
Hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat China kembali memasuki fase konfrontasi terbuka setelah Presiden Donald Trump menetapkan rencana pemberlakuan tarif tambahan hingga 100 persen terhadap barang-barang asal China. Pengumuman tersebut memicu kecaman keras dari Beijing, yang tidak segan menyatakan kesiapan untuk melawan sampai pengadilan terakhir apabila Washington terus memaksakan tekanan ekonomi.
Latar Belakang Eskalasi Terbaru
Ketegangan mulanya diperuncing oleh kebijakan China yang memperluas kontrol ekspor atas bahan-bahan kritis seperti rare earth (tanah jarang), yang banyak digunakan dalam sektor teknologi tinggi dan pertahanan. Trump menilai tindakan tersebut sebagai langkah agresif dan merugikan posisi Amerika dalam rantai pasok teknologi. Sebagai respons, ia mengumumkan bahwa AS akan mengenakan tarif tambahan 100 persen atas impor dari China, berlaku mulai 1 November 2025 atau bahkan lebih cepat. Langkah itu akan ditambah pembatasan ekspor perangkat lunak kritis dari AS ke China.
Menurut pemerintahan Trump, tarif 100 persen akan ditambahkan di atas tarif yang sudah diterapkan sebelumnya terhadap produk China. Ia menyebut bahwa China telah melakukan tindakan “belas kasihan luar biasa” terhadap perdagangan internasional. Dengan kata lain, sejumlah produk China mungkin akan dikenai tarif total yang sangat tinggi, tergantung pada tarif dasar yang berlaku sebelum tambahan ini.
Respons Beijing: Teguh dan Terukur
Pemerintah China menanggapinya dengan sinergi antara retorika dan tindakan. Kementerian Perdagangan China mengeluarkan pernyataan bahwa negara tersebut tidak menginginkan perang dagang, tetapi tidak gentar untuk melawannya bila dipaksa. Ia menuduh AS menggunakan “standar ganda” dan melakukan praktik diskriminatif dasar terhadap industri China. Beijing menegaskan bahwa apabila AS melanjutkan kebijakan tekanannya, China akan mengambil tindakan balasan yang tepat untuk melindungi kepentingan negara.
Salah satu langkah langsung yang segera diambil oleh China adalah pemberlakuan tarif pelabuhan (port fees) terhadap kapal-kapal yang terkait Amerika Serikat. Sejak 14 Oktober 2025, kapal yang dimiliki, dioperasikan, dibangun, atau berbendera Amerika akan dikenai tarif 400 yuan per ton bersih per perjalanan, dengan kenaikan bertahap sampai 1.120 yuan pada 2028. Kebijakan ini merupakan jawaban atas langkah simetris AS yang juga mengenakan bea pelabuhan terhadap kapal China.
Langkah lain yang menambah ketegangan adalah kebijakan ekspor kontrol China atas teknologi yang berkaitan dengan bahan baku kritis dan logam langka. Mulai Desember 2025, semua perusahaan asing yang mengekspor produk yang mengandung unsur rare earth (meskipun dalam jumlah kecil) harus memperoleh izin khusus, serta harus mengungkapkan penggunaan akhir produknya. Kebijakan ini memicu kekhawatiran bahwa China berusaha menggunakan posisinya sebagai produsen utama untuk memeras keunggulan dalam negosiasi perdagangan global.
Potensi Dampak Global
Pengumuman Trump langsung mengguncang pasar keuangan internasional. Indeks S&P 500 anjlok hingga 2,7 persen — pencapaian terburuk harian tahun ini — sementara Nasdaq bahkan mendekati penurunan 3,6 persen. Saham perusahaan teknologi, khususnya yang bergantung pada komponen dari China, terpukul cukup keras. Investor pun diliputi spekulasi bahwa konflik dagang ini dapat memperlambat pertumbuhan global, merusak rantai pasokan, dan memicu inflasi komoditas.
Bagi negara-negara di Asia dan pasar berkembang, risiko disrupsi rantai pasokan makin nyata. Banyak negara bergantung pada bahan mentah, komponen, atau produk antara yang berasal dari China. Bila tarif dan kontrol ekspor meningkat tajam, harga bahan baku bisa melonjak dan proyek-proyek manufaktur mengalami hambatan.
Sektor pertahanan dan teknologi menjadi salah satu arena paling sensitif. Rare earth, magnet, dan elemen langka lainnya adalah komponen penting dalam pembuatan ponsel, mobil listrik, turbin angin, satelit, hingga radar militer. Ketergantungan tinggi AS dan sekutunya terhadap pasokan China menempatkan mereka pada posisi yang rentan. Dengan memperketat ekspor ini, China memiliki potensi tekanan signifikan terhadap negara-negara yang mengandalkan pasokan tersebut.
Spekulasi dan Tantangan Negosiasi
Meskipun ketegangan meningkat, masih ada ruang dialog. Beberapa pengamat memperkirakan bahwa langkah Trump adalah taktik tekanan untuk memaksa China kembali ke meja perundingan. Ahli ekonomi Jeremy Siegel bahkan menyebut bahwa tarif tersebut bersifat sementara, dan pasar bisa kembali rebound jika kesepakatan dicapai.
Namun, ada berbagai hambatan besar. Pertama, eskalasi retorika cenderung memperkuat posisi keras kedua belah pihak, menyulitkan ruang kompromi. Kedua, efek domino pada negara ketiga dan rantai pasok global bisa mendorong tekanan dari aktor global agar solusi damai dicapai. Ketiga, China tampaknya ingin menjaga pijakan kuat sebelum pertemuan potensial antara Trump dan Presiden Xi Jinping — yang rencananya berlangsung di APEC akhir Oktober — sebagai bagian dari manuver diplomatik.
Kesimpulan
Pengumuman tarif 100 persen dari AS dan respons keras Beijing menandai babak baru dalam konflik perdagangan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. Dengan China menyatakan kesiapan “bertarung sampai akhir,” peluang eskalasi semakin terbuka. Tetapi di tengah tekanan pasar dan kepentingan ekonomi global, pertarungan ini bukan hanya soal proteksionisme, melainkan soal penguasaan teknologi, kendali atas rantai pasok strategis, dan dinamika kekuatan geopolitik.
Meski begitu, siapa pun yang berharap konflik ini bisa diselesaikan melalui kekuatan ekonomi murni harus ingat bahwa dalam arena global, negosiasi, kompromi, dan diplomasi tetap memainkan peran krusial. Apakah konflik akan mereda setelah guncangan awal, atau justru berlarut menjadi perang dagang penuh, sangat tergantung pada kemampuan kedua belah pihak membaca risiko dan batas toleransi masing-masing — serta kekompakan dunia luar dalam mendorong penyelesaian damai.
