
KATURI NEWS – Tahun 2025 menjadi periode yang penuh gejolak bagi dunia internasional. Berbagai peristiwa besar terjadi hampir di semua kawasan, mulai dari perubahan kepemimpinan politik di negara adidaya, konflik bersenjata yang kembali memanas di Timur Tengah, hingga ketegangan geopolitik yang memengaruhi stabilitas global. Tahun ini menandai babak baru dalam tatanan dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian.
Salah satu peristiwa paling menyita perhatian global adalah kembalinya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Kemenangan Trump dalam pemilihan presiden menjadi simbol kebangkitan kembali politik populis di negara tersebut. Kepemimpinannya membawa perubahan signifikan dalam kebijakan luar negeri AS, termasuk pendekatan yang lebih keras terhadap China, peninjauan ulang hubungan dengan sekutu tradisional, serta sikap tegas dalam isu keamanan global. Langkah-langkah Trump memicu beragam reaksi, mulai dari dukungan kuat dari pendukungnya hingga kekhawatiran dari negara-negara mitra Amerika Serikat.
Di Timur Tengah, situasi keamanan kembali memburuk seiring pecahnya konflik terbuka antara Iran dan Israel. Ketegangan yang sebelumnya berlangsung dalam bentuk serangan tidak langsung dan perang bayangan akhirnya berubah menjadi konfrontasi militer yang lebih luas. Serangan balasan antar kedua negara memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik ke kawasan lain, termasuk keterlibatan aktor-aktor regional dan internasional. Perang Iran–Israel menjadi salah satu ancaman terbesar bagi stabilitas global pada 2025, terutama karena dampaknya terhadap keamanan energi dan perdagangan internasional.
Selain konflik tersebut, kawasan Eropa juga menghadapi tantangan serius. Perang di Eropa Timur yang belum sepenuhnya mereda terus menekan ekonomi regional dan memengaruhi hubungan antarnegara. Isu keamanan, arus pengungsi, serta ketergantungan energi menjadi topik utama dalam diplomasi Eropa sepanjang tahun. Negara-negara Uni Eropa berupaya memperkuat kerja sama internal di tengah tekanan geopolitik yang semakin besar.
Di kawasan Asia-Pasifik, ketegangan di sekitar Taiwan kembali meningkat. Aktivitas militer yang intens dan perang kata-kata antara pihak-pihak terkait membuat kawasan ini tetap menjadi titik panas dunia. Negara-negara di Asia Tenggara dan Indo-Pasifik berupaya menjaga keseimbangan diplomasi agar konflik tidak berkembang menjadi konfrontasi terbuka.
Sementara itu, isu ekonomi global juga menjadi perhatian utama pada 2025. Inflasi, ketidakpastian pasar, serta dampak konflik geopolitik terhadap rantai pasok global membuat banyak negara harus menyesuaikan kebijakan ekonominya. Negara berkembang menghadapi tantangan berat dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global.
Tahun 2025 juga diwarnai dengan meningkatnya perhatian terhadap isu perubahan iklim dan krisis kemanusiaan. Bencana alam ekstrem terjadi di berbagai belahan dunia, mempertegas urgensi kerja sama internasional dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Namun, konflik dan rivalitas politik kerap menghambat upaya kolektif tersebut.
Secara keseluruhan, 2025 tercatat sebagai tahun yang sarat dinamika dan ketegangan global. Kembalinya Donald Trump ke panggung politik dunia dan pecahnya perang Iran–Israel menjadi simbol era baru yang penuh tantangan. Dunia memasuki fase di mana diplomasi, stabilitas, dan kerja sama internasional diuji lebih keras dari sebelumnya.
