
KATURI NEWS – Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan telah melaksanakan gelombang ke-40 dari operasi militer yang mereka sebut sebagai Operation True Promise 4 pada Rabu (11/3/2026). Operasi tersebut dijalankan dengan sandi “Ya Amir al-Mu’minin” dan diklaim dilakukan secara terkoordinasi dengan kelompok bersenjata Hezbollah yang berbasis di Lebanon.
Menurut pernyataan resmi yang disampaikan oleh kantor hubungan masyarakat IRGC, serangan tersebut melibatkan peluncuran sejumlah jenis rudal balistik, termasuk Qadr, Emad, Kheibar-Shekan, dan Fattah. Rudal-rudal tersebut diarahkan ke berbagai target yang disebut berada di wilayah Tel Aviv, Jerusalem, dan Haifa.
IRGC juga mengklaim bahwa beberapa sasaran yang diserang merupakan instalasi militer milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Di antara target yang disebut adalah Al-Azraq Air Base dan Al-Kharj Air Base.
Serangan Koordinasi dengan Hizbullah
Pada waktu yang hampir bersamaan, Hezbollah juga mengumumkan operasi militer terpisah yang mereka beri nama Operation Devoured Straw. Dalam operasi tersebut, kelompok itu menyatakan telah menembakkan lebih dari seratus roket ke wilayah Palestina utara yang berada di bawah kontrol Israel.
Kelompok tersebut menyebut bahwa serangan roket itu merupakan bagian dari respons terhadap perkembangan konflik yang semakin meningkat di kawasan. Menurut pernyataan mereka, serangan dilakukan untuk menekan posisi militer Israel di wilayah utara.
Peningkatan Serangan Rudal
Dalam pernyataan yang dirilisnya, Hezbollah juga menyebut bahwa sejumlah media di Israel mengakui adanya peningkatan signifikan dalam peluncuran rudal dari Iran menuju wilayah Israel dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Mereka mengklaim bahwa serangan tersebut disertai dengan meningkatnya jumlah korban dan kerusakan.
Namun hingga saat ini, berbagai klaim yang disampaikan oleh pihak Iran maupun Hezbollah belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen. Pihak Israel dan Amerika Serikat juga belum memberikan pernyataan resmi terkait detail serangan yang disebutkan dalam pengumuman tersebut.
Ketegangan Regional Meningkat
Rangkaian serangan yang diklaim oleh IRGC dan Hezbollah ini menunjukkan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Konflik yang melibatkan berbagai aktor regional dan internasional telah membuat situasi keamanan di wilayah tersebut semakin kompleks.
Serangan rudal jarak jauh serta operasi roket lintas wilayah berpotensi memperluas skala konflik jika tidak segera mereda. Pengamat keamanan internasional menilai bahwa perkembangan ini dapat memicu respons militer maupun diplomatik dari berbagai negara yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam konflik tersebut.
Selain itu, keterlibatan kelompok bersenjata non-negara seperti Hezbollah juga menambah dimensi baru dalam dinamika konflik kawasan. Koordinasi antara Iran dan kelompok tersebut menjadi perhatian banyak pihak karena dapat mempengaruhi stabilitas keamanan di Timur Tengah secara lebih luas.
Menunggu Respons Resmi
Sejauh ini, komunitas internasional masih menunggu klarifikasi resmi dari pemerintah Israel dan Amerika Serikat mengenai dampak serangan yang diklaim oleh IRGC dan Hezbollah. Informasi mengenai tingkat kerusakan, jumlah korban, serta target yang benar-benar terkena serangan masih belum dapat dipastikan.
Perkembangan situasi di Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan diperkirakan akan menjadi perhatian dunia internasional. Ketegangan yang meningkat berpotensi mempengaruhi stabilitas kawasan serta hubungan geopolitik antara negara-negara yang terlibat dalam konflik tersebut.
