
KATURI NEWS – Sebuah peristiwa tak biasa menghebohkan publik setelah seorang wanita muda berinisial N tertangkap basah mengenakan atribut pramugari maskapai Batik Air dalam penerbangan dari Palembang menuju Jakarta, tepatnya menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, pada Selasa malam, 6 Januari 2026. Aksi tersebut dengan cepat menyita perhatian penumpang dan viral di media sosial.
Dalam sejumlah video yang beredar luas, N terlihat tampil meyakinkan layaknya seorang pramugari profesional. Ia mengenakan seragam khas Batik Air berwarna merah, dipadukan dengan kebaya putih ketat, rambut tersanggul rapi, serta membawa koper dan dua tas yang identik dengan perlengkapan awak kabin. Cara berjalan dan gestur tubuhnya pun terlihat percaya diri, menyerupai pramugari yang tengah bersiap menjalani tugas penerbangan.
Lenggak-lenggok Layaknya Awak Kabin
Aksi N menarik perhatian karena gerak-geriknya dinilai sangat menyerupai pramugari sungguhan. Dalam video tersebut, ia tampak berjalan di area bandara dengan tenang dan penuh percaya diri, seolah tidak ada rasa canggung sedikit pun. Beberapa warganet menyebut penampilannya nyaris sempurna dan sulit dibedakan dari awak kabin asli.
Tak sedikit penumpang yang awalnya mengira N memang merupakan pramugari Batik Air. Namun, kecurigaan mulai muncul ketika ia terlihat tidak berinteraksi dengan kru resmi maskapai dan bergerak sendiri seperti penumpang biasa.
Viral di Media Sosial
Rekaman video kejadian tersebut dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial dan menuai beragam reaksi dari warganet. Sebagian menganggap aksi tersebut nekat dan berbahaya, sementara lainnya mempertanyakan bagaimana N bisa lolos mengenakan atribut maskapai tanpa izin resmi.
Banyak warganet juga menyoroti potensi risiko keamanan penerbangan jika penyalahgunaan atribut maskapai dibiarkan. Seragam pramugari dinilai bukan sekadar pakaian, melainkan identitas resmi yang berkaitan erat dengan keselamatan dan keamanan penerbangan.
Aspek Keamanan Jadi Sorotan
Pengamat penerbangan menilai penggunaan atribut awak kabin oleh pihak yang tidak berwenang dapat menimbulkan kesalahpahaman di lingkungan bandara maupun pesawat. Dalam kondisi tertentu, hal ini berpotensi dimanfaatkan untuk mengakses area terbatas atau menimbulkan kepanikan di kalangan penumpang.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi apakah wanita tersebut sempat mengaku sebagai pramugari atau hanya mengenakan atribut tersebut tanpa maksud tertentu. Pihak berwenang dan maskapai terkait juga belum memberikan pernyataan resmi mengenai kemungkinan pelanggaran hukum atau sanksi yang dapat dikenakan.
Menjadi Pengingat Pentingnya Pengawasan
Insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap penggunaan atribut resmi maskapai, terutama di area bandara dan penerbangan. Identitas awak kabin memiliki peran vital dalam operasional penerbangan, sehingga penyalahgunaannya dapat berdampak serius.
Publik kini menunggu klarifikasi lebih lanjut dari pihak maskapai dan otoritas terkait untuk mengetahui motif di balik tindakan N serta langkah yang akan diambil agar kejadian serupa tidak terulang.
