
KATURI NEWS – Belakangan ini banyak kabupaten di Sumatera — termasuk Humbang Hasudutan, Agam, Mandailing Natal, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara — dilanda banjir bandang dan longsor. Pemerintah melalui Badan Geologi memberi penjelasan ilmiah terkait penyebab utama bencana ini.
Menurut Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, ada tiga faktor utama yang mendorong terjadinya banjir dan longsor besar di Sumatera saat ini
1. Curah Hujan Tinggi hingga Ekstrem — Faktor Dominan
Faktor paling signifikan adalah intensitas hujan yang sangat tinggi selama periode tertentu. Hujan ekstrem ini menyebabkan volume air meningkat drastis, sehingga sungai meluap, daerah hilir kebanjiran, dan tekanan air pada lereng-lereng tanah meningkat — memicu longsor.
Kondisi cuaca ekstrem ini tidak muncul secara sendirian. Menurut penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), salah satu pemicunya adalah keberadaan Bibit Siklon 95B yang sejak 21 November 2025 terdeteksi di perairan timur Aceh dan Selat Malaka — mempengaruhi wilayah Aceh, Sumut, hingga Sumbar — menyebabkan hujan lebat dan angin kencang.
2. Kondisi Geomorfologi: Lereng Curam & Struktur Alam Rentan
Selain faktor cuaca, karakteristik alam di banyak bagian Sumatera memperburuk kerentanan terhadap longsor. Banyak daerah terdampak berada di kawasan perbukitan dengan kemiringan lereng “curam hingga sangat curam” — artinya tanah dan batuan di lereng ini lebih mudah terguncang jika terjadi hujan lebat.
Saat hujan ekstrem terjadi, air hujan cepat meresap dan mengalir ke bawah, menambah beban pada lereng, sehingga kemungkinan longsor meningkat. Menurut Badan Geologi, daerah dengan morfologi seperti ini harus mendapat perhatian serius.
3. Litologi: Jenis Tanah dan Batuan Mudah Tererosi dan Jenuh Air
Faktor ketiga yang disebut adalah kondisi “litologi — batuan/tanah yang lapuk atau mudah tererosi.” Tanah atau batuan yang lapuk umumnya memiliki daya tahan rendah terhadap tekanan air. Saat hujan deras, lapisan tanah ini mudah jenuh air, kehilangan kekuatannya, dan akhirnya longsor pun terjadi.
Kombinasi antara hujan ekstrem, kemiringan lereng, serta litologi rawan erosi membuat daerah tertentu di Sumatera sangat rentan terhadap longsor dan banjir bandang.
Ancaman Ganda: Bukan Sekadar Banjir, tapi Longsor dan Gerakan Tanah
Berdasarkan peta zonasi kerentanan, banyak lokasi di sekitar daerah terdampak termasuk dalam zona “potensi gerakan tanah menengah–tinggi.” Sebagai contoh, wilayah sekitar Kota Sibolga disebut memiliki risiko cukup besar terhadap longsor jika curah hujan ekstrem dan kondisi alam mendukung.
Dengan demikian, bencana yang terjadi bukan hanya sekadar banjir. Banyak penduduk menghadapi ancaman longsor atau tanah longsor di lereng curam — yang sering kali datang tiba-tiba ketika hujan deras terus berlangsung.
Upaya Mitigasi: Apa yang Dianjurkan Badan Geologi?
Sebagai respons terhadap bencana, Badan Geologi dan Kementerian ESDM menyarankan beberapa langkah penting untuk mengurangi dampak bencana di masa mendatang:
- Edukasi masyarakat di desa-desa rawan bencana — terutama tentang tanda-tanda awal longsor, pentingnya jalur evakuasi, dan bagaimana merespons jika kondisi memburuk.
- Revitalisasi vegetasi di lereng — pepohonan dan tumbuhan dapat membantu memperkuat struktur tanah, menahan erosi, dan menyerap sebagian air hujan.
- Pengendalian tata guna lahan: pembatasan pembukaan lahan baru di lereng curam, menghindari pembangunan pemukiman di zona rawan longsor, serta memastikan drainase yang baik agar air hujan bisa mengalir aman.
- Perbaikan struktur drainase permukaan — agar air hujan tidak menggenang atau meresap secara berbahaya ke lereng.
Langkah-langkah ini menjadi fondasi penting mitigasi, terutama dalam konteks perubahan iklim yang makin membuat kejadian cuaca ekstrem lebih sering.
Menatap ke Depan: Pentingnya Kesiapsiagaan & Kolaborasi
Tragedi banjir dan longsor di Sumatera bukan sekadar peristiwa alam — melainkan kombinasi dari faktor cuaca, kondisi geologi, dan penggunaan lahan yang kurang memperhatikan aspek risiko. Penjelasan dari Badan Geologi menegaskan bahwa curah hujan ekstrem hanyalah pemicu dominan; kerentanan alam dan struktur tanah juga tak kalah penting.
Di masa mendatang, upaya mitigasi harus melibatkan berbagai pihak — pemerintah pusat dan daerah, komunitas setempat, serta para pemangku kepentingan (misalnya perencana tata ruang, ahli geologi, hingga masyarakat desa). Kesadaran akan bahaya, kesiapan evakuasi, serta kebijakan tata ruang yang bijak bisa menjadi pijakan untuk meminimalisir risiko bencana serupa.
Semoga dengan pemahaman ini, tragedi banjir dan longsor bisa ditekan — dan keselamatan warga menjadi prioritas utama.

1 thought on “Banjir & Longsor Melanda Sumatera: Apa Kata Badan Geologi?”