
Harga Bitcoin Terjun Bebas ke Level Terendah Sejak Juni 2025, Dipicu Memanasnya Perang Dagang AS-China
Harga Bitcoin (BTC) mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir, mencatat level terendah sejak Juni 2025. Penurunan ini didorong oleh eskalasi ketegangan geopolitik dan ekonomi global, terutama setelah Presiden Amerika Serikat (AS) mengumumkan kebijakan tarif baru sebesar 100% terhadap produk impor dari China. Keputusan tersebut tidak hanya mengguncang pasar saham global, tetapi juga menggoyang pasar aset digital yang selama ini dianggap sebagai salah satu alternatif investasi yang relatif tahan terhadap guncangan ekonomi tradisional.
Perang Dagang Kembali Memanas
Ketegangan dagang antara dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia ini kembali meningkat setelah AS memberlakukan tarif tambahan yang sangat tinggi terhadap berbagai komoditas dan produk manufaktur dari China. Presiden AS menyatakan bahwa langkah ini merupakan respons terhadap praktik perdagangan tidak adil yang dilakukan oleh China, termasuk dugaan subsidi besar-besaran kepada perusahaan-perusahaan lokal dan pelanggaran hak kekayaan intelektual.
Sebagai respons, pemerintah China menyatakan akan mengambil langkah balasan yang “kuat dan proporsional”, meskipun belum merinci kebijakan spesifik yang akan diambil. Ketidakpastian ini meningkatkan ketegangan global dan menciptakan gelombang kekhawatiran di pasar keuangan internasional, termasuk pasar kripto.
Dampak Langsung ke Harga Bitcoin
Sejak pengumuman tarif baru tersebut, harga Bitcoin merosot drastis. Dalam waktu kurang dari 48 jam, BTC kehilangan lebih dari 12% nilainya dan sempat menyentuh angka di bawah $22.000 — level terendah yang terakhir terlihat pada Juni 2025. Ini menjadi salah satu koreksi paling tajam dalam periode kuartalan terakhir, setelah sebelumnya Bitcoin sempat menguat hingga menyentuh $30.000 pada Agustus 2025.
Penurunan ini menghapus miliaran dolar kapitalisasi pasar dari pasar kripto secara keseluruhan. Altcoin seperti Ethereum (ETH), Solana (SOL), dan Cardano (ADA) juga mengalami tekanan jual masif yang memperparah situasi. Sebagian besar analis pasar menyebut bahwa penurunan ini bukan hanya akibat dari aksi jual teknikal, tetapi juga karena kepanikan investor yang mulai menarik dana dari aset berisiko tinggi dan beralih ke instrumen yang lebih aman seperti dolar AS, emas, dan obligasi pemerintah.
Sentimen Pasar yang Memburuk
Pasar kripto dikenal sangat sensitif terhadap sentimen global, terutama ketika menyangkut ketidakpastian kebijakan ekonomi makro. Keputusan AS untuk meningkatkan tarif dalam skala besar menciptakan kekhawatiran akan meluasnya dampak terhadap pertumbuhan ekonomi global. Investor khawatir bahwa perang dagang ini dapat memicu perlambatan ekonomi yang pada akhirnya berdampak pada minat terhadap aset digital.
Selain itu, ketidakpastian regulasi di sektor kripto sendiri semakin memperburuk situasi. Di tengah gejolak geopolitik, beberapa negara mulai mengetatkan pengawasan terhadap aktivitas kripto, menambah tekanan pada pasar yang memang sudah rentan terhadap volatilitas ekstrem.
Bitcoin Gagal Menjadi Safe Haven?
Selama beberapa tahun terakhir, Bitcoin kerap dipromosikan sebagai “emas digital”, yaitu aset yang bisa berperan sebagai penyimpan nilai ketika ketidakpastian ekonomi meningkat. Namun, situasi terbaru ini menunjukkan bahwa Bitcoin belum sepenuhnya mampu menjalankan fungsi tersebut secara konsisten. Alih-alih menguat, BTC justru ikut jatuh bersama pasar saham dan aset berisiko lainnya.
Sebagian analis menilai bahwa perilaku investor kripto masih sangat spekulatif, sehingga Bitcoin belum bisa dianggap sebagai aset safe haven sejati seperti emas. Volatilitas harga yang tinggi membuat banyak investor lebih memilih keluar dari pasar kripto ketika tekanan ekonomi memuncak.
Apa yang Bisa Terjadi Selanjutnya?
Meskipun kondisi saat ini tampak suram, beberapa analis percaya bahwa penurunan harga ini bersifat sementara dan bisa menjadi peluang akumulasi jangka panjang bagi investor yang memiliki pandangan positif terhadap teknologi blockchain dan adopsi kripto secara global. Namun demikian, jika perang dagang terus meningkat dan kebijakan moneter global semakin ketat, tekanan terhadap pasar kripto kemungkinan akan terus berlanjut dalam waktu dekat.
Investor disarankan untuk tetap berhati-hati, melakukan analisis yang cermat, dan tidak terburu-buru mengambil keputusan di tengah kondisi pasar yang sangat volatil. Kejelasan dari kebijakan dagang dan stabilitas geopolitik akan sangat menentukan arah pergerakan Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan dalam beberapa bulan ke depan.
