
KATURI NEWS – Nama Sipan Khalil menjadi simbol luka mendalam yang masih membekas di hati komunitas Yazidi di Irak. Wanita asal wilayah Sinjar ini mengungkapkan pengalaman hidup yang mengerikan saat dirinya diculik oleh kelompok ISIS, dipisahkan dari keluarga, dijadikan budak, dan mengalami berbagai bentuk penyiksaan yang sulit dibayangkan. Kisahnya bukan sekadar cerita pribadi, tetapi juga potret tragedi kemanusiaan yang dialami ribuan perempuan Yazidi selama konflik bersenjata di Irak.
Sipan Khalil masih mengingat dengan jelas hari ketika desanya diserbu oleh ISIS. Saat itu, kehidupan berjalan sederhana dan damai. Ia tinggal bersama keluarga, menjalani rutinitas sehari-hari tanpa pernah membayangkan bahwa kelompok bersenjata akan menghancurkan segalanya dalam hitungan jam. Serangan itu datang secara tiba-tiba. Suara tembakan, teriakan, dan kepanikan menyelimuti desa. Banyak pria dibunuh di tempat, sementara perempuan dan anak-anak digiring paksa.
Dalam kondisi ketakutan, Sipan bersama perempuan Yazidi lainnya dibawa ke lokasi penahanan. Di sanalah mimpi buruk yang sesungguhnya dimulai. Ia menceritakan bagaimana mereka diperlakukan bukan sebagai manusia, melainkan sebagai barang rampasan perang. Identitas, harga diri, dan kebebasan mereka dirampas secara sistematis.
Sipan mengungkapkan bahwa ia dipaksa berpindah-pindah tangan, dijual dan diperlakukan sebagai budak. Setiap hari dipenuhi ancaman, kekerasan fisik, dan tekanan mental. Ia hidup dalam ketakutan konstan, tidak tahu apakah esok hari masih bisa bertahan. Penyiksaan yang dialami bukan hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga trauma psikologis yang mendalam.
Yang paling menyakitkan bagi Sipan adalah ketidakpastian nasib keluarganya. Ia tidak mengetahui apakah orang tua, saudara, atau kerabatnya masih hidup. Dalam keterasingan dan penderitaan, satu-satunya hal yang membuatnya bertahan adalah harapan kecil untuk suatu hari bisa bebas dan kembali menjadi manusia seutuhnya.
Selama masa penahanan, Sipan menyaksikan banyak perempuan Yazidi lain mengalami nasib serupa. Beberapa kehilangan nyawa, sementara yang lain kehilangan harapan. Kisah-kisah tersebut terus membekas di ingatannya dan menjadi alasan mengapa ia akhirnya memilih bersuara setelah berhasil selamat. Menurutnya, diam hanya akan membuat penderitaan mereka terlupakan.
Kesempatan melarikan diri datang setelah waktu yang sangat panjang. Dengan keberanian dan bantuan pihak tertentu, Sipan akhirnya berhasil keluar dari cengkeraman ISIS. Namun kebebasan tidak serta-merta menghapus trauma. Ia mengaku membutuhkan waktu lama untuk kembali beradaptasi dengan kehidupan normal. Bayangan masa lalu kerap menghantui, terutama saat malam hari.
Kini, Sipan Khalil berusaha bangkit dan menjadikan pengalamannya sebagai suara bagi para korban yang tidak mampu berbicara. Ia ingin dunia mengetahui apa yang terjadi pada perempuan Yazidi dan memastikan kejahatan tersebut tidak diabaikan. Baginya, pengakuan dan keadilan sama pentingnya dengan pemulihan pribadi.
Sipan juga menekankan bahwa penderitaan perempuan dalam konflik bersenjata sering kali luput dari perhatian. Ia berharap komunitas internasional tidak hanya melihat konflik dari sudut pandang politik atau militer, tetapi juga dari sisi kemanusiaan. Perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak harus menjadi prioritas utama dalam setiap konflik.
Kisah Sipan Khalil adalah pengingat keras tentang dampak perang dan ekstremisme terhadap kehidupan manusia. Di balik angka statistik dan laporan konflik, terdapat individu-individu yang hidupnya hancur dan harus memulai kembali dari nol. Dengan membagikan curahan hatinya, Sipan tidak hanya mencari kesembuhan, tetapi juga keadilan dan empati dari dunia yang pernah membiarkan tragedi itu terjadi.
