
KATURI NEWS – Eskalasi kekerasan kembali melanda Jalur Gaza pada hari Minggu. Serangkaian serangan udara dan tembakan artileri yang dilancarkan oleh militer Israel mengakibatkan sedikitnya delapan warga Palestina tewas, termasuk dua anak-anak. Korban jiwa yang terus berjatuhan ini menjadi sorotan tajam karena terjadi tidak lama setelah diumumkannya kesepakatan untuk memulai pelaksanaan tahap berikutnya dari rencana gencatan senjata di kawasan tersebut.
Salah satu insiden paling mematikan terjadi di wilayah Gaza selatan. Sumber medis dari Rumah Sakit Nasser di Kota Khan Younis mengonfirmasi bahwa serangan udara Israel menghantam sebuah unit apartemen pemukiman di kawasan Al-Qarara, yang terletak di bagian barat laut kota tersebut. Dampak dari ledakan langsung tersebut menyebabkan tiga orang tewas di tempat dan tiga warga lainnya mengalami luka-luka.
Berdasarkan kesaksian para warga lokal di lokasi kejadian, pemukiman yang diserang merupakan kediaman milik keluarga Al-Hams. Tragedi tersebut merenggut nyawa satu keluarga, yaitu Mahmoud Zaki Al-Hams yang berusia 38 tahun, istrinya Fatima Al-Hams yang berusia 37 tahun, serta putri mereka yang masih balita. Jenazah para korban langsung dievakuasi oleh petugas medis dan warga sekitar menuju Rumah Sakit Nasser.
Tidak berhenti di wilayah barat laut Khan Younis, gempuran militer juga dilaporkan terjadi di titik lain. Laporan dari sumber-sumber lokal menyebutkan bahwa artileri militer Israel turut menggempur kawasan Dar Al-Salam yang berada di pusat Kota Khan Younis. Meskipun dentuman keras dan kerusakan infrastruktur dilaporkan terjadi di kawasan pemukiman tersebut, hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa maupun luka-luka akibat tembakan artileri di Dar Al-Salam.
Rangkaian serangan di berbagai titik Jalur Gaza pada hari yang sama menambah panjang daftar korban sipil yang gugur. Total delapan nyawa melayang dalam kurun waktu singkat, mempertegas betapa rapuhnya situasi keamanan di lapangan saat ini.
Kejadian ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak, mengingat jatuhnya korban jiwa terjadi bersamaan dengan momentum diplomasi. Pengumuman mengenai komitmen pelaksanaan tahap selanjutnya dalam rencana gencatan senjata seharusnya menjadi sinyal positif menuju penhentian kekerasan secara menyeluruh. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa ketegangan senjata belum sepenuhnya mereda.
Serangan yang terus berulang di tengah proses negosiasi damai ini menambah ketidakpastian bagi warga sipil di Jalur Gaza. Krisis kemanusiaan dan ketakutan akan serangan susulan masih menyelimuti kehidupan sehari-hari masyarakat di tengah janji-janji kesepakatan politik yang belum sepenuhnya terwujud secara nyata di lapangan.
