
KATURI NEWS – Ketegangan geopolitik dunia kembali mencapai titik kritis setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan kebijakan yang berpotensi mengguncang hubungan perdagangan internasional secara luas. Pada 12 Januari 2026, melalui unggahan di platform media sosial Truth Social, Trump menyatakan bahwa setiap negara yang masih berbisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenai tarif impor sebesar 25% untuk seluruh barang yang masuk ke pasar AS. Pernyataan ini diumumkan sebagai respons terhadap demonstrasi besar-besaran di Iran dan tindakan keras rezim Teheran dalam meredam protes tersebut.
Menurut pengumuman resmi Trump, kebijakan tersebut berlaku secara efektif dan langsung, dan dianggap sebagai langkah final yang bisa memperkuat tekanan ekonomi terhadap Iran serta sekutunya yang terus melakukan hubungan dagang dengan Teheran. Namun, meskipun pengumuman tersebut dibuat dengan tegas, Gedung Putih belum merilis dokumen hukum resmi atau rinciannya, termasuk dasar yuridis dan mekanisme implementasi kebijakan tarif ini.
Motivasi Kebijakan Trump
Trump mengaitkan kebijakan tarif agresif ini dengan gelombang protes anti-pemerintah yang melanda Iran, yang menurut sejumlah laporan internasional telah menewaskan ratusan hingga ribuan demonstran dalam beberapa minggu terakhir. Pemberlakuan tarif ini diposisikan sebagai salah satu cara untuk memperlemah rezim Iran melalui isolasi ekonomi dan tekanan diplomatik. Dalam beberapa pidatonya, Trump juga menyatakan dukungan kepada para pengunjuk rasa dan menegaskan bahwa sanksi ekonomi akan terus ditingkatkan jika tindakan keras terhadap demonstran berlanjut.
Namun, langkah ini juga menimbulkan pertanyaan luas tentang potensi dampaknya terhadap perekonomian global, pasar minyak, dan hubungan dagang antara AS dengan mitra utamanya di seluruh dunia.
Reaksi China dan Ancaman Balasan
Salah satu reaksi paling keras datang dari China, yang merupakan mitra dagang terbesar Iran dan pembeli minyak Iran paling signifikan. Juru Bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, melalui pernyataannya di X, secara tegas mengecam kebijakan tarif ini dan menyatakan bahwa Beijing akan mengambil “semua langkah yang diperlukan” untuk melindungi kepentingan nasionalnya. Liu juga memperingatkan bahwa perang dagang tidak akan menguntungkan siapa pun, dan tekanan perdagangan semacam ini berpotensi merusak tatanan ekonomi global.
Pernyataan Beijing mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas dari para pejabat China bahwa langkah AS bisa mendorong eskalasi konflik ekonomi yang melampaui isu Iran semata, dan berpotensi mengguncang hubungan perdagangan besar antara AS dan China yang sudah sarat ketegangan sejak awal dekade ini.
Selain itu, China juga menyatakan menentang sanksi sepihak dan yurisdiksi panjang AS, yang dianggap Beijing sebagai ancaman terhadap prinsip perdagangan bebas dan kedaulatan ekonomi negara lain. Dalam pernyataannya, pihak China menegaskan bahwa tarif sepihak semacam itu akan berdampak negatif bagi stabilitas ekonomi dunia dan bisa memicu respons balasan.
Dampak pada Ekonomi dan Hubungan Internasional
Ancamannya sendiri bukan hanya menimpa China, tetapi juga negara-negara besar lain yang selama ini menjalin kerja sama dagang dengan Iran. Beberapa negara yang diperkirakan paling berdampak termasuk Turki, India, Uni Emirat Arab, dan beberapa negara Eropa yang masih melakukan impor barang tertentu dari Iran. Langkah baru ini memperluas lingkup tekanan ekonomi AS dari sekadar sanksi langsung terhadap Iran menjadi semacam pembalasan sekunder terhadap mitra dagang Iran di seluruh dunia.
Para analis pasar dan ekonomi global menyatakan bahwa kebijakan semacam ini dapat mendorong kenaikan harga impor di AS, mengganggu rantai pasok global, serta mengguncang pasar keuangan dan komoditas, terutama minyak. Bahkan, kabar tentang ancaman tarif baru ini sempat membuat harga minyak dunia naik dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar atas potensi gangguan pasokan dan peningkatan risiko geopolitik.
Selain itu, kebijakan ini berpeluang merevitalisasi ketegangan perdagangan antara Washington dan Beijing, yang sempat mereda setelah beberapa perjanjian dagang sementara dicapai pada tahun-tahun sebelumnya. Kini, dengan prospek kenaikan tarif efektif hingga melebihi 45% untuk beberapa produk China yang melibatkan jalur dagang dengan Iran, hubungan kedua negara adikuasa ini kembali memanas.
Tanggapan Internasional Lainnya
Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan juga menanggapi kebijakan ini dengan memperhatikan secara seksama potensi implikasinya bagi ekonomi mereka. Kedua negara tersebut memiliki hubungan perdagangan yang kompleks dengan AS dan beberapa keterkaitan tidak langsung dengan Iran, sehingga mereka menyatakan akan mempelajari lebih jauh detail kebijakan dan dampaknya sebelum menentukan langkah diplomatik selanjutnya.
Sementara itu, Uni Eropa dan beberapa negara anggota Dewan Keamanan PBB mengecam tindakan keras terhadap demonstran di Iran, namun tetap mengimbau dialog dan penyelesaian diplomatik dibandingkan eskalasi ekonomi atau militer.
Kesimpulan
Ancaman tarif 25% oleh Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara yang masih berdagang dengan Iran telah menciptakan gelombang ketegangan baru di panggung internasional. Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada hubungan AS-Iran saja, tetapi telah memicu reaksi keras dari China dan kekhawatiran di berbagai negara lain. Dengan potensi gangguan ekonomi global, perubahan dinamika perdagangan internasional, serta kemungkinan tekanan balasan dari mitra dagang utama AS, dunia kini menghadapi fase baru dari persaingan geopolitik dan tantangan diplomasi multilateral.
