
KATURI NEWS – Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada rencana untuk memajukan jadwal pemberian vaksin campak pada bayi di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya kasus Campak di sejumlah wilayah serta adanya laporan kejadian luar biasa (KLB) penyakit tersebut di beberapa negara.
Menurut dr. Piprim, penentuan jadwal imunisasi tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan berdasarkan hasil berbagai penelitian ilmiah mengenai sistem kekebalan bayi. Salah satu pertimbangan penting adalah adanya kekebalan alami yang diperoleh bayi dari ibunya sejak lahir. Kekebalan ini dikenal sebagai antibodi maternal yang diturunkan melalui plasenta selama masa kehamilan.
Ia menjelaskan bahwa antibodi yang berasal dari ibu masih memberikan perlindungan terhadap virus campak pada bayi hingga usia tertentu. Berdasarkan hasil penelitian yang ada, perlindungan alami tersebut umumnya masih bertahan hingga bayi berusia sekitar sembilan bulan. Oleh karena itu, jadwal vaksinasi campak pertama tetap direkomendasikan pada usia tersebut.
“Jadi memang kekebalan yang dibawa dari ibu itu berdasarkan penelitian masih ada sampai anak itu kira-kira sembilan bulan,” ujar dr. Piprim saat ditemui di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta Timur, pada Kamis (12/3).
Penjelasan ini menjadi alasan mengapa jadwal vaksinasi belum diubah meskipun saat ini terjadi peningkatan kasus campak di beberapa wilayah. Apabila vaksin diberikan terlalu dini, antibodi dari ibu yang masih berada di dalam tubuh bayi dikhawatirkan justru dapat mengganggu efektivitas vaksin yang diberikan.
Dalam dunia medis, efektivitas vaksin sangat dipengaruhi oleh kondisi sistem imun penerimanya. Jika antibodi dari ibu masih cukup tinggi, tubuh bayi mungkin tidak akan merespons vaksin secara optimal. Akibatnya, perlindungan yang diharapkan dari imunisasi tersebut tidak terbentuk secara maksimal.
Karena itu, jadwal imunisasi yang telah ditetapkan selama ini dianggap sudah melalui kajian ilmiah yang matang. IDAI bersama para ahli kesehatan terus memantau perkembangan situasi penyakit campak, baik di dalam negeri maupun secara global, untuk memastikan bahwa kebijakan yang diambil tetap sesuai dengan kondisi kesehatan masyarakat.
Campak sendiri merupakan penyakit infeksi yang sangat menular dan disebabkan oleh virus. Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak dan dapat menyebar dengan cepat melalui percikan droplet ketika penderita batuk atau bersin. Gejala yang umum muncul antara lain demam tinggi, ruam merah pada kulit, batuk, pilek, serta mata merah.
Meski sering dianggap sebagai penyakit yang umum terjadi pada anak, campak dapat menimbulkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan baik. Beberapa komplikasi yang dapat muncul di antaranya infeksi telinga, diare berat, pneumonia, hingga peradangan otak yang dikenal sebagai ensefalitis.
Karena itu, imunisasi menjadi langkah pencegahan paling efektif untuk melindungi anak dari risiko penyakit tersebut. Pemerintah Indonesia sendiri telah memasukkan vaksin campak sebagai bagian dari program imunisasi dasar yang diberikan secara gratis di berbagai fasilitas kesehatan.
Selain vaksin campak tunggal, imunisasi juga tersedia dalam bentuk kombinasi seperti vaksin MR yang melindungi dari campak dan rubella. Program imunisasi ini telah dijalankan secara luas untuk meningkatkan cakupan perlindungan pada anak-anak di seluruh Indonesia.
Dr. Piprim juga mengingatkan para orang tua untuk tetap mengikuti jadwal imunisasi yang telah direkomendasikan oleh tenaga kesehatan. Dengan memastikan anak mendapatkan vaksin tepat waktu, risiko penyebaran campak dapat ditekan secara signifikan.
Di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap penyakit menular, edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi juga menjadi hal yang sangat penting. Melalui pemahaman yang baik, diharapkan masyarakat dapat berperan aktif dalam menjaga kesehatan anak-anak serta mencegah terjadinya wabah penyakit yang lebih luas.
