
KATURI NEWS – Situasi keamanan di Selat Hormuz kembali memanas setelah dilaporkan setidaknya dua kapal terkena tembakan saat melintasi perairan tersebut pada Sabtu (18/4). Informasi ini disampaikan oleh sumber maritim dan pelayaran kepada Reuters, yang memantau perkembangan di kawasan tersebut.
Berdasarkan data pelacakan maritim, terdapat delapan kapal tanker yang tengah melakukan transit di Selat Hormuz pada saat insiden terjadi. Jumlah ini disebut sebagai pergerakan terbesar kapal tanker sejak konflik bersenjata di Iran pecah pada 28 Februari 2026. Peningkatan aktivitas ini sebelumnya sempat dianggap sebagai tanda pemulihan terbatas setelah adanya upaya deeskalasi di kawasan.
Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Setelah sempat dibuka selama beberapa jam, militer Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu pagi waktu setempat. Penutupan ini meningkatkan kekhawatiran global, mengingat selat tersebut merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Insiden penembakan terhadap kapal menambah risiko bagi keselamatan pelayaran internasional. Meski belum ada rincian resmi mengenai identitas kapal atau tingkat kerusakan yang ditimbulkan, peristiwa ini menunjukkan bahwa situasi di lapangan masih sangat tidak stabil. Para pelaku industri pelayaran pun dihadapkan pada ketidakpastian tinggi terkait keamanan jalur distribusi energi.
Selat Hormuz memiliki posisi strategis karena menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan pasar global. Setiap gangguan di wilayah ini hampir selalu berdampak langsung pada harga minyak dunia dan rantai pasok energi internasional. Oleh karena itu, penutupan kembali jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga serta gangguan distribusi dalam waktu singkat.
Perkembangan ini juga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran dan sejumlah negara lain. Sebelumnya, sempat muncul harapan stabilitas setelah adanya gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Namun, insiden terbaru ini menunjukkan bahwa risiko konflik yang lebih luas masih belum sepenuhnya mereda.
Para analis menilai bahwa situasi di Selat Hormuz akan terus menjadi perhatian utama komunitas internasional. Selain menyangkut keamanan regional, kondisi ini juga berkaitan erat dengan stabilitas ekonomi global, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
