
KATURI NEWS – FIFA akhirnya angkat bicara mengenai kepastian penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di tengah kembali diberlakukannya kebijakan penangguhan pemrosesan visa oleh pemerintah Amerika Serikat. Kebijakan tersebut dikeluarkan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menempati Gedung Putih pada Januari 2025 dan langsung memperketat aturan perjalanan internasional bagi puluhan negara.
Isu ini dengan cepat memicu perhatian global mengingat Amerika Serikat merupakan salah satu dari tiga tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko. Turnamen tersebut akan menjadi Piala Dunia pertama dengan format 48 tim dan melibatkan jutaan pendukung dari berbagai negara. Kebijakan imigrasi yang lebih ketat pun menimbulkan kekhawatiran terkait akses pemain, ofisial, dan suporter internasional ke wilayah Amerika Serikat.
Menanggapi situasi tersebut, FIFA menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada perubahan terhadap rencana penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Federasi sepak bola dunia itu menyatakan tetap berpegang pada kesepakatan awal dengan negara-negara tuan rumah dan menekankan bahwa persiapan turnamen berjalan sesuai rencana.
Dalam pernyataan resminya, FIFA menyebut bahwa Piala Dunia merupakan ajang global yang berada di bawah koordinasi ketat antara federasi, pemerintah tuan rumah, dan otoritas terkait. Oleh karena itu, aspek mobilitas internasional, termasuk visa dan izin masuk, telah menjadi bagian dari perencanaan sejak proses penunjukan tuan rumah dilakukan.
FIFA juga menekankan bahwa penyelenggaraan Piala Dunia selalu disertai dengan komitmen khusus dari negara tuan rumah untuk menjamin akses bagi seluruh pihak yang terlibat. Komitmen tersebut mencakup pemain, ofisial tim, perangkat pertandingan, perwakilan media, hingga suporter dari berbagai belahan dunia. Menurut FIFA, hal ini merupakan syarat fundamental yang harus dipenuhi agar turnamen dapat berjalan sesuai standar internasional.
Kebijakan penangguhan pemrosesan visa yang diberlakukan pemerintahan Trump memang menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengamat olahraga dan federasi sepak bola nasional. Sejumlah pihak menilai bahwa kebijakan tersebut berpotensi berdampak pada kelancaran turnamen, khususnya jika menyangkut negara-negara yang tim nasionalnya lolos ke Piala Dunia atau memiliki basis suporter besar.
Namun demikian, FIFA menegaskan bahwa masih terdapat waktu yang cukup panjang sebelum Piala Dunia 2026 digelar. Dengan jarak waktu tersebut, FIFA optimistis solusi akan ditemukan melalui jalur diplomasi dan koordinasi antar lembaga. FIFA juga menyebut bahwa dialog dengan pemerintah Amerika Serikat serta dua tuan rumah lainnya akan terus dilakukan untuk memastikan seluruh aspek operasional turnamen berjalan lancar.
Selain itu, FIFA mengingatkan bahwa Piala Dunia 2026 tidak hanya berlangsung di Amerika Serikat, tetapi juga di Kanada dan Meksiko. Format tiga negara tuan rumah ini dinilai memberikan fleksibilitas tambahan dalam pengaturan logistik dan perjalanan internasional, termasuk bagi tim dan suporter yang menghadapi kendala administratif di satu negara.
Dari sudut pandang olahraga, kepastian penyelenggaraan Piala Dunia 2026 menjadi hal krusial bagi federasi-federasi anggota FIFA di seluruh dunia. Banyak negara telah menyusun program jangka panjang, mulai dari pembinaan pemain hingga agenda kualifikasi, dengan Piala Dunia 2026 sebagai target utama. Oleh sebab itu, FIFA berupaya menjaga stabilitas dan kejelasan agar persiapan tidak terganggu oleh dinamika politik global.
FIFA menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa sepak bola memiliki kekuatan untuk menyatukan berbagai bangsa dan budaya. Organisasi tersebut menyatakan komitmennya untuk memastikan Piala Dunia 2026 tetap menjadi perayaan sepak bola global yang inklusif, aman, dan dapat diakses oleh semua pihak yang berhak berpartisipasi.
Di tengah dinamika kebijakan internasional yang terus berubah, pernyataan FIFA ini setidaknya memberikan kepastian awal bahwa Piala Dunia 2026 masih berada di jalur yang telah direncanakan. Meski tantangan di luar lapangan tetap ada, FIFA menegaskan bahwa fokus utama mereka adalah memastikan turnamen terbesar di dunia tersebut tetap terselenggara sesuai visi dan prinsip sepak bola global.
