
KATURI NEWS – Ketegangan politik di Amerika Serikat kembali memanas, kali ini berpusat pada calon wali kota kota terbesar di AS, Zohran Mamdani — seorang Muslim, legislator negara bagian New York, dan pemenang pemilihan pendahuluan partai Demokrat. Sementara itu, mantan presiden dan tokoh pusat gerakan Republik, Donald Trump, melancarkan serangkaian serangan verbal terhadap Mamdani, yang bukan hanya menyoroti kebijakan dan ideologinya, tetapi juga — secara luas diinterpretasikan — identitasnya sebagai Muslim dan imigran.
Latar Belakang Kandidat
Zohran Mamdani lahir di Uganda dari orang tua berdarah India, lalu pindah ke New York pada usia muda, dan kemudian menjadi warga negara Amerika Serikat. Ia menjabat sebagai anggota Majelis Negara Bagian New York (New York State Assembly) sejak 2020, mewakili distrik di Brooklyn/Queens.
Pada pemilihan pendahuluan Demokrat untuk jabatan wali kota New York, Mamdani meraih kemenangan yang cukup mengejutkan, mendapatkan sekitar 43,5 % suara di sistem pemilihan suara rangking (ranked-choice voting). Dengan demikian ia menjadi kandidat yang sangat berpotensi menjadi wali kota New York pertama yang beragama Islam dan berlatar belakang imigran dari Asia Selatan.
Isi Serangan Trump
Donald Trump memusatkan kritiknya pada beberapa titik utama:
- Ia menyebut Mamdani sebagai “100 % Communist Lunatic” dalam sebuah unggahan di platform media sosial miliknya.
- Ia menuding bahwa Mamdani mungkin “di sini secara ilegal” dan mengancam akan “memeriksa segalanya”.
- Trump menyatakan bahwa jika Mamdani memblokir tindakan agen imigrasi di New York, maka “kita harus menangkapnya”.
- Ia juga menyentuh aspek identitas Mamdani, dengan menyoroti suaranya, fisiknya, serta menyebut bahwa pendukungnya “fools” (orang bodoh) jika mendukungnya.
- Lebih jauh lagi, Trump menyinggung kemungkinan pemotongan dana federal kepada Kota New York bila Mamdani terpilih.
Implikasi dan Reaksi
Serangan Trump terhadap Mamdani memiliki dampak politis dan social yang cukup signifikan:
- Banyak pengamat menilai bahwa retorika ini mengandung unsur Islamofobia — karena tekanan yang diarahkan tidak hanya ke kebijakan atau ideologi Mamdani, tetapi identitas keagamaannya dan latar belakang imigrannya.
- Peningkatan tajam dalam unggahan-online yang mengandung ujaran kebencian terhadap Mamdani dan komunitas Muslim telah tercatat; misalnya, sehari setelah kemenangan Mamdani di pemilihan pendahuluan, tercatat sebanyak lebih dari 120 laporan unggahan kebencian terkait dirinya.
- Mamdani sendiri menanggapi bahwa serangan ini adalah bagian dari upaya intimidasi: “The President of the United States just threatened to have me arrested, … put in a detention camp and deported,” katanya.
- Dari sisi politik New York, sejumlah pejabat kota dan negara bagian menyatakan keprihatinan bahwa kampanye ini bisa memperburuk polarisasi dan memunculkan ketakutan dalam komunitas Muslim yang selama ini merasa terpinggirkan.
Analisis: Mengapa Serangan Ini Signifikan
Serangan Trump terhadap Mamdani tidak semata-mata pertarungan ideologi antara sayap kanan dan sayap kiri, tetapi juga mencerminkan beberapa dinamika yang lebih luas:
- Identitas agama dan imigran: Mamdani adalah sebagian dari generasi baru politisi Muslim dan imigran yang muncul di panggung politik AS. Serangan terhadapnya sering memanfaatkan stereotip dan pemikiran bahwa “Muslim = ancaman”.
- Populisme & budaya konflik: Trump telah lama menggunakan strategi menyerang karakter, identitas, dan latar belakang lawan politiknya — dengan memanfaatkan rasa takut atau kecemasan dari sebagian masyarakat. Ini adalah lanjutan dari strategi politik yang telah ia gunakan sebelumnya.
- Perubahan demografi dan kebijakan kota besar: New York adalah kota yang sangat kosmopolitan, dengan populasi besar Muslim, Asia Selatan dan komunitas imigran lainnya. Kandidat seperti Mamdani mewakili perubahan demografis ini. Serangan yang diarahkan padanya bisa jadi mencerminkan resistensi terhadap perubahan tersebut.
- Dampak nasional: Walaupun ini adalah pemilihan lokal di New York, karena status kota dan figur Trump yang berskala nasional, pertarungan ini berpotensi menjadi simbol yang lebih besar — bagi kampanye pemilihan umum, arah Partai Demokrat dan Republik, serta bagaimana komunitas Muslim diperlakukan dalam politik Amerika.
Potensi Dampak ke Depan
- Apabila Mamdani memenangkan jabatan wali kota, hal ini bisa menjadi titik penting bagi representasi komunitas Muslim di Amerika Serikat — tetapi kampanye seperti ini bisa juga meninggalkan luka sosial yang dalam terkait rasial dan agama.
- Jika narasi serangan terus berlanjut dan menjadi bagian dari strategi politik sayap kanan, maka kita mungkin akan melihat peningkatan retorika anti-Muslim dan anti-imigran dalam politik lokal dan nasional AS.
- Dari sisi kampanye Mamdani, serangan ini bisa memobilisasi basis pendukung yang merasa bahwa ia dihadapkan pada ketidakadilan — atau justru menjadi beban di mata pemilih moderat yang khawatir dengan citra konflik identitas.
- Bagi Trump dan partainya, kampanye seperti ini membantu memperkuat citra lawan politik sebagai ekstremis atau alien dalam sistem — yang secara historis telah menjadi strategi efektif untuk menarik pemilih tertentu.
Kesimpulan
Serangan Donald Trump terhadap Zohran Mamdani bukan hanya sekadar komentar keras antar rival politik — melainkan manifestasi dari pertarungan identitas, agama, imigrasi, dan perubahan demografi dalam politik Amerika. Dalam konteks New York City — kota dengan sejarah panjang imigrasi dan pluralisme — pertarungan ini membawa konsekuensi lebih dari sekadar hasil pemilihan. Ia membawa pertanyaan tentang bagaimana komunitas Muslim dan imigran akan diakui dan dihormati dalam ruang publik, bagaimana politik identitas digunakan sebagai senjata, dan bagaimana demokrasi menangani serangan verbal yang berbasis stereotip.
