
KATURI HEALTH – Perdebatan mengenai klaim khasiat daging anjing dan kucing kerap muncul di tengah masyarakat, khususnya yang dikaitkan dengan alasan kesehatan atau kekuatan fisik. Namun, jika ditinjau dari sudut pandang ilmiah dan ilmu gizi, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa daging anjing dan kucing memiliki keunggulan nutrisi dibandingkan daging sapi. Justru sebaliknya, daging sapi dikenal sebagai salah satu sumber protein hewani paling lengkap dan berkualitas tinggi.
Guru Besar Genetika dan Pemuliaan Ternak Fakultas Peternakan IPB University, Profesor Ronny Rachman Noor, menegaskan bahwa daging sapi jauh lebih unggul secara nutrisi. Keunggulan tersebut tidak hanya terletak pada kandungan protein, tetapi juga pada komposisi lemak yang lebih seimbang serta kepadatan mikronutrien yang penting bagi tubuh manusia. Pernyataan ini sekaligus meluruskan anggapan keliru yang berkembang di masyarakat mengenai klaim “khasiat khusus” daging anjing atau kucing.
Secara umum, semua daging hewan memang mengandung makronutrien dasar seperti protein dan lemak. Dalam konteks ini, daging anjing dan kucing memiliki kandungan makronutrien yang relatif sebanding dengan daging sapi. Namun, kesetaraan makronutrien tersebut tidak otomatis menjadikan nilai gizinya sama. Kualitas protein, profil asam amino, serta kandungan vitamin dan mineral justru menjadi faktor penentu utama dalam menilai manfaat gizi suatu bahan pangan.
Daging sapi dikenal memiliki protein dengan nilai biologis tinggi, artinya protein tersebut lebih mudah dicerna dan dimanfaatkan oleh tubuh untuk membangun serta memperbaiki jaringan. Selain itu, daging sapi mengandung asam amino esensial yang lengkap, yang sangat penting bagi pertumbuhan, pembentukan otot, dan fungsi metabolisme. Keunggulan ini menjadikan daging sapi sebagai salah satu sumber protein utama dalam pola makan sehat.
Dari sisi lemak, daging sapi juga memiliki komposisi yang lebih jelas dan telah banyak diteliti. Kandungan lemaknya dapat diatur melalui pemilihan bagian daging dan sistem pemeliharaan ternak. Lemak dalam daging sapi juga mengandung asam lemak tertentu yang berperan dalam produksi energi dan penyerapan vitamin larut lemak. Hal ini berbeda dengan daging anjing dan kucing yang belum memiliki standar komposisi gizi yang jelas dan konsisten.
Keunggulan lain daging sapi terletak pada kepadatan mikronutrien, seperti zat besi, zinc, fosfor, dan vitamin B kompleks. Zat besi dalam daging sapi, misalnya, berbentuk heme yang lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan sumber nabati. Zinc berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh dan penyembuhan luka, sementara vitamin B12 sangat dibutuhkan untuk fungsi saraf dan pembentukan sel darah merah.
Sebaliknya, konsumsi daging anjing dan kucing tidak didukung oleh kajian ilmiah yang memadai terkait manfaat gizinya. Selain itu, aspek keamanan pangan juga menjadi perhatian serius. Hewan-hewan tersebut bukan ternak konsumsi, sehingga tidak melalui sistem pengawasan kesehatan, pakan, dan pemotongan yang terstandarisasi. Kondisi ini meningkatkan risiko penularan penyakit zoonosis dan kontaminasi yang berbahaya bagi manusia.
Dari perspektif ilmu peternakan dan kesehatan masyarakat, klaim bahwa daging anjing dan kucing memiliki khasiat khusus tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Anggapan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh mitos, tradisi, atau kepercayaan turun-temurun yang tidak pernah dibuktikan secara akademis.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa daging sapi tetap menjadi pilihan protein hewani yang lebih unggul dan aman dari sisi gizi maupun kesehatan. Pernyataan para ahli, termasuk Profesor Ronny Rachman Noor, menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan nutrisi sebaiknya didasarkan pada bukti ilmiah, bukan pada klaim yang tidak teruji. Edukasi berbasis sains menjadi kunci agar masyarakat dapat memilih sumber pangan yang sehat, aman, dan bertanggung jawab.
