
KATURI NEWS – Sebuah video yang memperlihatkan seorang murid sekolah dasar (SD) menangis tersedu-sedu karena tidak memiliki uang jajan mendadak viral di media sosial. Tayangan singkat tersebut berhasil menyentuh hati banyak netizen karena menampilkan momen sederhana namun sarat empati antara seorang guru dan muridnya.
Dalam video yang beredar luas, tampak seorang bocah laki-laki berdiri di hadapan gurunya dengan wajah penuh air mata. Tangisannya terdengar jelas, menunjukkan kesedihan yang sulit ia sembunyikan. Sang guru terlihat berusaha menenangkan murid tersebut dengan cara yang lembut dan penuh perhatian.
Adegan itu menjadi perbincangan hangat karena dianggap merepresentasikan realitas yang masih dialami sebagian anak-anak di lingkungan sekolah, sekaligus memperlihatkan peran penting guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai sosok pendamping emosional bagi muridnya.
Guru Menenangkan Murid dengan Penuh Empati
Dalam video tersebut, sang guru tampak mengajak muridnya berbicara secara perlahan. Ia mendekat, mengusap air mata sang bocah, dan mencoba memahami apa yang membuat muridnya begitu sedih. Tidak ada bentakan atau nada tinggi, hanya pendekatan penuh empati.
“Hati guru mana yang tidak terasa sedih melihat muridnya menangis tersedu-sedu,” demikian bunyi keterangan yang menyertai unggahan video tersebut.
Kalimat itu seolah menjadi cerminan perasaan banyak orang yang menonton video tersebut. Dalam waktu singkat, video itu dibagikan ulang oleh berbagai akun dan menuai ribuan komentar.
Diejek Teman Karena Tak Ikut Jajan
Sang guru kemudian bertanya langsung kepada muridnya mengenai alasan ia menangis. Dengan suara terputus-putus karena terisak, bocah itu mengungkapkan bahwa dirinya diekjek oleh teman-temannya karena tidak ikut jajan seperti murid lainnya.
“Kamu kenapa?” tanya sang guru dengan nada lembut.
“Saya diejek, saya juga tidak ada uang jajan,” jawab murid itu sambil menangis.
Pengakuan sederhana itu justru menjadi bagian paling menyentuh bagi banyak penonton. Bagi anak seusia sekolah dasar, ejekan dari teman sebaya bisa terasa sangat menyakitkan dan berdampak besar secara emosional.
Sudah Seminggu Tak Jajan di Sekolah
Percakapan antara guru dan murid itu berlanjut. Sang guru kemudian menanyakan sudah berapa lama murid tersebut tidak membeli jajanan di sekolah. Jawaban bocah itu kembali mengundang keprihatinan.
“Sudah 1 minggu, Bu. Mama papa belum kirim uang,” ujarnya lirih.
Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa kondisi yang dialami bocah itu bukan terjadi sehari atau dua hari, melainkan sudah berlangsung cukup lama. Selama satu minggu penuh, ia harus menahan diri ketika melihat teman-temannya jajan di sekolah.
Situasi tersebut diduga menjadi pemicu utama munculnya rasa sedih dan tekanan emosional yang akhirnya membuat bocah itu menangis di hadapan gurunya.
Latar Belakang Keluarga Murid
Berdasarkan informasi yang beredar, bocah laki-laki tersebut merupakan anak dari tiga bersaudara. Ia bersekolah di SD tempat guru yang menenangkannya itu mengajar.
Tidak ada informasi lebih lanjut mengenai kondisi ekonomi keluarga atau alasan orang tua belum mengirim uang jajan. Namun, fakta bahwa sang murid harus menahan diri selama seminggu tanpa jajan cukup menggambarkan tantangan yang dihadapinya.
Pihak pengunggah video juga tidak menyebutkan identitas lengkap sang murid maupun sekolahnya, demi menjaga privasi anak tersebut.
Reaksi Netizen: Haru dan Simpati
Video ini langsung menuai respons luas dari netizen. Banyak yang mengaku terharu melihat sikap sang guru yang begitu sabar dan penuh empati. Tak sedikit pula yang mengingatkan bahwa kejadian seperti ini masih sering terjadi di lingkungan sekolah, terutama bagi anak-anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Sebagian netizen juga menyampaikan pesan agar sesama murid diajarkan empati sejak dini, sehingga tidak mudah mengejek teman yang berada dalam kondisi berbeda.
Komentar lain menyoroti peran guru yang tidak hanya bertugas mengajar pelajaran akademik, tetapi juga menjadi tempat aman bagi murid untuk mengungkapkan perasaan mereka.
Pentingnya Empati di Lingkungan Sekolah
Kisah ini kembali menegaskan pentingnya empati dan kepedulian sosial di lingkungan sekolah. Bagi anak-anak, sekolah bukan hanya tempat belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga ruang untuk membangun rasa aman dan kepercayaan diri.
Ejekan dari teman sebaya, meskipun terlihat sepele bagi orang dewasa, dapat berdampak besar bagi kondisi mental anak. Dalam konteks ini, kehadiran guru yang peka dan peduli menjadi sangat penting.
Sikap sang guru dalam video tersebut dianggap banyak pihak sebagai contoh nyata pendekatan humanis dalam dunia pendidikan.
Media Sosial dan Realitas Sosial
Viralnya video ini juga menunjukkan bagaimana media sosial sering kali menjadi cermin realitas sosial yang jarang terlihat secara langsung. Momen sederhana di ruang kelas bisa menjadi pengingat bagi banyak orang tentang masih adanya anak-anak yang menghadapi keterbatasan dalam keseharian mereka.
Namun demikian, sejumlah pihak juga mengingatkan agar publik tetap bijak dalam menyikapi konten viral, terutama yang melibatkan anak-anak. Perlindungan privasi dan martabat anak tetap harus menjadi perhatian utama.
Penutup
Kisah bocah SD yang menangis karena tidak memiliki uang jajan ini bukan sekadar cerita viral di media sosial. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat tentang pentingnya empati, kepedulian, dan peran guru sebagai figur pendukung bagi murid-muridnya.
Sikap sang guru yang menenangkan muridnya dengan penuh kelembutan mendapat apresiasi luas, sekaligus membuka ruang diskusi tentang bagaimana lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang lebih inklusif dan penuh pengertian bagi semua anak, tanpa memandang latar belakang mereka.
Di balik tangisan seorang bocah, tersimpan pesan sederhana namun kuat: perhatian kecil dan empati tulus bisa berarti besar bagi seorang anak.
