
KATURI NEWS – Berikut lima fakta penting terkait skandal besar yang melibatkan Chen Zhi, bos konglomerat Prince Holding Group (juga dikenal sebagai Prince Group) yang dituduh memainkan peran sentral dalam skema penipuan kripto jenis “pig butchering” atau “sembelih babi”.
1. Siapa Chen Zhi dan Prince Holding Group
Chen Zhi (kadang disebut “Vincent”) adalah pemimpin dan chairman dari perusahaan Prince Holding Group yang berbasis di Kamboja serta beroperasi melalui banyak anak usaha di lebih dari 30 negara.
- Perusahaan ini dikemas sebagai grup bisnis yang bergerak di bidang real estate, layanan finansial, dan konsumer.
- Namun, otoritas AS menyatakan bahwa Prince Group berfungsi sebagai kedok untuk jaringan kriminal global yang melakukan penipuan kripto besar-besaran.
- Kasus ini menunjuk bahwa Chen Zhi menggunakan koneksi politik dan pejabat beberapa negara untuk melindungi operasinya.
2. Modus Operandi “Pig Butchering” dalam Skema Ini
Istilah “pig butchering” (bahasa Mandarin: “sha zhu pan” 刷猪盘) merujuk pada modus penipuan di mana korban diformat sebagai “babi” yang digemukkan melalui hubungan palsu, janji keuntungan investasi, sebelum akhirnya “disembelih” (diperas atau dirampok seluruh-nya).
Dalam kasus Chen Zhi dan Prince Group:
- Jaringan dikenal menggunakan “fraud compounds” atau kamp penipuan di Kamboja, di mana pekerja—terkadang korban dari perdagangan manusia—dipaksa menjalankan pusat panggilan, media sosial, dan aplikasi untuk memikat korban investasi.
- Proses penipuan melibatkan tahap membangun kepercayaan lewat chat atau aplikasi kencan, lalu diperkenalkan ke platform investasi kripto palsu yang dikendalikan pelaku. Akhirnya, ketika korban ingin menarik dana, akses diblokir atau dana lenyap.
3. Skala Kerugian dan Penyitaan Rekor
- Pemerintah AS melalui United States Department of Justice (DOJ) menyita sekitar 127.271 bitcoin, senilai kira-kira US$15 miliar dalam kasus ini — menjadi salah satu penyitaan terbesar dalam sejarah kripto.
- Skema ini disebut telah menghasilkan hingga US$30 juta per hari dalam puncaknya menurut dokumen penuntutan.
- Selain itu, aset dalam bentuk properti mewah (di Inggris dan aset lainnya) ikut dibekukan sebagai bagian dari tindakan penegakan.
4. Unsur Kejahatan Tambahan: Pekerja Paksa & Pencucian Uang
Kasus ini tak hanya tentang penipuan investasi — tapi juga melibatkan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terorganisir:
- Kamp-kamp penipuan di Kamboja dijaga dengan tembok tinggi, kawat berduri, dan pekerja yang dipaksa bekerja—terkadang di bawah ancaman kekerasan.
- Chen Zhi dan jaringan Prince Group dituduh menyuap pejabat, menggunakan perusahaan cangkang, dan memakai teknik canggih seperti “spraying” dan “funneling” dalam mata uang digital untuk mencuci uang hasil penipuan.
5. Dampak Global & Implikasi bagi Investor
- Kasus ini menjadi titik balik karena menunjukkan bahwa penipuan kripto jenis pig butchering sudah masuk ke skala global dan melibatkan ribuan korban lintas negara.
- Regulasi dan tindakan penegakan kini semakin intensif terhadap model penipuan seperti ini — ini peringatan bagi investor agar lebih berhati-hati terhadap tawaran investasi yang “terlalu bagus untuk jadi kenyataan”.
- Dari sudut perlindungan konsumen, penggunaan aplikasi kencan atau chat sebagai pintu masuk penipuan kini makin diperhatikan. Skema ini bisa menimpa siapa saja yang aktif di media sosial atau aplikasi kencan.
Penutup
Kasus Chen Zhi dan Prince Holding Group menyorot bagaimana teknologi kripto, hubungan sosial daring, dan kejahatan terorganisir dapat menyatu menjadi skema penipuan besar-besaran. Bagi masyarakat umum di Indonesia atau Singapura, ini menjadi pengingat penting untuk selalu:
- Memverifikasi identitas pihak yang menawarkan investasi kripto,
- Tidak mudah percaya pada janji keuntungan cepat melalui aplikasi kencan atau media sosial,
- Mengamati regulasi dan peringatan resmi dari otoritas keuangan setempat.
