
KATURI NEWS – Sejumlah lembaga pemantau cuaca dan iklim dunia mengeluarkan peringatan terkait perkembangan fenomena El Nino yang diperkirakan akan semakin menguat pada tahun 2026. Berdasarkan berbagai model prakiraan terbaru, fenomena tersebut berpotensi menjadi salah satu yang paling kuat, bahkan mungkin melampaui rekor yang pernah tercatat sebelumnya.
Salah satu peringatan datang dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF), lembaga meteorologi terkemuka yang rutin memantau kondisi atmosfer dan lautan global. Dalam proyeksi terbaru mereka, suhu permukaan laut di kawasan Samudra Pasifik ekuator bagian tengah diperkirakan meningkat hingga sekitar 3 derajat Celsius di atas rata-rata normal pada Desember 2026. Beberapa simulasi bahkan menunjukkan kemungkinan kenaikan suhu lebih dari 4 derajat Celsius.
El Nino merupakan fenomena iklim yang terjadi ketika suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis mengalami pemanasan yang lebih tinggi dari kondisi normal. Perubahan suhu ini dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai belahan dunia, mulai dari perubahan curah hujan hingga peningkatan risiko cuaca ekstrem.
Para ilmuwan menilai bahwa besarnya anomali suhu yang diperkirakan terjadi pada akhir tahun 2026 perlu menjadi perhatian serius. Semakin tinggi kenaikan suhu laut, semakin besar pula potensi dampak yang dapat dirasakan oleh berbagai negara. Dalam banyak kasus, El Nino kuat sering dikaitkan dengan musim kemarau yang lebih panjang, meningkatnya risiko kekeringan, serta berkurangnya ketersediaan air di sejumlah wilayah.
Bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, fenomena El Nino biasanya membawa dampak berupa penurunan curah hujan di bawah normal. Kondisi tersebut dapat memengaruhi sektor pertanian, perkebunan, hingga pasokan air bersih. Selain itu, risiko kebakaran hutan dan lahan juga cenderung meningkat ketika musim kering berlangsung lebih lama dibandingkan biasanya.
Di sisi lain, beberapa wilayah di Amerika Selatan dan Amerika Utara justru berpotensi mengalami peningkatan curah hujan yang signifikan. Curah hujan berlebih dapat memicu banjir, tanah longsor, dan gangguan terhadap aktivitas ekonomi maupun transportasi. Dampak El Nino memang tidak seragam di seluruh dunia, namun hampir selalu memengaruhi sistem iklim global dalam skala besar.
Fenomena El Nino kuat sebelumnya pernah terjadi pada tahun 1982-1983, 1997-1998, dan 2015-2016. Ketiga periode tersebut tercatat menyebabkan berbagai gangguan iklim di banyak negara, mulai dari kekeringan parah hingga bencana hidrometeorologi. Oleh karena itu, prediksi bahwa El Nino 2026 dapat menyamai atau bahkan melampaui intensitas peristiwa terdahulu menjadi perhatian utama para peneliti.
Pemerintah di berbagai negara kini mulai mempersiapkan langkah mitigasi guna mengurangi dampak yang mungkin terjadi. Upaya tersebut meliputi pengelolaan sumber daya air, peningkatan kesiapsiagaan sektor pertanian, serta penguatan sistem peringatan dini terhadap kebakaran hutan dan cuaca ekstrem.
Meskipun prakiraan iklim masih dapat berubah seiring perkembangan kondisi atmosfer dan laut dalam beberapa bulan mendatang, para ahli menekankan pentingnya kewaspadaan sejak dini. Persiapan yang matang dinilai menjadi kunci untuk mengurangi risiko kerugian akibat dampak El Nino yang berpotensi sangat kuat. Dengan pemantauan yang terus dilakukan oleh lembaga-lembaga cuaca dunia, masyarakat dan pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah antisipatif sebelum fenomena tersebut mencapai puncaknya pada akhir tahun 2026.
