengeluarkan Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 yang menegaskan tanggal-tanggal penting ibadah dalam kalender Islam 1447 H/2026 M. Penetapan ini dilakukan lebih awal berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai rujukan.
đź“… Daftar Tanggal Penting:
- 1 Ramadan 1447 H — Rabu, 18 Februari 2026
Muhammadiyah menyatakan bahwa posisi bulan telah memenuhi syarat hisab hakiki untuk menandai awal bulan puasa. - 1 Syawal 1447 H / Idul Fitri — Jumat, 20 Maret 2026
Hari Raya Idul Fitri diperkirakan jatuh setelah 30 hari Ramadan berdasarkan perhitungan astronomis. - 10 Zulhijah 1447 H / Idul Adha — Rabu, 27 Mei 2026
Muhammadiyah juga menetapkan Hari Raya Idul Adha lebih awal menggunakan pendekatan hisab.
Ketiga tanggal tersebut diumumkan secara resmi oleh PP Muhammadiyah sebagai pedoman bagi warga persyarikatan dan komunitas Muslim yang mengikuti metode hisab hakiki.
📌 Metode Hisab Hakiki dan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)
Penetapan tanggal ibadah oleh Muhammadiyah berbeda dengan pendekatan yang dipakai pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU). Berikut perbedaan utamanya:
📍 Muhammadiyah:
- Menggunakan hisab hakiki wujudul hilal, yaitu perhitungan astronomis berdasarkan posisi bulan dan matahari yang dihitung secara ilmiah.
- Mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang dirancang untuk menghasilkan kalender Islam yang seragam dan konsisten secara global.
- Penetapan tanggal dilakukan jauh hari sebelum terjadinya rukyatul hilal (pengamatan hilal) yang biasanya dilakukan menjelang Ramadan atau Syawal.
📍 Pemerintah & Nahdlatul Ulama (NU):
- Pemerintah Indonesia biasanya menentukan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha melalui sidang isbat setelah melakukan rukyatul hilal dan hisab, sebagaimana diatur melalui fatwa MUI dan Kementerian Agama.
- NU melalui Lembaga Falakiyah PBNU juga mengombinasikan hisab dengan rukyatul hilal langsung di berbagai lokasi.
- Hasilnya kerap diumumkan lebih dekat dengan tanggal-tanggal tersebut dibandingkan penetapan awal oleh Muhammadiyah.
đź§ Mengapa Muhammadiyah Menetapkan Lebih Awal?
Menurut PP Muhammadiyah, penetapan awal Ramadan dan hari-hari besar Islam lebih cepat dilakukan karena perhitungan hisab hakiki dengan KHGT memberikan kepastian berdasarkan data astronomis. Ini membantu umat Islam—terutama dalam komunitas Muhammadiyah—untuk merencanakan ibadah dan aktivitas sosial keagamaan secara lebih efektif tanpa menunggu hasil rukyatul hilal. Unhas
📊 Implikasi Bagi Umat
Karena perbedaan metode ini, tanggal awal Ramadan, Idul Fitri, atau Idul Adha yang ditetapkan oleh Muhammadiyah bisa berbeda dengan yang diumumkan pemerintah atau NU. Hal ini menjadi perhatian oleh masyarakat karena beberapa komunitas bisa memulai ibadah puasa atau merayakan hari raya pada hari yang berbeda tergantung rujukan kalender yang mereka ikuti.
