
KATURI BUSINESS – Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi memproyeksikan penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan harga minyak mentah dunia masih akan berlanjut pada pekan depan. Kondisi tersebut dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, terutama konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur yang terus memicu ketidakpastian pasar global.
Menurut Ibrahim, situasi geopolitik yang belum stabil membuat investor cenderung mencari aset aman atau safe haven. Dalam kondisi seperti itu, dolar AS biasanya menjadi pilihan utama karena dianggap memiliki tingkat keamanan yang lebih tinggi dibandingkan mata uang lainnya.
“Jadi ada indikasi bahwa dolar Amerika ini akan mengalami penguatan,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis pada Minggu (10/5).
Penguatan dolar AS dinilai tidak terlepas dari meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap perkembangan konflik internasional. Ketegangan di Timur Tengah dinilai berpotensi mengganggu jalur distribusi energi dunia, sementara konflik di Eropa Timur masih memberikan tekanan terhadap stabilitas ekonomi global. Kombinasi kedua faktor tersebut mendorong pelaku pasar lebih berhati-hati dalam menempatkan investasi.
Selain dolar AS, harga minyak mentah dunia juga diprediksi mengalami kenaikan. Ibrahim memperkirakan minyak mentah jenis West Texas Intermediate atau WTI masih bergerak dalam tren positif dengan level support di kisaran USD 92,90 per barel dan resistance mencapai USD 113 per barel.
Ia menilai potensi kenaikan harga minyak terjadi karena adanya kekhawatiran terganggunya pasokan energi global. Negara-negara produsen minyak di kawasan Timur Tengah memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas suplai energi dunia. Ketika konflik meningkat, pasar akan langsung merespons dengan kenaikan harga karena adanya risiko distribusi minyak terganggu.
“Jadi ada indikasi harga minyak minggu depan itu akan menguat kembali di USD 113,” kata Ibrahim.
Kenaikan harga minyak mentah biasanya berdampak luas terhadap ekonomi global. Negara-negara pengimpor minyak berpotensi menghadapi peningkatan biaya energi yang dapat memicu inflasi. Di sisi lain, negara pengekspor minyak dapat memperoleh keuntungan dari naiknya harga komoditas tersebut.
Bagi Indonesia, penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak menjadi tantangan tersendiri. Nilai tukar rupiah berpotensi mengalami tekanan apabila dolar terus menguat. Kondisi tersebut dapat memengaruhi biaya impor, termasuk bahan baku industri dan kebutuhan energi.
Selain itu, kenaikan harga minyak dunia juga dapat berdampak terhadap anggaran subsidi energi pemerintah. Jika harga minyak terus meningkat dalam waktu lama, pemerintah kemungkinan harus menyesuaikan kebijakan fiskal guna menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Pelaku pasar saat ini juga menantikan sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, termasuk kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve. Apabila suku bunga tetap tinggi, dolar AS diperkirakan semakin kuat karena investor global cenderung menempatkan dana di instrumen keuangan berbasis dolar.
Di tengah situasi global yang belum menentu, investor disarankan tetap mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi internasional. Fluktuasi harga komoditas dan pergerakan mata uang diperkirakan masih akan berlangsung dinamis dalam beberapa waktu ke depan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar keuangan global masih sangat dipengaruhi faktor eksternal, terutama konflik geopolitik dan kebijakan ekonomi negara-negara besar. Selama ketidakpastian masih tinggi, volatilitas di pasar mata uang dan energi diprediksi tetap terjadi.
