
KATURI HEALTH – Istilah “rahim copot” sering muncul dalam percakapan sehari-hari di masyarakat Indonesia untuk menggambarkan kondisi di mana organ rahim atau uterus mengalami penurunan ke posisi yang lebih rendah dari normal. Secara medis, kondisi ini dikenal sebagai Uterine Prolapse atau prolap rahim. Walaupun terminologi “copot” terasa dramatis, kondisi sebenarnya bisa bervariasi dari ringan hingga berat—dan penanganannya pun bermacam-macam. Berikut penjelasan lengkapnya.
Apa yang dimaksud dengan prolap rahim?
Secara anatomi, rahim atau uterus berada di dalam rongga panggul dan didukung oleh otot-otot dasar panggul (pelvic floor), ligamen, dan jaringan ikat. Ketika struktur penopang ini melemah atau rusak, rahim dapat turun (descent) ke dalam kanal vagina atau bahkan menonjol keluar dari lubang vagina dalam kasus yang sangat berat.
Tingkat keparahan prolap rahim dapat dibagi menjadi beberapa derajat: dari hanya turun sedikit masuk ke vagina hingga rahim yang sebagian menonjol ke luar.
Dengan demikian, “rahim copot” bukan berarti organ rahim benar-benar lepas dari tubuh seperti tali yang putus, tetapi lebih tepat digambarkan sebagai penurunan posisi rahim karena kerusakan atau kelemahan sistem penopangnya.
Apa penyebabnya?
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya prolap rahim antara lain:
- Persalinan vagina: Wanita yang pernah melahirkan secara normal, terutama bila bayi besar atau persalinan lama, akan mengalami penekanan besar pada otot dan jaringan penopang rahim.
- Usia & menopause: Seiring bertambah umur, jaringan ikat dan otot mulai melemah. Penurunan hormon estrogen setelah menopause juga berdampak pada elastisitas jaringan panggul.
- Kelebihan berat badan, batuk kronis, konstipasi berat atau mengangkat beban berat secara rutin: Semua ini menyebabkan tekanan berulang pada otot dasar panggul, yang meningkatkan risiko terjadinya prolap.
- Riwayat operasi panggul atau rahim (misalnya histerektomi): Setelah rahim diangkat, bagian atas vagina (vaginal vault) dapat menjadi rentan turun.
- Faktor genetik atau kelemahan jaringan ikat bawaan: Walaupun kurang sering dibicarakan, jaringan ikat yang lemah dapat mempermudah organ panggul melorot.
Apa saja gejalanya?
Gejala prolap rahim bisa ringan hingga sangat mengganggu, bergantung pada tingkat keparahan. Beberapa gejala yang mungkin muncul:
- Merasa ada “sesuatu yang jatuh” atau “benjolan” di vagina atau terasa seperti duduk di atas bola kecil.
- Rasa penuh atau tekanan di panggul atau vagina, sering memburuk setelah berdiri lama atau aktivitas berat.
- Nyeri punggung bagian bawah atau rasa tidak nyaman saat berhubungan intim.
- Gangguan saluran kemih atau saluran cerna: misalnya sulit mengosongkan kandung kemih, terjadi inkontinensia urin, kesulitan buang air besar atau konstipasi kronis.
- Pada kasus berat, dapat terlihat jaringan rahim atau leher rahim yang muncul ke luar lubang vagina.
Bagaimana diagnosis dan pengobatannya?
Diagnosis
Diagnosis prolap rahim umumnya dilakukan oleh dokter spesialis ginekologi melalui pemeriksaan fisik panggul. Dokter bisa meminta pasien mengejan (seakan buang air besar) untuk melihat seberapa jauh rahim turun. Terkadang dibantu pula oleh ultrasound, MRI atau pengujian fungsi kandung kemih bila diperlukan.
Pengobatan
Penanganan sangat tergantung pada tingkat keparahan dan kondisi pasien (misalnya apakah masih ingin punya anak, usia, kondisi kesehatan umum). Beberapa pilihan:
- Pendekatan konservatif: Untuk kasus ringan, bisa dengan perubahan gaya hidup (menurunkan berat badan, menghindari angkat beban berat, mengatasi konstipasi), latihan dasar panggul (Kegel) untuk memperkuat otot dasar panggul.
- Pessary vagina: Alat yang dimasukkan ke vagina untuk menopang rahim agar tidak turun lebih rendah. Cocok untuk mereka yang belum ingin operasi atau punya kondisi yang membuat operasi berisiko.
- Operasi: Jika gejala sangat mengganggu atau pasien memilih penyelesaian permanen. Opsi termasuk memperbaiki struktur penyangga rahim, melakukan histerektomi (pengangkatan rahim) jika perlu, atau prosedur khusus untuk mempertahankan rahim jika masih ingin hamil.
Apakah bisa dicegah?
Memang tidak semua kasus prolap dapat dicegah karena faktor umur dan genetika tak bisa diubah, namun beberapa langkah dapat mengurangi risiko:
- Menjaga berat badan agar tidak berlebih, dan berhenti merokok untuk menghindari batuk kronis yang menekan panggul.
- Mengelola konstipasi kronis dengan diet tinggi serat dan cukup cairan agar tidak mengejan keras terus-menerus.
- Melakukan latihan otot dasar panggul (seperti latihan Kegel) secara rutin, baik sebelum maupun setelah melahirkan.
- Menghindari angkat beban berat secara berulang tanpa teknik yang benar atau tanpa istirahat yang cukup bagi otot dasar panggul.
- Perawatan kesehatan rutin termasuk pemeriksaan ginekologi secara berkala, terlebih bila memiliki faktor risiko.
Kesimpulan
Jadi, istilah “rahim copot” memang memiliki dasar medis—yakni ketika rahim turun dari posisi normal dan mendesak ke area vagina atau bahkan menonjol ke luar. Namun, penjelasan medisnya lebih tepat disebut sebagai “prolap rahim”, bukan copot dalam arti benar-benar lepas.
Kondisi ini cukup umum dan bisa dialami wanita terutama yang memiliki riwayat persalinan banyak, usia lanjut, kehamilan besar, konstipasi kronis atau masalah lain yang menekan otot dasar panggul. Meski bisa menimbulkan gejala mengganggu, prolap rahim dapat diatasi dengan berbagai pilihan pengobatan termasuk perubahan gaya hidup, alat penopang, hingga operasi bila diperlukan.
Jika Anda merasa mengalami gejala seperti rasa penuh di panggul, benjolan di vagina atau sulit buang air kecil/besar, sebaiknya segera konsultasi ke dokter ginekologi agar evaluasi lebih lanjut dan penanganan dapat dilakukan tepat waktu.
