
KATURI SPORT – Manajemen Dewa United FC akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan rencana menempuh jalur hukum terkait insiden kericuhan dalam laga melawan Bhayangkara FC. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk upaya menjaga situasi tetap kondusif di lingkungan kompetisi.
Insiden tersebut terjadi usai pertandingan dalam ajang Elite Pro Academy U-20 musim 2025/2026. Kericuhan melibatkan pemain dan staf pelatih dari kedua tim, dipicu oleh ketidakpuasan terhadap kepemimpinan wasit selama pertandingan berlangsung. Situasi yang awalnya berupa protes berkembang menjadi aksi saling dorong hingga tindakan kekerasan di lapangan.
Sorotan utama dalam insiden ini adalah aksi tendangan yang disebut-sebut menyerupai “kungfu” yang dilakukan oleh pemain Bhayangkara FC, Fadly Alberto Hengga. Aksi tersebut menjadi viral di media sosial dan memicu reaksi keras dari publik. Namun, kejadian itu bukan satu-satunya, karena beberapa pemain dari kedua kubu juga dilaporkan terlibat dalam tindakan serupa.
Sebelumnya, Presiden klub Dewa United, Ardian Satya Negara, sempat menyampaikan kekecewaannya atas insiden tersebut. Ia menilai bahwa tindakan kekerasan tidak seharusnya terjadi, apalagi dalam kompetisi usia muda yang seharusnya menjunjung tinggi sportivitas dan pembinaan karakter pemain.
Pihak Dewa United bahkan sempat mempertimbangkan langkah hukum sebagai bentuk respons tegas terhadap kejadian tersebut. Namun, dalam perkembangan terbaru, manajemen memilih untuk membatalkan rencana tersebut. Keputusan ini diduga berkaitan dengan upaya penyelesaian secara internal melalui mekanisme yang ada di federasi sepak bola.
Langkah ini juga dapat dilihat sebagai upaya meredam eskalasi konflik antar tim, sekaligus menjaga citra kompetisi yang sedang berjalan. Penanganan melalui jalur organisasi dinilai lebih tepat dalam konteks olahraga, di mana sanksi disiplin biasanya diberikan oleh otoritas liga atau federasi.
Insiden ini kembali menjadi pengingat akan pentingnya pengendalian emosi di lapangan, terutama bagi pemain muda yang masih dalam tahap pembinaan. Selain itu, kualitas kepemimpinan wasit juga menjadi perhatian, mengingat keputusan-keputusan di lapangan dapat memicu reaksi dari pemain dan ofisial tim.
Ke depan, diharapkan semua pihak dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini. Kompetisi usia muda seperti Elite Pro Academy memiliki peran penting dalam membentuk generasi pesepak bola profesional, sehingga nilai-nilai sportivitas, disiplin, dan respek harus tetap menjadi prioritas utama.
