
KATURI NEWS – Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro, mengungkapkan bahwa penganiayaan yang menimpa Bripda Dirja Pratama (19) terjadi akibat masalah hirarki antara senior dan junior di barak tempat mereka bertugas. Dalam keterangannya kepada wartawan pada Rabu, 25 Februari 2026, Kapolda menjelaskan bahwa peristiwa penganiayaan tersebut dipicu oleh tindakan korban yang menolak memenuhi panggilan dari seniornya untuk menghadap.
Kronologi Penganiayaan yang Dilakukan Saat Subuh
Menurut penjelasan Kapolda, masalah dimulai ketika senior korban marah karena Bripda Dirja Pratama tidak memenuhi panggilan untuk menghadap. Panggilan tersebut adalah bagian dari aturan yang berlaku dalam hierarki kedinasan di barak, di mana anggota yang lebih junior diharapkan untuk menghormati perintah senior mereka. Namun, Bripda Dirja Pratama menolak untuk menghadap, yang membuat seniornya merasa dipermalukan atau tidak dihargai.
Sebagai bentuk protes atas tindakan korban yang tidak memenuhi panggilan, senior tersebut kemudian mendatangi Bripda Dirja Pratama di barak pada pagi hari, tepatnya saat waktu salat subuh. Setelah menjemput korban, senior tersebut langsung melakukan penganiayaan terhadapnya, memukul dan menyiksa korban di tempat tersebut. Kejadian ini jelas menggambarkan betapa masalah internal yang seharusnya dapat diselesaikan secara dewasa dan profesional, justru berujung pada tindakan kekerasan yang tak termaafkan.
Pengaruh Masalah Hirarki di Lingkungan Militer dan Kepolisian
Hirarki dalam lingkungan militer atau kepolisian seringkali menjadi bagian yang sangat dijunjung tinggi. Setiap anggota diwajibkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada atasan mereka, sementara atasan pun berkewajiban memberikan bimbingan yang tepat kepada anak buahnya. Namun, dalam beberapa kasus, seperti yang terjadi pada Bripda Dirja Pratama, ketegangan antara senior dan junior bisa berkembang menjadi konflik yang lebih serius. Ketika hal tersebut terjadi, sangat penting untuk pihak berwenang bertindak cepat dalam menanggapi masalah internal yang terjadi dalam institusi tersebut.
Tindak kekerasan dalam bentuk apapun, apalagi yang dipicu oleh masalah pribadi antar anggota, sangat mencoreng citra lembaga kepolisian atau militer. Oleh karena itu, pengungkapan motif penganiayaan ini oleh Kapolda Sulsel diharapkan bisa menjadi bahan evaluasi untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan sehat bagi seluruh anggota kepolisian dan militer di seluruh Indonesia.
Tindak Lanjut Kasus Penganiayaan
Pihak kepolisian setempat telah mengambil langkah-langkah untuk menyelidiki kejadian ini lebih lanjut. Kapolda Sulsel menegaskan bahwa tindakan kekerasan seperti ini tidak bisa diterima dan akan ditindak sesuai dengan aturan yang berlaku. Proses hukum terhadap pelaku penganiayaan kini sedang berjalan, dan diharapkan agar keadilan dapat ditegakkan dengan segera.
Selain itu, Kapolda juga mengingatkan agar setiap anggota kepolisian dan militer dapat lebih memperhatikan hubungan antar sesama, terutama dalam hal menjaga etika dan kedisiplinan yang sesuai dengan peraturan yang ada. Hal ini sangat penting untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
Kesimpulan
Kasus penganiayaan yang menimpa Bripda Dirja Pratama menunjukkan betapa pentingnya menjaga hubungan antar anggota dalam sebuah organisasi, terutama dalam lingkungan yang sangat bergantung pada hirarki dan kedisiplinan. Insiden ini menjadi pengingat bahwa masalah yang tampaknya sederhana, seperti ketidakhadiran dalam memenuhi panggilan, tidak seharusnya berujung pada kekerasan. Diharapkan pihak berwenang dapat segera menyelesaikan kasus ini dengan adil dan memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang di masa yang akan datang.
