
KATURI NEWS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan kritik terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait respons Israel terhadap nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani Amerika Serikat dengan Iran. Trump menilai Netanyahu tidak memiliki dasar yang kuat untuk terus mengkritik kesepakatan tersebut, mengingat sejumlah peristiwa kerja sama keamanan di masa lalu antara kedua negara.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 pada Rabu, 17 Juni 2026. Dalam konferensi pers yang berlangsung di sela-sela pertemuan para pemimpin negara ekonomi terbesar dunia tersebut, Trump menyinggung kembali operasi militer Amerika Serikat yang menewaskan Komandan Pasukan Quds Iran, Qassem Soleimani, pada awal 2020.
Menurut Trump, Israel pada awalnya terlibat dalam perencanaan operasi tersebut. Namun, menjelang pelaksanaan misi, Israel memutuskan untuk tidak ikut serta sehingga Amerika Serikat harus menjalankan operasi itu secara mandiri.
Trump mengatakan seluruh persiapan telah dilakukan dan operasi berada pada tahap akhir sebelum akhirnya pihak Israel menarik diri. Ia menyebut keputusan untuk melanjutkan serangan kemudian sepenuhnya berada di tangan pemerintah Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu kritik paling terbuka yang kembali diarahkan Trump kepada Netanyahu dalam beberapa waktu terakhir. Trump mengisyaratkan bahwa hubungan kerja sama keamanan antara Washington dan Tel Aviv selama ini tidak selalu berjalan sesuai harapan Amerika Serikat.
Operasi yang menewaskan Soleimani pada Januari 2020 menjadi salah satu tindakan militer paling signifikan yang dilakukan pemerintahan Trump terhadap Iran. Soleimani saat itu merupakan salah satu tokoh militer paling berpengaruh di Iran dan memimpin Pasukan Quds, unit elite yang bertanggung jawab atas operasi luar negeri Korps Garda Revolusi Islam Iran.
Kematian Soleimani memicu ketegangan besar di kawasan Timur Tengah. Iran merespons dengan serangan rudal terhadap pangkalan militer yang menampung pasukan Amerika Serikat di Irak. Peristiwa tersebut sempat meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap kemungkinan terjadinya konflik terbuka antara kedua negara.
Dalam konteks terbaru, komentar Trump muncul setelah adanya kesepakatan baru antara Amerika Serikat dan Iran yang dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman. Meski rincian lengkap kesepakatan tersebut belum dijelaskan secara luas dalam pernyataan Trump, langkah tersebut memicu berbagai reaksi, termasuk dari pemerintah Israel yang selama ini dikenal memiliki sikap keras terhadap Iran.
Israel secara konsisten menganggap Iran sebagai salah satu ancaman utama terhadap keamanan nasionalnya. Oleh karena itu, setiap bentuk pendekatan diplomatik antara Washington dan Teheran kerap mendapat perhatian khusus dari pemerintah Israel.
Melalui pernyataannya di KTT G7, Trump tampaknya ingin mengingatkan bahwa Amerika Serikat telah mengambil sejumlah keputusan penting terkait Iran, termasuk operasi terhadap Soleimani, bahkan ketika dukungan penuh dari sekutu tidak tersedia. Dengan mengungkit kembali peristiwa tersebut, Trump berusaha menegaskan peran dominan Amerika Serikat dalam menentukan kebijakan keamanannya sendiri.
Pernyataan Trump diperkirakan akan kembali memicu diskusi mengenai hubungan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu isu paling sensitif dalam politik internasional. Selain itu, komentar tersebut juga menunjukkan bahwa dinamika hubungan antara Washington dan Tel Aviv tetap menjadi faktor penting dalam berbagai kebijakan yang berkaitan dengan Timur Tengah.
