
KATURI SPORT – Tim nasional Curacao membuktikan bahwa mereka bukan sekadar pelengkap di Piala Dunia 2026. Meski berstatus debutan, tim berjuluk Blue Wave atau Gelombang Biru itu menunjukkan daya juang tinggi dan berpotensi menjadi batu sandungan bagi Pantai Gading dalam pertandingan terakhir Grup E yang berlangsung di Stadion Lincoln Financial Field, Philadelphia, Jumat (26/6) WIB.
Pertandingan tersebut menjadi laga hidup-mati bagi kedua tim. Hasil positif sangat dibutuhkan untuk menjaga peluang lolos ke babak 32 besar dalam format baru Piala Dunia yang diikuti 48 negara. Situasi di Grup E masih terbuka, terutama untuk perebutan posisi kedua dan peluang lolos melalui jalur peringkat ketiga terbaik.
Curacao datang ke pertandingan ini dengan kepercayaan diri yang meningkat setelah berhasil menahan imbang Ekuador tanpa gol pada laga kedua fase grup. Hasil tersebut menjadi pencapaian bersejarah karena menghadirkan poin pertama Curacao dalam penampilan perdana mereka di ajang Piala Dunia.
Salah satu kunci keberhasilan Curacao meraih hasil tersebut adalah penampilan luar biasa penjaga gawang Eloy Room. Kiper berpengalaman itu tampil gemilang dengan mencatat 15 penyelamatan sepanjang pertandingan melawan Ekuador. Catatan tersebut bahkan disebut sebagai rekor jumlah penyelamatan terbanyak dalam satu pertandingan Piala Dunia selama 90 menit.
Hasil imbang melawan Ekuador menjadi respons positif setelah Curacao mengalami kekalahan telak 1-7 dari Jerman pada laga pembuka Grup E. Kekalahan itu sempat memunculkan keraguan terhadap kemampuan mereka bersaing di level tertinggi sepak bola dunia. Namun, tim asuhan Dick Advocaat mampu bangkit dengan menunjukkan organisasi permainan yang lebih baik, terutama di sektor pertahanan.
Pelatih Dick Advocaat melakukan sejumlah perbaikan setelah laga kontra Jerman. Curacao tampil lebih disiplin dalam menjaga area pertahanan dan tidak memberikan banyak ruang kepada lawan. Strategi tersebut terbukti efektif saat menghadapi Ekuador yang kesulitan membongkar rapatnya lini belakang Curacao meski menciptakan banyak peluang.
Selain bertahan dengan baik, Curacao juga memiliki beberapa pemain yang mampu menciptakan ancaman melalui serangan balik cepat. Nama-nama seperti Tahith Chong dan Juninho Bacuna menjadi andalan dalam membangun transisi dari bertahan ke menyerang. Kecepatan dan kemampuan individu mereka dapat menjadi senjata utama untuk mengejutkan Pantai Gading.
Di sisi lain, Pantai Gading tetap lebih diunggulkan. Wakil Afrika itu mengawali turnamen dengan kemenangan 1-0 atas Ekuador sebelum kalah tipis 1-2 dari Jerman. Hasil tersebut membuat mereka berada dalam posisi yang relatif lebih baik dibanding Curacao menjelang pertandingan terakhir fase grup.
Meski demikian, pelatih Pantai Gading Emerse Fae menegaskan bahwa timnya tidak akan meremehkan Curacao. Ia memuji kemampuan lawannya untuk bangkit setelah kekalahan besar dari Jerman dan menilai Curacao memiliki kekuatan dalam menyerang serta soliditas permainan sebagai sebuah tim.
Dengan peluang lolos yang masih terbuka bagi kedua tim, laga Curacao melawan Pantai Gading diperkirakan berlangsung sengit. Curacao berambisi menciptakan sejarah dengan melangkah ke fase gugur, sementara Pantai Gading bertekad memastikan tempat di babak 32 besar. Pertarungan di Philadelphia pun berpotensi menjadi salah satu pertandingan paling menarik pada penentuan Grup E Piala Dunia 2026.
