
Dalam beberapa bulan terakhir, wacana mengenai potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 6 persen kembali mencuat. Salah satu argumen yang muncul adalah bahwa dengan tambahan stimulus fiskal sekitar Rp 200 triliun, pertumbuhan tersebut bisa dicapai. Sekilas, angka tersebut memang terdengar besar. Namun, jika ditelisik secara lebih mendalam melalui pendekatan makroekonomi, klaim ini cenderung terlalu optimistis, bahkan bisa dibilang tidak realistis tanpa prasyarat besar lainnya.
Sebelum terbuai dengan janji angka, kita perlu memahami struktur dan dinamika perekonomian nasional, khususnya seberapa efisien investasi dalam menghasilkan pertumbuhan. Di sinilah konsep ICOR (Incremental Capital Output Ratio) menjadi penting.
Memahami ICOR: Ukuran Efisiensi Investasi
ICOR adalah indikator yang menggambarkan seberapa besar investasi yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar satu unit. Semakin tinggi nilai ICOR, semakin tidak efisien perekonomian dalam mengonversi investasi menjadi output atau Produk Domestik Bruto (PDB).
ICOR Indonesia saat ini berada di kisaran 6,7, berdasarkan data Kementerian Keuangan dan perhitungan lembaga riset. Artinya, untuk meningkatkan output ekonomi sebesar Rp 1, kita membutuhkan Rp 6,7 investasi baru. Bandingkan dengan negara-negara dengan ICOR di bawah 4, yang jauh lebih efisien.
Dengan ICOR 6,7, untuk mengejar pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen, secara teoritis dibutuhkan investasi sebesar:
6% x 6,7 = 40,2% dari PDB
Jika kita asumsikan PDB Indonesia pada 2025 sekitar Rp 20.000 triliun, maka total investasi yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan 6 persen adalah:
40,2% x Rp 20.000 triliun = Rp 8.040 triliun
Bandingkan angka ini dengan stimulus yang direncanakan sebesar Rp 200 triliun. Maka, tambahan fiskal tersebut hanya setara dengan sekitar 2,5% dari total kebutuhan investasi. Jelas terlihat bahwa ini tidak cukup untuk menopang pertumbuhan 6 persen secara mandiri.
Rp 200 Triliun: Angka Besar dengan Efek Kecil
Meskipun nominalnya terlihat besar, dalam konteks makroekonomi Indonesia, Rp 200 triliun adalah angka yang kecil, terutama jika tidak disertai dengan strategi besar lainnya. Ada beberapa alasan mengapa efeknya terbatas:
- ICOR Tinggi = Investasi Tidak Efisien
Dalam perekonomian dengan ICOR tinggi, setiap tambahan investasi hanya menghasilkan pertumbuhan kecil. Jika efisiensi ini tidak diperbaiki, maka suntikan modal berapa pun hanya akan menghasilkan pertumbuhan yang marginal. - Multiplikasi Investasi Lemah
Dalam ekonomi modern, investasi pemerintah sering diharapkan memiliki multiplier effect, menarik investasi swasta dan menciptakan dampak ekonomi berantai. Namun, bila kebijakan pendukung tidak tersedia, efek pengganda ini tidak optimal. - Sektor Penyerapan Tidak Produktif
Jika Rp 200 triliun tidak diarahkan ke sektor-sektor dengan produktivitas tinggi—seperti manufaktur ekspor, teknologi, atau infrastruktur jangka panjang—maka dampaknya akan cepat menguap dan tidak berkelanjutan.
Apa yang Dibutuhkan Selain Rp 200 Triliun?
Agar target pertumbuhan 6 persen benar-benar tercapai, tambahan anggaran hanyalah sebagian kecil dari solusi. Ada empat hal mendasar yang harus dilakukan:
1. Menurunkan ICOR melalui Reformasi Struktural
ICOR yang tinggi menunjukkan persoalan mendasar: inefisiensi ekonomi. Pemerintah harus melakukan reformasi menyeluruh di berbagai lini, termasuk:
- Penyederhanaan regulasi dan perizinan
- Penguatan institusi hukum dan kepastian kontrak
- Percepatan pembangunan infrastruktur logistik
- Peningkatan kualitas pendidikan dan tenaga kerja
Semua ini bertujuan agar setiap investasi menghasilkan output yang lebih besar.
2. Leverage Investasi Swasta
Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dengan APBN yang terbatas, kunci keberhasilan ada pada kemampuan mendorong partisipasi sektor swasta. Melalui skema Public-Private Partnership (PPP), insentif pajak, dan jaminan investasi, Rp 200 triliun bisa menjadi pemicu hadirnya ribuan triliun modal swasta.
3. Arahkan Stimulus ke Sektor Bernilai Tambah
Suntikan dana harus ditargetkan pada sektor-sektor yang memiliki dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan dan produktivitas, seperti:
- Industri pengolahan (manufaktur)
- Teknologi dan ekonomi digital
- Energi baru dan terbarukan
- Pertanian modern dan agribisnis
Dengan begitu, output yang dihasilkan akan berkelanjutan dan berkontribusi terhadap penurunan ICOR.
4. Reformasi Fiskal dan Peningkatan Tax Ratio
Rasio perpajakan Indonesia masih di bawah 11 persen—jauh dari ideal. Tanpa memperluas basis pajak dan meningkatkan kepatuhan, pemerintah tidak akan punya ruang fiskal yang cukup untuk mendanai transformasi ekonomi besar-besaran. Tanpa pendapatan negara yang kuat, suntikan seperti Rp 200 triliun hanya bisa sesekali diberikan.
Kesimpulan: Tidak Cukup Hanya dengan Stimulus
Purbayanomic, atau keyakinan bahwa stimulus sebesar Rp 200 triliun bisa langsung mendorong pertumbuhan ekonomi 6 persen, adalah analisis yang terlalu menyederhanakan. Dalam realitas ekonomi Indonesia yang kompleks dan efisiensinya masih rendah, tambahan stimulus semata tidak akan cukup untuk menggerakkan mesin ekonomi secara berkelanjutan.
Jika ingin tumbuh lebih cepat, kita perlu strategi yang lebih dalam: meningkatkan efisiensi, memperbaiki struktur ekonomi, dan menciptakan iklim investasi yang sehat. Tanpa itu semua, Rp 200 triliun hanya akan menjadi percikan kecil di tengah samudera pertumbuhan yang kita impikan.
