
KATURI HEALTH – Belakangan ini, perbincangan di media sosial ramai membahas dua kondisi medis yang kerap dianggap saling berkaitan, yaitu serangan jantung dan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Perdebatan tersebut muncul karena kedua penyakit ini memiliki beberapa gejala yang tampak mirip, terutama nyeri dada dan rasa tidak nyaman di area ulu hati. Tak jarang, kesamaan gejala ini membuat masyarakat salah mengartikan kondisi yang dialami, sehingga berpotensi menunda penanganan medis yang seharusnya segera dilakukan.
Serangan jantung merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika aliran darah ke otot jantung terhambat atau terhenti. Hambatan ini umumnya disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah koroner akibat penumpukan plak lemak, kolesterol, dan zat lainnya. Ketika otot jantung kekurangan oksigen, sel-sel jantung mulai rusak, dan inilah yang menimbulkan rasa nyeri dada. Nyeri akibat serangan jantung sering digambarkan seperti dada tertekan, diremas, atau terasa berat, dan dapat menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, punggung, atau bahkan perut bagian atas.
Sementara itu, GERD adalah gangguan pada sistem pencernaan yang terjadi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan akibat melemahnya katup antara lambung dan kerongkongan (sfingter esofagus bawah). Kondisi ini menimbulkan sensasi panas di dada yang dikenal sebagai heartburn, rasa asam di mulut, mual, hingga nyeri ulu hati. Karena lokasinya berada di sekitar dada dan perut bagian atas, keluhan GERD sering kali disalahartikan sebagai masalah jantung.
Kesamaan utama antara serangan jantung dan GERD memang terletak pada gejala nyeri dada. Namun, mekanisme terjadinya sangat berbeda. Pada GERD, nyeri biasanya berkaitan dengan waktu makan, posisi tubuh (misalnya memburuk saat berbaring), dan dapat membaik setelah minum obat penetral asam. Sebaliknya, nyeri dada akibat serangan jantung dapat muncul secara tiba-tiba, berlangsung lebih lama, dan tidak selalu membaik dengan perubahan posisi atau obat lambung.
Faktor risiko kedua kondisi ini juga berbeda. Serangan jantung erat kaitannya dengan gaya hidup tidak sehat seperti merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi lemak, stres berkepanjangan, tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Sedangkan GERD lebih sering dipicu oleh kebiasaan makan berlebihan, konsumsi makanan pedas atau berlemak, minuman berkafein, obesitas, kehamilan, serta kebiasaan langsung berbaring setelah makan.
Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa seseorang dapat saja mengalami GERD dan penyakit jantung secara bersamaan. Pada kondisi tertentu, GERD dapat memicu nyeri dada yang menyerupai serangan jantung, sehingga pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis yang tepat. Mengabaikan nyeri dada dengan asumsi hanya masalah lambung bisa berakibat fatal jika ternyata penyebabnya adalah gangguan jantung.
Oleh karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala nyeri dada, terutama jika disertai dengan sesak napas, keringat dingin, pusing, atau rasa lelah yang tidak biasa. Gejala-gejala tersebut lebih mengarah pada serangan jantung dan memerlukan penanganan segera. Pemeriksaan oleh tenaga medis, seperti elektrokardiogram (EKG) atau tes penunjang lainnya, menjadi langkah penting untuk membedakan kedua kondisi ini secara akurat.
Kesimpulannya, meskipun serangan jantung dan GERD memiliki beberapa gejala yang mirip, keduanya adalah penyakit yang berbeda baik dari segi penyebab, mekanisme, maupun penanganannya. Edukasi yang tepat dan kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berujung pada keterlambatan diagnosis. Mengenali tubuh sendiri dan tidak ragu mencari bantuan medis adalah kunci utama untuk menjaga kesehatan dan mencegah risiko yang lebih serius.
