
KATURI NEWS – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan di Jakarta, Kamis (5/3/2026), mengalami pelemahan tipis sebesar 13 poin atau 0,08 persen, menurun menjadi Rp16.905 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp16.892 per dolar AS. Pelemahan ini dipengaruhi oleh gejolak geopolitik yang terus meningkat di Timur Tengah, khususnya risiko konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.
Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa tren penguatan indeks dolar AS juga menjadi faktor pendorong pelemahan rupiah. Hingga Kamis, indeks dolar bergerak mendekati angka 100, menandakan mata uang AS masih diminati investor global sebagai safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik. Menurut Rully, “Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh tren peningkatan indeks dollar yang masih berlanjut terus mendekati 100, masih dipengaruhi risiko perang terbuka AS-Israel dan Iran.”
Ketegangan geopolitik muncul setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta menimbulkan korban jiwa ribuan orang. Respons Iran pun meningkat, dengan serangan rudal balasan terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. Situasi ini menciptakan ketidakpastian yang signifikan bagi pasar finansial global, termasuk pasar valuta asing di Indonesia.
Selain faktor geopolitik, sentimen investor juga dipengaruhi oleh pernyataan pejabat Iran terkait hubungan mereka dengan Amerika Serikat. Mohammad Mokhber, ajudan mendiang Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, menyatakan pada Rabu (4/3) bahwa Iran tidak memiliki niat untuk mengadakan perundingan dengan AS dan menegaskan akan melanjutkan permusuhan di antara kedua negara. Pernyataan ini memperkuat pandangan bahwa eskalasi konflik dapat berlanjut, yang secara langsung mempengaruhi persepsi risiko di pasar keuangan.
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga mencerminkan kecenderungan investor global untuk mencari aset yang lebih aman saat ketegangan internasional meningkat. Dolar AS, sebagai mata uang cadangan utama dunia, cenderung menguat ketika ada risiko geopolitik, sementara mata uang emerging market, termasuk rupiah, mengalami tekanan jual. Fenomena ini sejalan dengan dinamika pasar global, di mana ketidakpastian politik dan militer sering memicu volatilitas tinggi di pasar valuta asing.
Dampak pelemahan rupiah ini tidak hanya terlihat pada perdagangan harian, tetapi juga memiliki implikasi lebih luas bagi perekonomian Indonesia. Nilai tukar yang melemah dapat meningkatkan biaya impor, khususnya bahan baku dan energi, sehingga berpotensi mempengaruhi harga barang dan inflasi domestik. Sementara itu, bagi pelaku usaha yang memiliki utang dalam dolar AS, depresiasi rupiah bisa meningkatkan beban pembayaran.
Meski begitu, pelemahan sebesar 0,08 persen masih tergolong moderat, dan pasar menunggu perkembangan lebih lanjut terkait situasi di Timur Tengah serta langkah diplomasi internasional untuk meredakan ketegangan. Pemerintah dan otoritas moneter Indonesia biasanya memantau kondisi geopolitik secara intensif, sekaligus menyiapkan langkah-langkah stabilisasi bila diperlukan, termasuk intervensi pasar valuta asing atau kebijakan makroprudensial.
Secara keseluruhan, pergerakan rupiah pada Kamis mencerminkan kombinasi tekanan eksternal dari risiko geopolitik dan penguatan dolar AS. Para analis memproyeksikan bahwa volatilitas rupiah masih akan tinggi dalam beberapa hari ke depan, menunggu arah perkembangan konflik di Timur Tengah serta respons pasar global terhadap risiko perang terbuka yang berkelanjutan.
