
KATURI NEWS – Serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran menambah kompleksitas dinamika geopolitik global. Menurut Ahmad Khoirul Umam, seorang pakar hubungan internasional dari Universitas Paramadina, serangan ini tidak hanya memperburuk ketegangan politik di kawasan Timur Tengah, tetapi juga memberikan tantangan besar terhadap kredibilitas lembaga-lembaga internasional yang memiliki mandat perdamaian, salah satunya Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian Dunia. Dalam pandangannya, tindakan militer ini semakin mempertegas kontradiksi antara retorika stabilitas dan perdamaian yang sering diungkapkan oleh kekuatan besar dunia dan praktik-praktik militer yang dilakukan di lapangan.
Ketegangan yang Berlarut-larut
Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah berlangsung cukup lama, terutama sejak Revolusi Iran pada 1979, yang menggulingkan rezim monarki pro-Barat dan menggantikannya dengan pemerintahan Republik Islam yang sangat anti-Barat. Dalam beberapa dekade terakhir, Iran dan Amerika Serikat terlibat dalam berbagai konflik diplomatik, termasuk program nuklir Iran yang kontroversial. Meski ada kesepakatan seperti JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action) pada 2015 yang memberikan harapan untuk menciptakan stabilitas, keputusan Amerika Serikat untuk menarik diri dari perjanjian tersebut pada 2018 semakin memperburuk hubungan kedua negara.
Di sisi lain, Israel yang memiliki hubungan tegang dengan Iran—terutama terkait dengan dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok militan seperti Hezbollah di Lebanon dan Hamas di Gaza—telah memperlihatkan sikap keras terhadap perkembangan program nuklir Iran. Keamanan nasional Israel, yang sangat bergantung pada supremasi teknologi dan militernya di kawasan, membuat negara ini tidak segan untuk mengambil langkah-langkah militer untuk menghentikan apa yang dianggapnya sebagai ancaman nuklir dari Iran.
Serangan bersama Amerika Serikat dan Israel ke Iran, meskipun dilatarbelakangi oleh alasan-alasan strategis, jelas memperburuk ketegangan di kawasan yang sudah sangat rentan tersebut. Konflik ini berpotensi menciptakan ketidakstabilan yang lebih luas, dengan dampak yang bisa meluas ke negara-negara tetangga seperti Irak, Suriah, dan negara-negara Teluk yang lain.
Dewan Perdamaian Dunia: Antara Retorika dan Realitas
Ahmad Khoirul Umam menilai bahwa serangan ini mempertajam kontradiksi yang selama ini ada dalam narasi perdamaian yang sering dipromosikan oleh kekuatan besar dunia. Dewan Perdamaian Dunia (BoP), yang merupakan lembaga internasional yang diharapkan dapat memfasilitasi penyelesaian konflik melalui dialog dan diplomasi, kini menghadapi ujian berat. Dalam beberapa dekade terakhir, Dewan Perdamaian telah diciptakan untuk mengurangi ketegangan internasional dan mendorong penyelesaian konflik tanpa melibatkan kekerasan. Namun, dengan adanya serangan ini, dunia dihadapkan pada kenyataan bahwa diplomasi dan perundingan seringkali terhambat oleh kepentingan nasional yang lebih besar, yang mendorong negara-negara untuk mengambil tindakan militer demi mempertahankan posisi strategis mereka.
Retorika perdamaian yang dicanangkan oleh negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa semakin tampak tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan. Dewan Perdamaian Dunia, yang seharusnya menjadi mediator dalam konflik global, kini dipandang oleh banyak pihak sebagai institusi yang tidak efektif dalam meredakan ketegangan yang ada. Serangan ini bahkan menjadi bukti bahwa upaya-upaya diplomatik yang telah dilakukan untuk mengurangi ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk dengan Iran, sering kali berakhir pada kegagalan.
Dampak Serangan terhadap Stabilitas Global
Serangan terhadap Iran tidak hanya berisiko meningkatkan ketegangan di Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas dunia secara lebih luas. Iran adalah negara dengan pengaruh besar di kawasan Timur Tengah, dan serangan militer terhadapnya bisa memicu reaksi berantai dari kelompok-kelompok yang berpihak pada Iran. Negara-negara seperti Rusia dan China, yang memiliki hubungan strategis dengan Iran, bisa terlibat lebih jauh dalam konflik ini, memperburuk ketegangan internasional yang sudah ada.
Dampak dari serangan ini juga bisa dirasakan di pasar energi global, mengingat Iran memiliki cadangan minyak dan gas yang sangat besar. Ketegangan yang meningkat di kawasan Teluk Persia dapat menyebabkan lonjakan harga energi, yang pada gilirannya memengaruhi perekonomian global, terutama negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi.
Selain itu, serangan ini juga dapat memperburuk situasi kemanusiaan di Iran dan negara-negara sekitarnya. Kehancuran infrastruktur yang diakibatkan oleh konflik militer biasanya membawa dampak langsung bagi rakyat sipil, yang sering kali menjadi korban utama dalam peperangan.
Kesimpulan
Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran bukan hanya menciptakan ketegangan baru di kawasan Timur Tengah, tetapi juga menguji kredibilitas lembaga-lembaga internasional seperti Dewan Perdamaian Dunia. Tindakan militer ini memperlihatkan betapa besar perbedaan antara retorika perdamaian dan kenyataan di lapangan. Bagi Dewan Perdamaian, serangan ini menjadi ujian besar apakah lembaga internasional ini mampu menghadirkan solusi yang lebih efektif untuk mengatasi konflik-konflik besar yang melibatkan kekuatan besar dunia, atau justru akan semakin terpinggirkan dalam upaya menciptakan perdamaian global.
Dengan dunia yang semakin terhubung dan ketegangan internasional yang semakin meningkat, penting bagi negara-negara besar untuk kembali mengedepankan diplomasi dan dialog sebagai solusi utama dalam menyelesaikan perselisihan. Serangan militer bukan hanya memperburuk situasi, tetapi juga menciptakan ketidakpercayaan yang lebih dalam antara negara-negara besar dan negara-negara lainnya. Oleh karena itu, Dewan Perdamaian Dunia dan lembaga internasional lainnya harus berupaya lebih keras untuk menemukan solusi damai yang dapat menghindari eskalasi kekerasan di masa depan.
