
KATURI NEWS – Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi pada Kamis pagi. Letusan gunung api tertinggi di Pulau Jawa tersebut menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 700 meter di atas puncak. Aktivitas ini menambah daftar erupsi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dan kembali mengingatkan masyarakat akan potensi bahaya yang ditimbulkan oleh Gunung Semeru.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang menyampaikan bahwa erupsi terjadi pada Kamis pukul 07.20 WIB. Kolom letusan teramati mencapai ketinggian sekitar 700 meter di atas puncak atau sekitar 4.376 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kolom abu terpantau berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang dan mengarah ke beberapa sektor sesuai kondisi angin saat kejadian.
Gunung Semeru hingga kini masih berstatus Level III atau Siaga. Status tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik masih cukup tinggi dan berpotensi menimbulkan bahaya, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan gunung. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara konsisten mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di zona berbahaya yang telah ditetapkan.
Dalam rekomendasinya, PVMBG meminta warga untuk tidak beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh delapan kilometer dari puncak. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan kegiatan dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan, karena berpotensi terdampak awan panas, aliran lava, serta lahar hujan yang dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama saat intensitas curah hujan meningkat.
Erupsi Gunung Semeru merupakan fenomena yang relatif sering terjadi karena karakter gunung tersebut yang bertipe strato aktif. Dalam beberapa tahun terakhir, Semeru kerap mengalami letusan dengan intensitas bervariasi, mulai dari erupsi kecil berupa hembusan abu hingga erupsi yang disertai guguran awan panas. Kondisi ini membuat wilayah di sekitarnya harus selalu berada dalam kesiapsiagaan tinggi.
Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan berbagai pihak terkait. Langkah-langkah mitigasi bencana juga terus disosialisasikan kepada masyarakat, khususnya warga yang tinggal di daerah rawan bencana. Informasi terkini mengenai aktivitas Gunung Semeru secara rutin disampaikan melalui pos pengamatan dan kanal resmi pemerintah agar masyarakat tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Selain ancaman langsung dari letusan, abu vulkanik juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, seperti menurunkan jarak pandang, mengganggu kesehatan pernapasan, serta berdampak pada sektor pertanian. Oleh karena itu, masyarakat di sekitar gunung diimbau untuk menggunakan masker apabila terjadi hujan abu dan membatasi aktivitas di luar ruangan jika kondisi tidak memungkinkan.
Hingga laporan ini disusun, tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan besar akibat erupsi tersebut. Namun, pihak berwenang menegaskan bahwa kewaspadaan tetap harus ditingkatkan mengingat aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih fluktuatif. Masyarakat diharapkan tetap tenang, waspada, serta mematuhi seluruh rekomendasi dari petugas guna meminimalkan risiko yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas gunung api tersebut.
