
KATURI NEWS – Kasus dugaan pemberian vaksin yang tidak sesuai kepada seorang bayi perempuan berusia sembilan bulan berinisial NR di Puskesmas Bintara Jaya, Kecamatan Bekasi Barat, menjadi perhatian publik. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (13/6/2026) tersebut membuat keluarga mempertanyakan prosedur pelayanan imunisasi serta meminta penjelasan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab kejadian tersebut.
Berdasarkan keterangan keluarga, NR datang ke Puskesmas Bintara Jaya untuk menerima imunisasi campak yang merupakan bagian dari program imunisasi pemerintah. Sebelum menuju puskesmas, ibu korban, Andin (33), mengaku telah diarahkan oleh sebuah klinik agar vaksinasi dilakukan di fasilitas kesehatan pemerintah karena vaksin tersebut termasuk dalam program nasional.
Andin menjelaskan bahwa sejak awal proses pelayanan, dirinya telah menyampaikan tujuan kedatangannya kepada petugas. Saat melakukan pendaftaran, ia menyerahkan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang berisi riwayat imunisasi anak sebagai acuan bagi tenaga kesehatan.
Menurut Andin, petugas di bagian pendaftaran mengetahui bahwa putrinya akan menerima vaksin campak. Informasi yang sama juga kembali dikonfirmasi ketika bayi menjalani proses penimbangan sebelum memasuki ruang imunisasi.
Namun, di tengah proses pelayanan, Andin mengaku mulai merasakan adanya sejumlah kejanggalan. Meski demikian, proses imunisasi tetap berlangsung hingga putrinya menerima suntikan dari petugas kesehatan.
Tidak lama setelah imunisasi dilakukan, kondisi bayi dilaporkan memburuk. Berdasarkan keterangan keluarga, NR mengalami demam tinggi yang kemudian disertai kejang berkepanjangan. Akibat kondisi tersebut, bayi harus segera mendapatkan penanganan medis dan menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Keluarga menduga bayi menerima vaksin yang tidak sesuai dengan jenis imunisasi yang seharusnya diberikan. Dugaan tersebut menjadi dasar pertanyaan mereka mengenai kemungkinan adanya kesalahan dalam proses pelayanan di puskesmas.
Hingga kini, keluarga mengaku belum memperoleh penjelasan resmi mengenai dugaan kesalahan tersebut. Mereka berharap pihak Puskesmas Bintara Jaya maupun Dinas Kesehatan Kota Bekasi dapat memberikan keterangan yang jelas mengenai jenis vaksin yang diberikan, prosedur yang dijalankan oleh petugas, serta hasil evaluasi terhadap kejadian tersebut.
Selain meminta klarifikasi, keluarga juga mempertanyakan bentuk tanggung jawab dari fasilitas kesehatan apabila nantinya terbukti terjadi kesalahan dalam pemberian vaksin. Menurut mereka, informasi yang terbuka sangat penting agar keluarga mengetahui penyebab kondisi yang dialami anak mereka sekaligus memperoleh kepastian mengenai langkah penanganan selanjutnya.
Kasus ini juga menjadi perhatian karena imunisasi merupakan bagian penting dalam upaya pencegahan berbagai penyakit menular pada anak. Dalam pelaksanaannya, tenaga kesehatan memiliki prosedur yang harus dipatuhi, mulai dari verifikasi identitas pasien, pemeriksaan riwayat imunisasi melalui Buku KIA, hingga memastikan jenis vaksin yang akan diberikan sesuai dengan jadwal imunisasi.
Apabila ditemukan dugaan kesalahan dalam pelayanan kesehatan, umumnya akan dilakukan investigasi internal untuk mengetahui kronologi kejadian, mengevaluasi kepatuhan terhadap prosedur operasional, serta menentukan langkah perbaikan agar peristiwa serupa tidak terulang.
Sementara itu, kondisi kesehatan bayi menjadi perhatian utama keluarga yang berharap putrinya dapat segera pulih sepenuhnya. Mereka juga menantikan hasil pemeriksaan serta penjelasan resmi dari instansi terkait mengenai dugaan pemberian vaksin yang tidak sesuai tersebut.
Kasus ini menegaskan pentingnya ketelitian dalam setiap tahapan pelayanan imunisasi. Verifikasi identitas pasien, pemeriksaan riwayat vaksinasi, serta konfirmasi jenis vaksin sebelum penyuntikan merupakan prosedur yang memiliki peran penting untuk menjaga keselamatan pasien dan mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi nasional.
