
KATURI NEWS – Peristiwa tragis menimpa seorang anak sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa kelas IV SD berinisial YBR ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di wilayah Kecamatan Jerebuu. Kejadian ini menyisakan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga korban, tetapi juga masyarakat sekitar.
Di tengah proses evakuasi korban, aparat kepolisian menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga kuat ditulis langsung oleh YBR. Surat tersebut menjadi salah satu petunjuk penting dalam mengungkap kondisi psikologis korban sebelum mengakhiri hidupnya.
Surat Ditulis Menggunakan Bahasa Daerah Bajawa
Berdasarkan keterangan kepolisian, surat yang ditemukan di lokasi kejadian ditulis menggunakan bahasa daerah Bajawa, bahasa yang sehari-hari digunakan masyarakat setempat. Isi surat itu ditujukan kepada ibu korban yang bernama Reti.
Kepala Seksi (Kasi) Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan keaslian surat tersebut. Ia menegaskan bahwa surat itu ditemukan langsung oleh petugas di tempat kejadian perkara (TKP).
“Surat itu betul. Petugas turun ke TKP dan menemukan surat tersebut. Anak itu sendiri yang menulis,” ujar Benediktus saat dikonfirmasi, Rabu (4/2/2026).
Ungkapan Kekecewaan Seorang Anak
Isi surat YBR terbilang singkat, namun sarat makna dan emosi. Dalam salah satu barisnya, korban mengungkapkan kekecewaan terhadap sang ibu, bahkan menyebut ibunya sebagai “pelit”.
Berikut isi lengkap surat yang ditulis YBR, disertai terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia:
Kertas Tii Mama Reti
(Surat untuk Mama Reti)
Mama Galo Zee
(Mama pelit sekali)
Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama
(Mama baik sudah. Kalau saya meninggal, mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee
(Mama, saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya)
Molo Mama
(Selamat tinggal, Mama)
Tulisan tangan sederhana itu memperlihatkan cara berpikir seorang anak kecil yang mencoba menyampaikan perasaan kecewa sekaligus perpisahan. Tidak ada kalimat panjang atau penjelasan rinci, namun justru di situlah letak pilunya.
Penyebab Kekecewaan Masih Didalami
Hingga kini, pihak kepolisian masih mendalami penyebab pasti yang membuat YBR nekat mengakhiri hidupnya. Belum ada kesimpulan resmi terkait motif atau faktor pemicu tindakan tersebut.
Namun, di tengah masyarakat beredar informasi bahwa korban diduga kecewa karena tidak dibelikan buku tulis oleh ibunya. Informasi ini belum dikonfirmasi secara resmi oleh aparat penegak hukum dan masih sebatas kabar yang berkembang di lingkungan sekitar.
Ipda Benediktus menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung dan pihaknya belum dapat menyimpulkan satu penyebab tunggal.
“Belum diketahui secara pasti apa yang menjadi latar belakang utama kekecewaan korban. Kami masih mengumpulkan keterangan dari keluarga dan saksi,” jelasnya.
Sorotan pada Kondisi Psikologis Anak
Kasus ini membuka kembali diskusi publik mengenai kesehatan mental anak, khususnya di usia sekolah dasar. Banyak pihak menilai bahwa peristiwa ini menjadi alarm keras bagi orang tua, pendidik, dan lingkungan sekitar agar lebih peka terhadap kondisi emosional anak.
Psikolog anak kerap menekankan bahwa anak usia SD belum sepenuhnya mampu mengelola emosi, kekecewaan, dan tekanan batin. Hal-hal yang bagi orang dewasa terlihat sepele, bisa menjadi masalah besar bagi anak jika tidak direspons dengan empati.
Dalam konteks ini, surat YBR menjadi cerminan bahwa anak tersebut berusaha “berbicara” melalui caranya sendiri—menuliskan isi hati yang mungkin tak pernah tersampaikan secara langsung.
Duka Mendalam bagi Keluarga dan Warga Sekitar
Kepergian YBR meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terutama sang ibu yang menjadi satu-satunya sosok yang disebut dalam surat terakhir tersebut. Warga sekitar juga mengaku terkejut dan tidak menyangka peristiwa tersebut bisa terjadi pada anak seusia korban.
Sejumlah tokoh masyarakat setempat menyampaikan keprihatinan mereka dan berharap kejadian serupa tidak terulang. Mereka juga mendorong adanya pendampingan psikologis bagi keluarga korban.
Imbauan untuk Orang Tua dan Masyarakat
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa komunikasi antara orang tua dan anak memiliki peran krusial dalam tumbuh kembang emosional anak. Mendengarkan keluh kesah anak, sekecil apa pun, dapat mencegah dampak yang lebih besar di kemudian hari.
Para pemerhati anak juga mengimbau agar sekolah dan keluarga bekerja sama menciptakan lingkungan yang aman, suportif, dan terbuka bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya tanpa rasa takut atau terabaikan.
Penutup
Kasus meninggalnya YBR bukan sekadar peristiwa kriminal atau tragedi keluarga, melainkan potret nyata tentang rapuhnya kondisi emosional anak jika tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Sepucuk surat sederhana yang ditinggalkannya kini menjadi saksi bisu betapa pentingnya empati, komunikasi, dan kehadiran orang dewasa dalam kehidupan anak-anak.
Penyelidikan polisi masih terus berjalan. Sementara itu, publik diharapkan tidak berspekulasi berlebihan dan tetap menghormati privasi keluarga korban di tengah masa berduka.
