
KATURI NEWS – Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat di Malang Raya merasakan suhu udara yang lebih dingin dibandingkan biasanya, terutama pada malam hingga pagi hari. Kondisi ini bahkan memunculkan fenomena embun es yang oleh sebagian warga kerap disebut sebagai “salju” di sejumlah titik kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Fenomena tersebut menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan masuknya wilayah Jawa Timur ke periode musim kemarau.
Masyarakat Malang memiliki istilah khusus untuk menggambarkan kondisi udara yang sangat dingin pada malam hingga pagi hari, yaitu “mbediding”. Istilah ini sudah lama dikenal dan sering digunakan ketika suhu udara mengalami penurunan signifikan selama musim kemarau. Pada periode ini, udara terasa lebih sejuk saat malam, namun berubah menjadi panas pada siang hari.
Beberapa wilayah di Malang Raya dilaporkan mengalami suhu udara malam hari hingga mencapai sekitar 16 derajat Celsius. Meski angka tersebut masih berada dalam kategori normal untuk daerah dataran tinggi dan kawasan pegunungan, sensasi dingin yang dirasakan masyarakat menjadi lebih kuat karena berlangsung selama beberapa jam menjelang pagi.
Fenomena embun es yang muncul di kawasan TNBTS sebenarnya bukan salju seperti yang terjadi di negara-negara beriklim subtropis atau kutub. Embun es terbentuk ketika suhu permukaan tanah dan vegetasi turun hingga mendekati atau mencapai titik beku pada malam hari. Uap air yang berada di udara kemudian mengembun dan membeku di permukaan daun, rumput, atau tanah sehingga menciptakan lapisan putih yang menyerupai salju.
Kondisi ini umumnya terjadi di kawasan dengan ketinggian tertentu, termasuk area sekitar Gunung Bromo dan dataran tinggi lainnya yang berada dalam kawasan TNBTS. Fenomena tersebut lebih sering muncul pada puncak musim kemarau ketika langit cerah dan kelembapan udara relatif rendah.
Menurut penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), perbedaan suhu yang cukup mencolok antara siang dan malam hari dipengaruhi oleh minimnya tutupan awan. Saat musim kemarau, langit cenderung cerah sehingga panas matahari dapat diterima secara maksimal pada siang hari. Akibatnya, suhu udara meningkat dan cuaca terasa lebih panas.
Sebaliknya, pada malam hari, panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat dilepaskan kembali ke atmosfer. Karena jumlah awan yang sedikit, tidak ada lapisan yang cukup efektif untuk menahan pelepasan panas tersebut. Kondisi inilah yang menyebabkan suhu udara turun lebih cepat dan menciptakan udara dingin yang terasa hingga pagi hari.
Fenomena perbedaan suhu yang ekstrem antara siang dan malam merupakan karakteristik umum musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia, khususnya daerah dataran tinggi. Meski demikian, kondisi ini tidak tergolong sebagai cuaca ekstrem yang membahayakan selama masyarakat tetap menjaga kesehatan dan menyesuaikan aktivitas dengan perubahan suhu yang terjadi.
Bagi sektor pariwisata, kemunculan embun es di kawasan Bromo justru menjadi daya tarik tersendiri. Banyak wisatawan yang datang untuk menyaksikan secara langsung lapisan es tipis yang menutupi rerumputan pada pagi hari. Fenomena alam tersebut menjadi bukti bagaimana kondisi iklim dan geografis kawasan pegunungan dapat menciptakan pemandangan unik yang jarang ditemukan di wilayah tropis seperti Indonesia.
Dengan masih berlangsungnya musim kemarau, suhu dingin pada malam hingga pagi hari diperkirakan masih akan dirasakan masyarakat Malang Raya dalam beberapa waktu ke depan, terutama di wilayah dataran tinggi dan kawasan pegunungan.
