
KATURI NEWS – Amerika Serikat (AS) mengambil langkah besar untuk memperluas pengaruhnya terhadap sektor energi Venezuela. Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut tengah mendorong kerja sama dengan Venezuela dan sejumlah perusahaan swasta yang berpotensi memberikan AS kendali mayoritas atas produksi minyak dari cadangan terbukti negara tersebut.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi Washington untuk memperkuat posisi di kawasan Amerika Latin sekaligus mengamankan pasokan minyak mentah bagi kebutuhan energi AS dalam jangka panjang. Berdasarkan informasi yang dikutip Bloomberg pada Sabtu (29/8), kesepakatan tersebut diumumkan Trump melalui platform Truth Social.
Dalam pengumumannya, Trump menyatakan kerja sama dengan Presiden sementara Venezuela, Delcy RodrÃguez, serta pihak swasta akan memberikan kendali mayoritas AS atas lebih dari 65 miliar barel cadangan minyak terbukti Venezuela. Jumlah tersebut menjadikan Venezuela sebagai salah satu negara dengan sumber daya minyak terbesar di dunia.
Jika terealisasi sesuai rencana, kesepakatan tersebut dapat melahirkan perusahaan minyak swasta dengan basis cadangan yang sangat besar. Struktur perusahaan patungan itu juga berpotensi mengubah peta persaingan industri energi global karena AS memperoleh akses langsung terhadap sumber daya minyak Venezuela dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Seorang pejabat AS menyebut Washington akan memiliki sekitar 55 persen dari produksi efektif perusahaan patungan tersebut. Selain memperoleh posisi dominan dalam produksi, AS juga disebut akan mendapatkan minyak mentah dengan harga pokok.
Keuntungan tersebut dapat memberikan nilai strategis bagi AS. Akses terhadap minyak Venezuela memungkinkan perusahaan-perusahaan Amerika memperoleh sumber pasokan yang lebih dekat secara geografis dibandingkan sejumlah pemasok dari kawasan lain. Hal ini berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap jalur pasokan minyak yang lebih panjang dan rentan terhadap gangguan geopolitik.
Kesepakatan tersebut juga tidak terlepas dari persaingan AS dengan China. Dalam beberapa tahun terakhir, China telah memperluas hubungan ekonomi dan investasinya di Venezuela, termasuk di sektor energi. Washington kini berupaya memperkuat kembali pengaruhnya di kawasan yang secara historis dianggap memiliki kepentingan strategis bagi AS.
Trump mengaitkan kebijakan tersebut dengan Doktrin Monroe, prinsip kebijakan luar negeri AS yang diperkenalkan pada abad ke-19. Doktrin itu secara historis menekankan penolakan terhadap campur tangan kekuatan eksternal di kawasan Amerika.
Bagi Venezuela, kerja sama dengan perusahaan Amerika dapat membuka akses terhadap investasi, teknologi, dan pasar yang dibutuhkan untuk mengembangkan kembali industri minyaknya. Namun, besarnya kepemilikan dan kendali yang diberikan kepada pihak AS juga berpotensi menimbulkan perdebatan mengenai kedaulatan ekonomi Venezuela.
Rencana tersebut pada akhirnya akan menjadi ujian bagi hubungan AS dan Venezuela. Jika berhasil diwujudkan, kerja sama ini bukan hanya berdampak pada industri minyak kedua negara, tetapi juga dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan ekonomi dan geopolitik di Amerika Latin.
