
KATURI HEALTH – Cokelat merupakan salah satu makanan yang umumnya disukai anak-anak. Rasanya yang manis dan teksturnya yang beragam membuat makanan ini mudah menarik perhatian si kecil. Meski demikian, orang tua sebaiknya mempertimbangkan kembali pemberian cokelat kepada anak yang belum berusia 2 tahun.
Cokelat bukan berarti makanan yang secara otomatis berbahaya bagi anak. Namun, pada usia tersebut, kebutuhan utama anak adalah makanan yang kaya zat gizi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan. Sementara itu, sebagian besar produk cokelat yang beredar mengandung gula tambahan dan bahan lain yang kurang diperlukan dalam pola makan anak usia dini.
Gula Tambahan Menjadi Salah Satu Pertimbangan
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO merekomendasikan agar makanan pendamping ASI untuk anak berusia 6 hingga 23 bulan tidak ditambahkan gula. WHO juga menganjurkan agar anak dalam rentang usia tersebut tidak terlalu sering mengonsumsi makanan yang tinggi gula, garam, serta lemak tidak sehat.
Cokelat, terutama produk olahan seperti cokelat batangan, permen cokelat, dan minuman cokelat, dapat mengandung gula dalam jumlah cukup tinggi. Pemberian makanan manis sejak dini juga dapat membuat anak terbiasa dengan rasa manis sehingga berpotensi memengaruhi pola pilihan makan mereka.
Bisa Mengurangi Ruang untuk Makanan Bergizi
Lambung anak masih relatif kecil sehingga setiap makanan yang dikonsumsi sebaiknya memberikan manfaat gizi. Jika anak terlalu banyak mengonsumsi makanan manis, termasuk cokelat, ruang untuk makanan yang lebih bernutrisi dapat berkurang.
Anak pada masa pertumbuhan membutuhkan berbagai zat gizi dari sumber makanan seperti sayuran, buah, protein, biji-bijian, serta produk pangan lainnya yang sesuai dengan kebutuhan usianya. Karena itu, orang tua sebaiknya memprioritaskan makanan yang memberikan vitamin, mineral, protein, lemak, dan energi yang dibutuhkan tubuh.
Perhatikan Kandungan Produk Cokelat
Tidak semua produk cokelat memiliki komposisi yang sama. Produk yang disebut sebagai cokelat dapat mengandung kadar gula, lemak, susu, dan bahan tambahan yang berbeda-beda. Karena itu, orang tua perlu membaca label kemasan sebelum memberikan makanan kepada anak.
Selain kandungan gula, cokelat juga secara alami mengandung kafein dan teobromin, terutama pada produk dengan kandungan kakao lebih tinggi. Kedua senyawa tersebut dapat memberikan efek stimulasi. Anak kecil memiliki kebutuhan dan toleransi yang berbeda dibandingkan orang dewasa sehingga konsumsi produk berkafein sebaiknya dibatasi.
Utamakan Pola Makan Seimbang
Menunda pemberian cokelat kepada anak di bawah usia 2 tahun bukan berarti orang tua harus melarang semua makanan yang mengandung kakao selamanya. Pertimbangannya lebih berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi dan pembatasan gula tambahan pada masa awal pertumbuhan.
Orang tua dapat memperkenalkan berbagai jenis makanan bergizi dengan rasa dan tekstur yang sesuai perkembangan anak. Kebiasaan tersebut membantu anak mengenal beragam makanan sekaligus membangun pola makan yang lebih sehat.
Dengan demikian, alasan utama cokelat sebaiknya ditunda pada anak di bawah 2 tahun adalah bukan karena cokelat semata-mata berbahaya, melainkan karena makanan manis dengan gula tambahan belum menjadi pilihan yang diperlukan pada tahap tersebut. Prioritas utama tetap makanan bergizi dan seimbang yang mendukung tumbuh kembang anak.
