
KATURI NEWS – Puluhan biksu dari berbagai majelis dan komunitas Buddhis mengikuti prosesi pengambilan air berkah di Umbul Jumprit, Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE/2026. Tradisi ini merupakan salah satu agenda sakral yang setiap tahun dilaksanakan menjelang puncak peringatan Waisak dan memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Buddha.
Ketua Umum Biksu Samanta Kusala Mahasthavira menyampaikan bahwa pengambilan air berkah merupakan salah satu rangkaian utama dalam menyambut Hari Raya Waisak. Air yang diambil dari sumber mata air alami Umbul Jumprit nantinya akan digunakan dalam berbagai prosesi keagamaan yang berlangsung pada perayaan Waisak.
Umbul Jumprit dikenal sebagai salah satu sumber mata air yang memiliki nilai historis dan spiritual bagi umat Buddha di Indonesia. Lokasinya berada di kawasan pegunungan yang sejuk di wilayah Temanggung dan selama bertahun-tahun menjadi tempat pelaksanaan ritual pengambilan air suci menjelang Waisak. Air dari sumber tersebut dipercaya melambangkan kemurnian, ketenangan, dan kebijaksanaan, nilai-nilai yang sejalan dengan ajaran Buddha.
Prosesi pengambilan air berkah berlangsung dengan khidmat. Para biksu mengenakan jubah khas berwarna safron dan memanjatkan doa-doa sebelum air diambil dari sumber mata air. Seluruh tahapan ritual dilakukan sesuai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kehadiran para biksu serta umat Buddha yang mengikuti prosesi menciptakan suasana religius yang penuh penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual.
Dalam ajaran Buddha, air sering dimaknai sebagai simbol kesucian batin dan kehidupan. Oleh karena itu, ritual pengambilan air berkah bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi pengingat bagi umat untuk senantiasa menjaga pikiran, ucapan, dan perbuatan yang baik. Momentum ini dimanfaatkan sebagai sarana refleksi diri menjelang perayaan Waisak yang memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Siddhartha Gautama, yaitu kelahiran, pencapaian pencerahan, dan wafat atau parinibbana.
Setelah diambil dari Umbul Jumprit, air berkah biasanya dibawa menuju kompleks Candi Borobudur yang menjadi pusat perayaan Waisak nasional. Di sana, air tersebut akan digunakan dalam rangkaian ritual keagamaan bersama api Dharma yang juga menjadi simbol penting dalam perayaan Waisak. Kedua unsur tersebut melambangkan kesucian, penerangan batin, serta harapan akan kehidupan yang damai dan harmonis.
Perayaan Waisak tidak hanya menjadi momen keagamaan bagi umat Buddha, tetapi juga memiliki nilai budaya yang kuat. Berbagai rangkaian kegiatan yang dilaksanakan menjelang hari raya menunjukkan kekayaan tradisi serta keberagaman budaya Indonesia. Prosesi pengambilan air berkah di Umbul Jumprit menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi keagamaan dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui kegiatan ini, umat Buddha diharapkan dapat semakin memperkuat nilai-nilai toleransi, kedamaian, kasih sayang, dan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari. Prosesi pengambilan air berkah di Umbul Jumprit pun kembali menegaskan pentingnya menjaga tradisi spiritual yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang perayaan Waisak di Indonesia. Dengan berlangsungnya ritual tersebut, rangkaian menuju Hari Raya Waisak 2570 BE/2026 semakin mendekati puncaknya dan menjadi momentum refleksi bagi umat Buddha untuk memperdalam ajaran Dharma serta mempererat persaudaraan antarumat.
