
KATURI HOT – Pada Rabu, 26 November 2025, sebuah kebakaran besar melanda kompleks apartemen Wang Fuk Court di distrik Tai Po, Hong Kong. Nyala api pertama kali terlihat sekitar pukul 14:51 HKT, dan dalam hitungan jam, api menyebar pesat ke banyak bangunan.
Kompleks itu terdiri dari delapan menara apartemen (high-rise), dan saat kebakaran terjadi, sebagian besar gedung sedang menjalani renovasi — dengan pemasangan perancah bambu diselubungi jaring dan terpal hijau.
Karena bahan-bahan renovasi yang mudah terbakar (scaffolding bambu, jaring pengaman, dan bahan isolasi), serta angin kuat, api melompat dari satu blok ke blok lain dengan cepat. Dalam beberapa jam, tujuh dari delapan menara telah terlibat api — membuat kabut asap tebal dan kobaran besar terlihat di langit Tai Po.
Kekacauan & Kepanikan Korban Selamat
Penghuni apartemen terkejut oleh kecepatan penyebaran api. Banyak yang mengatakan bahwa mereka tidak mendengar alarm kebakaran, meskipun gedung telah dilengkapi sistem alarm.
Karena itu, penyelamatan tak bisa menunggu alarm — beberapa orang harus berkeliling dari pintu ke pintu untuk mengetuk dan memberi tahu tetangga tentang bahaya. Satu penghuni dengan nama keluarga Suen mengatakan:
“Api menyebar begitu cepat … saya merasa itu terlalu lambat.”
Bagi banyak penghuni — terutama lansia dan mereka dengan mobilitas terbatas — ini menjadi situasi penuh ketakutan. Seorang pria berusia 65 tahun yang sudah puluhan tahun tinggal di sana mengaku bahwa banyak tetangganya menggunakan kursi roda atau alat bantu jalan, sehingga evakuasi menjadi jauh lebih sulit.
Seorang penghuni menceritakan bagaimana jendela-jendela apartemen ditutup karena renovasi, sehingga ketika kebakaran terjadi, asap menumpuk di dalam unit — membuat banyak orang tak menyadari bahaya sampai sudah telambat.
Di tengah kepanikan itu, ada adegan dramatis: beberapa penghuni tampak berlari menyelamatkan diri, menyelamatkan anak–anak, tetangga, bahkan hewan peliharaan. Suara sirine, jeritan, air selang pemadam kebakaran yang berusaha menjangkau lantai tinggi — menjadi pemandangan menakutkan dalam kekacauan.
Dampak & Korban
Akibat kebakaran, bilangan korban jiwa terus meningkat dalam beberapa hari. Awalnya dilaporkan sedikit, tetapi akhirnya otoritas menyatakan bahwa setidaknya 128 orang meninggal — menjadikannya salah satu kebakaran apartemen paling mematikan di Hong Kong dalam puluhan tahun.
Puluhan lainnya mengalami luka-luka. Banyak korban berasal dari kalangan warga biasa, termasuk pekerja migran seperti pekerja rumah tangga — situasi yang menimbulkan empati besar dari masyarakat internasional.
Belasan petugas pemadam kebakaran juga terlibat; beberapa terluka parah, bahkan ada yang menjadi korban jiwa.
Setelah api berhasil dikendalikan — yang memakan waktu hampir 43 jam — tim penyelamat masih melakukan penyisiran, memeriksa setiap unit, dan mengidentifikasi jenazah serta korban hilang. Proses ini sulit karena struktur gedung yang rusak dan suhu yang masih tinggi.
Kenangan & Trauma bagi yang Selamat
Bagi mereka yang berhasil selamat, pengalaman ini menjadi momok: ketakutan, rasa bersalah karena kehilangan tetangga/teman, trauma akibat asap dan kebakaran, serta ketidakpastian tentang masa depan. Banyak dari penyintas kini kehilangan rumah — tempat tinggal serta seluruh harta benda mereka ludes terbakar.
Beberapa penghuni mengatakan bahwa meskipun badai dahsyat sudah berlalu, keheningan setelahnya terasa mengerikan — banyak dari mereka yang masih menunggu kabar orang hilang, sambil bergulat dengan kesedihan dan duka.
Komunitas lokal, termasuk penyintas dan relawan, mulai mengorganisir bantuan — tempat tinggal darurat, makanan, pakaian, serta dukungan psikologis. Namun kerusakan emosional dan fisik diperkirakan akan bertahan lama.
Pelajaran & Tuntutan Perubahan
Tragedi di Wang Fuk Court membuka sorotan tajam pada aspek keamanan bangunan vertikal, terutama saat renovasi. Fakta bahwa scaffolding bambu dan bahan isolasi mudah terbakar — padahal digunakan secara luas — mendapat kritik keras.
Banyak alat keselamatan, seperti alarm kebakaran, ternyata gagal berfungsi — menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap regulasi keselamatan sangat lemah.
Kematian warga biasa, pekerja migran, lansia, dan petugas pemadam menimbulkan tuntutan agar otoritas melakukan investigasi mendalam, menghukum pihak yang lalai, dan memperketat standar pembangunan serta renovasi hunian.
Pejabat telah mengumumkan inspeksi nasional pada gedung-gedung tinggi (high-rise) dan proyek renovasi — sebagai upaya mencegah tragedi serupa terjadi di masa depan.
Penutup
Kebakaran tragis di Wang Fuk Court, Hong Kong, adalah pengingat pahit: keamanan hunian harus menjadi prioritas mutlak. Di balik gedung tinggi dan renovasi modern, ada nyawa — keluarga, lansia, pekerja migran — yang bisa hilang seketika jika standar keselamatan diabaikan. Kepanikan saat api menyebar cepat, korban selamat yang trauma, serta kerugian besar menjadi saksi betapa rapuhnya kesejahteraan manusia tanpa perlindungan memadai.
Semoga tragedi ini menjadi momentum bagi perubahan nyata — agar tak ada lagi korban yang harus menderita karena kelalaian struktural dan sistemik.
