
KATURI NEWS – Industri pertahanan dan teknologi militer Israel dilaporkan mengalami lonjakan permintaan dari pasar internasional di tengah konflik berkepanjangan di Gaza dan Lebanon. Klaim tersebut disampaikan oleh sejumlah eksekutif perusahaan rintisan (startup) Israel yang bergerak di bidang pertahanan dan keamanan, sebagaimana dilaporkan oleh media Amerika Serikat, Washington Post.
Menurut laporan tersebut, operasi militer Israel di Gaza, serangan ke wilayah Lebanon, serta konfrontasi dengan kelompok Hizbullah telah menjadi semacam “etalase langsung” bagi teknologi militer Israel. Berbagai sistem persenjataan dan teknologi pendukung yang digunakan di medan konflik disebut menarik perhatian pembeli asing, terutama dari kalangan militer dan pemerintah negara lain.
Fenomena ini menunjukkan kontras tajam antara kecaman politik internasional terhadap tindakan Israel di Gaza dan realitas pasar global, di mana produk pertahanan Israel justru mengalami peningkatan permintaan.
Startup Pertahanan Jadi Pusat Perhatian
Israel dikenal sebagai salah satu negara dengan ekosistem teknologi militer dan keamanan paling maju di dunia. Banyak perusahaan rintisan di negara tersebut lahir dari pengalaman langsung para pendirinya yang memiliki latar belakang militer atau intelijen.
Para eksekutif startup ini mengklaim bahwa minat asing terhadap sistem persenjataan Israel meningkat signifikan sejak konflik intensif kembali terjadi. Produk-produk yang diminati mencakup berbagai sistem yang digunakan pasukan Israel di lapangan, mulai dari teknologi pengawasan, sistem pertahanan, hingga perangkat militer berbasis kecerdasan buatan.
Menurut mereka, konflik yang berlangsung secara tidak langsung menjadi ajang pembuktian efektivitas teknologi yang dikembangkan. Dalam logika industri pertahanan global, penggunaan nyata di medan perang sering kali menjadi faktor penentu kepercayaan pembeli.
Lonjakan Investasi Teknologi Militer Israel
Data dari Startup Nation Central memperkuat gambaran tersebut. Lembaga itu mencatat bahwa perusahaan rintisan Israel berhasil membukukan investasi sebesar USD15,6 miliar sepanjang tahun 2025, meningkat signifikan dibandingkan USD12 miliar pada tahun 2024.
Para analis industri memperkirakan tren peningkatan investasi ini belum akan berhenti dalam waktu dekat. Permintaan global terhadap teknologi pertahanan, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik dunia, dinilai menjadi faktor utama yang mendorong aliran modal ke sektor tersebut.
Lonjakan investasi ini tidak hanya berasal dari investor domestik, tetapi juga dari perusahaan modal ventura dan lembaga investasi internasional yang melihat potensi jangka panjang industri pertahanan Israel.
Kontras dengan Sikap Pemerintah Eropa
Menariknya, peningkatan minat terhadap teknologi militer Israel terjadi di saat banyak pemerintah Eropa secara terbuka menyuarakan kritik keras terhadap operasi militer Israel di Gaza. Sejumlah negara bahkan mengambil langkah konkret dengan menangguhkan atau membatasi ekspor senjata ke Israel.
Negara-negara seperti Inggris, Italia, Spanyol, Kanada, Belgia, dan Belanda termasuk di antara pihak yang menerapkan pembatasan tersebut. Alasan utama yang dikemukakan adalah kekhawatiran bahwa senjata yang dikirim dapat digunakan untuk melanggar hukum humaniter internasional.
Langkah-langkah ini mencerminkan tekanan domestik yang kuat di negara-negara tersebut, di mana opini publik menuntut pemerintah bersikap tegas terhadap konflik di Gaza.
Tuduhan “Kepedulian Palsu”
Di tengah dinamika tersebut, muncul kritik dari kalangan investor dan pelaku industri pertahanan Israel. Aaron Kaplowitz, pendiri 1948 Ventures, sebuah perusahaan modal ventura berbasis di Miami yang berinvestasi di teknologi militer Israel, menyampaikan pandangan tajam.
Ia menilai ada kontradiksi antara sikap publik sejumlah pemerintah dan tindakan mereka di balik layar. Menurut Kaplowitz, beberapa pemerintah secara terbuka menunjukkan kepedulian terhadap situasi kemanusiaan di Gaza, namun pada saat yang sama tetap menjaga hubungan dengan industri pertahanan Israel.
“Ada pemerintah yang secara terbuka menunjukkan kepedulian palsu tentang Gaza untuk menenangkan masyarakat, sambil mengirim pimpinan pertahanan mereka berbicara dengan perusahaan Israel demi melindungi kepentingan wilayah mereka sendiri,” ujar Kaplowitz, seperti dikutip Washington Post.
Pernyataan tersebut menyoroti realitas politik global, di mana kepentingan keamanan nasional sering kali berjalan beriringan dengan, atau bahkan bertentangan dengan, narasi moral yang disampaikan ke publik.
Teknologi Militer dan Realitas Geopolitik
Lonjakan permintaan terhadap senjata dan teknologi Israel tidak bisa dilepaskan dari kondisi geopolitik global yang semakin tidak stabil. Konflik bersenjata di berbagai kawasan dunia mendorong banyak negara untuk memperkuat sistem pertahanan mereka.
Dalam konteks ini, Israel dipandang sebagai salah satu pemasok teknologi militer yang berpengalaman, dengan produk yang telah diuji dalam kondisi nyata. Bagi sebagian pembeli, efektivitas dan rekam jejak lapangan menjadi pertimbangan utama, terlepas dari kontroversi politik yang menyertainya.
Hal inilah yang menjelaskan mengapa, meskipun dikecam di forum internasional, industri pertahanan Israel tetap mampu menarik minat pasar global.
Dilema Etika dan Bisnis
Situasi ini juga memunculkan dilema etika yang kompleks. Di satu sisi, terdapat keprihatinan luas terhadap dampak kemanusiaan konflik Gaza. Di sisi lain, terdapat realitas bisnis dan keamanan yang mendorong negara-negara untuk terus berinvestasi pada teknologi militer yang dianggap efektif.
Bagi perusahaan rintisan Israel, meningkatnya permintaan dan investasi menjadi peluang besar untuk ekspansi dan pengembangan teknologi baru. Namun, keberhasilan ini juga dibayangi oleh kritik dan sorotan tajam dari komunitas internasional.
Penutup
Lonjakan permintaan asing terhadap senjata dan teknologi militer Israel di tengah perang Gaza dan Lebanon mencerminkan paradoks global: kecaman politik berjalan beriringan dengan ketertarikan pasar. Data investasi yang meningkat menunjukkan bahwa industri pertahanan Israel tetap menjadi pemain penting di panggung global, meski dikelilingi kontroversi.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana konflik bersenjata tidak hanya berdampak pada aspek kemanusiaan dan politik, tetapi juga membentuk dinamika ekonomi dan industri pertahanan dunia. Ke depan, hubungan antara kepentingan keamanan, etika internasional, dan bisnis senjata kemungkinan akan terus menjadi perdebatan yang sulit dipisahkan.
