
KATURI NEWS – Pemilihan seorang perempuan sebagai pemimpin tertinggi Gereja Anglikan Inggris menjadi tonggak sejarah baru dalam perjalanan panjang institusi keagamaan tersebut. Sarah Mullally resmi dilantik sebagai Uskup Agung Canterbury ke-106 pada Rabu, 25 Maret 2026. Pelantikan ini menandai perubahan besar dalam tradisi Gereja Inggris yang telah berlangsung selama lebih dari 1.400 tahun.
Selama berabad-abad, posisi Uskup Agung Canterbury selalu dipegang oleh laki-laki. Jabatan ini tidak hanya penting di tingkat nasional Inggris, tetapi juga memiliki pengaruh global. Sebagai pemimpin spiritual, Uskup Agung Canterbury membimbing sekitar 85 juta umat Kristen Anglikan di seluruh dunia yang tergabung dalam Komuni Anglikan. Oleh karena itu, terpilihnya Sarah Mullally mencerminkan perubahan besar dalam cara gereja melihat peran perempuan dalam kepemimpinan.
Perjalanan Sarah Mullally menuju posisi ini bukanlah sesuatu yang instan. Ia telah lama dikenal sebagai sosok berpengalaman dalam pelayanan gereja dan memiliki latar belakang kuat di bidang kesehatan, termasuk pernah menjabat sebagai perawat senior sebelum memasuki kehidupan religius secara penuh. Pengalamannya tersebut memberi perspektif unik dalam memimpin, terutama dalam isu-isu kemanusiaan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.
Penunjukan Sarah Mullally sebagai Uskup Agung Canterbury sebenarnya telah diumumkan sejak Oktober 2025. Proses ini kemudian dikonfirmasi secara resmi pada Januari 2026 setelah melalui tahapan administratif dan persetujuan yang diperlukan dalam struktur gereja. Puncaknya adalah pelantikan resmi pada 25 Maret 2026, yang juga bertepatan dengan momen menjelang ulang tahunnya yang ke-64. Waktu pelantikan ini menjadi simbol awal baru, tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagi Gereja Anglikan secara keseluruhan.
Kehadiran pemimpin perempuan di posisi tertinggi ini membawa harapan baru, terutama dalam hal inklusivitas dan kesetaraan gender. Dalam beberapa dekade terakhir, Gereja Anglikan memang telah mulai membuka ruang bagi perempuan untuk menjadi pendeta dan uskup. Namun, jabatan Uskup Agung Canterbury tetap menjadi simbol terakhir dari struktur kepemimpinan yang sebelumnya belum pernah ditembus oleh perempuan.
Reaksi terhadap pelantikan ini datang dari berbagai kalangan. Banyak pihak menyambutnya sebagai langkah progresif yang mencerminkan perkembangan zaman dan kebutuhan gereja untuk lebih relevan dengan masyarakat modern. Namun, tidak sedikit pula yang memandang perubahan ini sebagai tantangan terhadap tradisi lama yang telah mengakar kuat.
Sebagai pemimpin baru, Sarah Mullally dihadapkan pada berbagai tantangan besar. Selain menjaga persatuan di antara gereja-gereja Anglikan yang tersebar di berbagai negara dengan latar belakang budaya berbeda, ia juga harus menghadapi isu-isu kontemporer seperti perubahan sosial, peran agama dalam kehidupan publik, serta hubungan antarumat beragama. Kepemimpinannya akan diuji dalam menyeimbangkan nilai-nilai tradisional dengan tuntutan modernitas.
Terlepas dari berbagai tantangan tersebut, pelantikan ini tetap menjadi simbol penting dalam sejarah Gereja Inggris. Ini menunjukkan bahwa institusi keagamaan pun dapat beradaptasi dan berkembang seiring perubahan zaman. Dengan kepemimpinan Sarah Mullally, banyak yang berharap Gereja Anglikan dapat menjadi lebih inklusif, relevan, dan mampu menjawab kebutuhan umat di era global saat ini.
Peristiwa ini bukan hanya tentang pergantian pemimpin, melainkan juga tentang perubahan paradigma. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu milenium, seorang perempuan memegang peran tertinggi dalam Gereja Anglikan. Hal ini menjadi bukti bahwa transformasi dalam institusi tradisional bukanlah sesuatu yang mustahil, melainkan bagian dari perjalanan menuju masa depan yang lebih terbuka dan setara.
