
KATURI NEWS – Tak banyak yang menyangka bahwa seorang petani sederhana dari Trenggalek, Jawa Timur, pernah menjadi salah satu orang terkaya di daerahnya pada awal 1990-an. Namanya Suradji, seorang petani yang hidup dari hasil bumi, namun nasibnya berubah drastis setelah memenangkan undian Sumbangan Sosial Dermawan Berhadiah (SDSB) pada tahun 1991. Hadiah yang ia terima kala itu mencapai Rp1 miliar, jumlah yang luar biasa besar pada masanya dan setara dengan sekitar Rp100 miliar jika dikonversi dengan nilai saat ini.
Kemenangan Suradji menjadi buah bibir, tidak hanya di Trenggalek, tetapi juga di berbagai daerah lain. Pada awal 1990-an, Rp1 miliar adalah angka yang hampir mustahil dibayangkan oleh masyarakat desa. Dengan uang sebanyak itu, seseorang bisa membeli ratusan hektare tanah, membangun puluhan rumah, atau hidup berkecukupan hingga beberapa generasi ke depan.
Dari Sawah ke Status Miliarder
Sebelum memenangkan SDSB, Suradji menjalani kehidupan sebagai petani biasa. Ia menggarap sawah, menggantungkan penghasilan dari hasil panen yang sangat bergantung pada musim. Seperti kebanyakan petani lain, hidupnya jauh dari kemewahan. Namun, keberuntungan datang melalui undian SDSB yang kala itu populer dan legal di Indonesia.
Saat kabar kemenangannya tersebar, warga sekitar berbondong-bondong datang ke rumah Suradji. Banyak yang tak percaya seorang petani desa bisa memperoleh hadiah sebesar itu. Ia pun sempat menjadi sorotan media dan dikenal sebagai “petani miliarder” dari Trenggalek.
Jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi saat ini, Rp1 miliar pada tahun 1991 memiliki daya beli yang sangat besar. Para ahli ekonomi memperkirakan nilainya setara dengan sekitar Rp100 miliar saat ini, memperhitungkan inflasi dan perubahan nilai rupiah selama lebih dari tiga dekade.
Tidak Lupa Asal-usul
Meski mendadak kaya raya, Suradji dikenal tidak berubah sikap. Ia tetap hidup sederhana dan tidak memamerkan kekayaannya. Rumahnya memang direnovasi agar lebih layak, namun jauh dari kesan mewah. Ia tetap bergaul dengan warga desa seperti biasa, menghadiri kegiatan sosial, dan menjaga hubungan baik dengan tetangga.
Yang paling dikenang dari Suradji bukanlah jumlah uang yang dimilikinya, melainkan kepeduliannya terhadap sesama. Ia menggunakan sebagian besar hartanya untuk membantu warga sekitar. Mulai dari memperbaiki jalan desa, membantu pembangunan fasilitas umum, hingga menolong tetangga yang kesulitan biaya pendidikan dan kesehatan.
Bagi warga Trenggalek, Suradji bukan sekadar pemenang undian, tetapi simbol bahwa kekayaan bisa membawa manfaat jika dikelola dengan hati nurani.
Membantu Tanpa Banyak Bicara
Berbeda dengan kebanyakan orang yang mendadak kaya, Suradji tidak gemar mencari perhatian. Bantuan yang ia berikan sering kali dilakukan secara diam-diam. Banyak warga yang baru mengetahui bahwa biaya sekolah anaknya atau biaya pengobatan keluarganya berasal dari Suradji setelah bantuan itu diterima.
Ia juga membantu membuka lapangan kerja dengan membeli lahan pertanian dan mengelolanya bersama warga setempat. Dengan cara ini, Suradji tidak hanya memberi bantuan sesaat, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekitar.
Pelajaran dari Kisah Suradji
Kisah Suradji menjadi cerita langka tentang bagaimana keberuntungan besar tidak selalu mengubah nilai hidup seseorang. Ia menunjukkan bahwa kekayaan bukan hanya soal menikmati hasil, tetapi juga soal tanggung jawab sosial. Dalam budaya masyarakat desa yang menjunjung tinggi gotong royong, sikap Suradji memperkuat rasa kebersamaan.
Di tengah banyaknya kisah pemenang undian yang berakhir tragis karena salah mengelola uang, cerita Suradji justru menjadi contoh sebaliknya. Ia tidak terjerumus dalam gaya hidup berlebihan, tidak terjebak konflik, dan tidak kehilangan jati diri.
Legenda Lokal yang Tetap Dikenang
Hingga kini, nama Suradji masih dikenang oleh warga Trenggalek sebagai sosok petani dermawan yang pernah menjadi miliarder. Kisahnya sering diceritakan dari mulut ke mulut, menjadi inspirasi bahwa latar belakang sederhana bukan penghalang untuk berbuat besar bagi sesama.
Cerita Suradji bukan hanya tentang uang Rp1 miliar atau status miliarder, melainkan tentang nilai kemanusiaan, kesederhanaan, dan kepedulian sosial. Sebuah kisah yang relevan sepanjang masa, terutama di tengah dunia yang sering mengukur kesuksesan hanya dari materi.
