
KATURI NEWS – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa perekonomian global diperkirakan kembali menguat pada 2027 setelah menghadapi tekanan dan ketidakpastian sepanjang 2026. Proyeksi tersebut sejalan dengan perkiraan sejumlah lembaga internasional, termasuk Dana Moneter Internasional (IMF) dan Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).
Dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-3 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026–2027 di Jakarta, Kamis, Purbaya mengatakan konflik di Timur Tengah masih menjadi salah satu faktor yang membayangi pertumbuhan ekonomi dan perdagangan dunia. Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran turut memengaruhi kondisi energi, perdagangan, serta stabilitas perekonomian global.
Dampak konflik terutama terlihat pada pasar energi dan jalur perdagangan. Gangguan terhadap kawasan Timur Tengah dapat meningkatkan harga minyak serta biaya transportasi dan produksi. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar tekanan inflasi dan membuat kebijakan bank sentral di berbagai negara menjadi lebih sulit. IMF mencatat bahwa perekonomian dunia sejauh ini relatif mampu menahan dampak guncangan energi, tetapi risiko tetap tinggi apabila konflik kembali meningkat.
Meski demikian, prospek 2027 menunjukkan adanya peluang pemulihan. Dalam pembaruan World Economic Outlook Juli 2026, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,0 persen pada 2026 dan meningkat menjadi 3,4 persen pada 2027. IMF menyebut investasi dan perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), menjadi salah satu faktor yang membantu menopang aktivitas ekonomi dunia di tengah tekanan akibat konflik.
OECD juga memperkirakan pertumbuhan global akan membaik pada 2027 dalam skenario gangguan energi yang berlangsung terbatas. Lembaga tersebut memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 2,8 persen pada 2026 sebelum meningkat menjadi 3,1 persen pada 2027. Namun, OECD mengingatkan bahwa proyeksi tersebut sangat bergantung pada perkembangan konflik dan pemulihan aktivitas energi serta perdagangan di kawasan Teluk.
Kendati terdapat peluang penguatan ekonomi, risiko tetap perlu diperhatikan. IMF memperingatkan bahwa eskalasi konflik dapat kembali mendorong volatilitas harga komoditas, memperketat kondisi keuangan global, dan menekan negara-negara yang memiliki ruang fiskal terbatas. Negara pengimpor energi menjadi kelompok yang relatif rentan terhadap kenaikan harga minyak dan gangguan pasokan.
Selain faktor geopolitik, perkembangan teknologi menjadi salah satu sumber optimisme bagi ekonomi global. Investasi yang berkaitan dengan AI dan peningkatan produktivitas dapat memberikan dorongan terhadap pertumbuhan, terutama bagi negara yang mampu terintegrasi dalam rantai pasok teknologi. Namun, manfaat tersebut tidak akan tersebar secara merata karena setiap negara memiliki tingkat kesiapan teknologi dan struktur ekonomi yang berbeda.
Dengan demikian, proyeksi penguatan ekonomi global pada 2027 bukan berarti risiko telah berakhir. Pemulihan tetap bergantung pada stabilitas geopolitik, normalisasi perdagangan dan energi, pengendalian inflasi, serta kemampuan pemerintah menjaga ketahanan fiskal. Bagi Indonesia, perkembangan ekonomi dunia tersebut menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi perdagangan, harga komoditas, investasi, dan stabilitas perekonomian nasional.
