
KATURI NEWS – Pada Rabu, 21 Januari 2026, wilayah selatan Lebanon dan area perbatasan Suriah–Lebanon kembali menjadi target serangan udara oleh militer Israel, dalam insiden yang menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai hampir 20 lainnya — meskipun ada gencatan senjata resmi yang dimediasi oleh Amerika Serikat sejak akhir tahun 2024 antara Israel dan kelompok Hizbullah.
Dua korban tewas tersebut dilaporkan berasal dari serangan drone Israel yang menargetkan kendaraan di dua lokasi berbeda di selatan Lebanon — satu di distrik Sidon (Zahrani) dan satu lagi di distrik Tyre (Bazuriyeh). Sementara itu, korban luka — termasuk beberapa jurnalis — terjadi terutama di kota Qanariyat setelah serangkaian serangan udara yang menimpa permukiman warga.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat bahwa puluhan warga terluka dan dirawat di rumah sakit setempat, dengan beberapa korban luka parah. Serangan tersebut tidak hanya menimbulkan kehilangan nyawa, tetapi juga meningkatkan ketakutan dan ketidakstabilan di komunitas perbatasan yang sudah rentan setelah tahun-tahun konflik.
Apa yang Dikatakan Israel: Target Serangan & Klaim Militer
Pemerintah Israel menyatakan bahwa serangan tersebut menargetkan empat titik perlintasan di sepanjang perbatasan Suriah dan Lebanon yang diklaim sebagai jalur yang digunakan oleh kelompok Hizbullah untuk menyelundupkan senjata dan perlengkapan militer lainnya ke Lebanon. Menurut militer Israel, operasi ini merupakan upaya mempertahankan keamanan dan mencegah penguatan kemampuan militer Hizbullah, yang selama ini menjadi aktor utama yang berkonfrontasi dengan Israel di perbatasan utara.
Lebih jauh, militer Israel mengumumkan bahwa salah satu sasaran operasi adalah Muhammad Awasha, yang disebut sebagai “penyelundup senjata utama Hizbullah”. Israel mengklaim telah mengeliminasi tokoh tersebut di wilayah sekitar Sidon — sebuah langkah yang digambarkan Tel Aviv sebagai pukulan terhadap jaringan logistik Hizbullah yang mengandalkan jalur lintas perbatasan untuk memasok senjata dari negara lain.
Militer Israel juga menyatakan bahwa serangan udara itu dilakukan dengan presisi dan peringatan awal, serta menekankan bahwa operasi semacam ini akan terus dilakukan untuk mencegah ancaman terhadap keamanan negaranya, termasuk upaya untuk menonaktifkan gudang senjata, rute logistik, dan titik perlindungan kelompok bersenjata.
Reaksi dan Tanggapan Pihak Lebanon dan Internasional
Pemerintah Lebanon mengecam keras serangan tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata yang telah disepakati pada akhir 2024. Pejabat Lebanon mengatakan bahwa tindakan militer Israel — terutama yang menargetkan permukiman dan area sipil — merupakan ancaman terhadap kedaulatan negara dan stabilitas regional. Mereka juga menuduh Israel sengaja melanggar kesepakatan untuk menciptakan eskalasi baru.
Selain itu, Presiden Lebanon Joseph Aoun dan pejabat tinggi negara lainnya mengutuk serangan itu sebagai “agresi sistematis”, dengan menekankan bahwa tindakan semacam ini menghambat upaya perdamaian dan rekonstruksi yang sedang berlangsung. Kritik serupa juga muncul dari beberapa pemerintah Arab dan kelompok internasional yang menyerukan kembalinya komitmen penuh terhadap gencatan senjata dan pencarian solusi diplomatik.
Di sisi lain, para analis internasional menunjukkan bahwa meskipun ada gencatan senjata yang berlaku sejak November 2024 untuk mengakhiri pertempuran besar antara Israel dan Hizbullah, insiden seperti ini mencerminkan ketegangan yang masih tinggi dan fragilitas perdamaian di kawasan perbatasan. Serangan yang terus terjadi menunjukkan bahwa meskipun konflik utama mereda, aksi militer kecil-kecilan dan operasi unilateral masih dapat meledak kapan saja.
Konteks Lebih Luas: Sejarah Konflik dan Dampaknya
Konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon Selatan bukanlah fenomena baru. Sejak perang 2006, wilayah selatan Lebanon sering kali menjadi titik panas bagi bentrokan bersenjata, terutama antara militer Israel dan milisi Hizbullah yang didukung Iran. Serangan udara, serangan darat, dan pengepungan telah menciptakan siklus konflik yang berkepanjangan, disertai dengan korban jiwa di kedua pihak dan kerusakan signifikan pada infrastruktur sipil.
Perjanjian gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada akhir 2024 dimaksudkan untuk menghentikan pertikaian besar yang berlangsung lebih dari satu tahun. Namun, serangan berulang seperti insiden 21 Januari 2026 mencerminkan bahwa ketegangan tetap tinggi — dan bahwa penyelesaian yang lebih komprehensif masih jauh dari jangkauan.
Kesimpulan: Ketegangan yang Belum Reda
Insiden serangan udara tanggal 21 Januari 2026 menunjukkan bahwa meskipun ada gencatan senjata resmi antara Israel dan Hizbullah, situasi di selatan Lebanon dan perbatasan Suriah–Lebanon masih jauh dari stabil. Serangan semacam ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan luka, tetapi juga memicu kecaman diplomatik yang bisa memperumit proses perdamaian.
Klaim Israel bahwa operasi ini dimaksudkan untuk menargetkan jaringan senjata Hizbullah mempertegas bahwa konflik antara kedua pihak masih berakar pada isu keamanan yang kompleks — yang tidak mudah diselesaikan hanya melalui gencatan senjata permanen.
