
KATURI SPORT – Perjalanan Dewa United di AFC Challenge League (ACGL) 2025/26 harus terhenti di babak perempat final setelah gagal mengatasi perlawanan Manila Digger FC. Klub asal Banten tersebut tersingkir setelah bermain imbang 2-2 pada leg kedua yang berlangsung di Indomilk Arena pada Kamis (12/3). Hasil tersebut membuat Dewa United kalah agregat 2-3 dari wakil Filipina tersebut.
Pertandingan leg kedua berlangsung dengan tensi cukup tinggi. Dewa United yang berstatus tuan rumah berusaha tampil agresif sejak awal laga untuk mengejar ketertinggalan dari leg pertama. Namun, Manila Digger FC mampu memberikan perlawanan yang seimbang sepanjang pertandingan.
Skor akhir 2-2 membuat harapan Dewa United untuk melaju ke babak semifinal harus pupus. Dengan agregat keseluruhan 2-3, wakil Indonesia tersebut tidak mampu membalikkan keadaan setelah sebelumnya mengalami kekalahan pada pertemuan pertama di Manila.
Pelatih Dewa United, Jan Olde Riekerink, mengungkapkan rasa kecewa setelah pertandingan berakhir. Pelatih asal Belanda tersebut menilai timnya sebenarnya telah mempersiapkan diri dengan cukup baik setelah mempelajari permainan lawan dari pertandingan sebelumnya.
Riekerink mengatakan bahwa tim pelatih telah melakukan analisis menyeluruh terhadap performa Manila Digger, terutama setelah leg pertama yang digelar di Filipina. Namun demikian, menurutnya pertandingan tetap berjalan sulit karena lawan memiliki karakter permainan yang cukup kuat.
Selain menyoroti jalannya pertandingan, Riekerink juga menyinggung komposisi pemain yang dimiliki Manila Digger FC. Ia menyatakan bahwa sebagian besar pemain yang tampil di tim lawan berasal dari Gambia.
Menurutnya, pada pertandingan tersebut Manila Digger menurunkan sembilan pemain asal negara Afrika Barat tersebut. Hal ini menjadi salah satu aspek yang menarik perhatian pelatih Dewa United karena menunjukkan betapa beragamnya komposisi skuad yang dimiliki klub Filipina itu.
Pernyataan tersebut disampaikan Riekerink sebagai bagian dari analisisnya terhadap pertandingan. Ia menyebut bahwa keberadaan banyak pemain asing dengan latar belakang sepak bola yang berbeda turut memengaruhi gaya bermain tim lawan di lapangan.
Meski demikian, Riekerink tidak secara langsung menjadikan hal tersebut sebagai alasan kekalahan timnya. Ia tetap menekankan bahwa Dewa United merasa kecewa karena gagal melanjutkan perjalanan di kompetisi Asia tersebut.
AFC Challenge League sendiri merupakan salah satu turnamen antarklub di Asia yang mempertemukan klub dari berbagai negara anggota Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Kompetisi ini memberikan kesempatan bagi klub-klub dari liga yang sedang berkembang untuk bersaing di level internasional.
Bagi Dewa United, partisipasi di ACGL 2025/26 menjadi pengalaman penting dalam mengukur kemampuan tim di kancah Asia. Meski harus terhenti di perempat final, tim tersebut telah menjalani beberapa pertandingan yang memberikan pengalaman berharga bagi para pemain maupun staf pelatih.
Hasil ini juga menjadi evaluasi bagi Dewa United untuk memperbaiki berbagai aspek permainan ke depan. Persaingan di level Asia menuntut konsistensi, kualitas permainan, serta kedalaman skuad yang mumpuni agar mampu bersaing dengan klub dari negara lain.
Sementara itu, Manila Digger FC berhak melangkah ke babak semifinal setelah memastikan keunggulan agregat atas wakil Indonesia tersebut. Keberhasilan ini menjadi pencapaian tersendiri bagi klub Filipina itu dalam perjalanan mereka di kompetisi AFC Challenge League musim ini.
Dengan tersingkirnya Dewa United, wakil Indonesia di turnamen tersebut pun berkurang. Tim asal Banten tersebut kini harus kembali fokus pada kompetisi domestik serta mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan pada musim berikutnya.
Kegagalan di ACGL 2025/26 diharapkan dapat menjadi pelajaran penting bagi Dewa United untuk meningkatkan performa tim, sehingga di masa depan mereka dapat tampil lebih kompetitif ketika kembali mendapat kesempatan berlaga di kompetisi Asia.
