
KATURI NEWS – Seorang pejabat militer Iran menyatakan bahwa negaranya memiliki kesiapan untuk menghadapi konflik berskala besar dalam jangka waktu yang cukup lama. Pernyataan tersebut disampaikan oleh juru bicara Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), Ali-Mohammad Naeini, yang menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran siap menjalani perang berintensitas tinggi hingga enam bulan dengan tempo konflik seperti saat ini.
Dalam pernyataan video yang dirilis pada Minggu, 8 Maret, Naeini mengatakan bahwa kemampuan militer Iran masih berada jauh dari batas maksimalnya. Ia menilai bahwa kekuatan yang telah digunakan sejauh ini belum mencerminkan seluruh potensi militer yang dimiliki negara tersebut.
Menurut Naeini, kesiapan militer Iran tidak hanya mencakup pasukan darat, tetapi juga kemampuan pertahanan udara, angkatan laut, serta sistem rudal yang selama ini menjadi salah satu komponen utama strategi pertahanan Iran. Ia menekankan bahwa struktur militer Iran dirancang untuk menghadapi konflik jangka panjang, terutama jika terjadi eskalasi perang yang melibatkan banyak pihak di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan tersebut dilaporkan oleh kantor berita Iran, ISNA News Agency. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Naeini juga mengungkapkan informasi mengenai jenis persenjataan yang digunakan Iran sejauh ini dalam berbagai operasi militernya.
Ia menyatakan bahwa sebagian besar rudal yang digunakan Iran hingga saat ini berasal dari generasi lama. Rudal-rudal tersebut, menurutnya, diproduksi sekitar tahun 2012 hingga 2013. Pernyataan ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Iran masih menyimpan persenjataan yang lebih baru dan lebih canggih yang belum dikerahkan.
Lebih lanjut, Naeini mengeklaim bahwa rudal yang dikembangkan dalam satu dekade terakhir belum digunakan dalam situasi konflik saat ini. Dengan kata lain, Iran disebut masih memiliki cadangan teknologi militer yang lebih modern yang dapat digunakan jika konflik meningkat.
Program pengembangan rudal Iran selama bertahun-tahun menjadi salah satu isu utama dalam hubungan antara Iran dan negara-negara Barat. Banyak negara menilai kemampuan rudal Iran sebagai faktor penting dalam keseimbangan kekuatan di kawasan Timur Tengah. Iran sendiri berulang kali menegaskan bahwa program militernya bersifat defensif dan bertujuan melindungi kedaulatan negara.
Selain pengembangan rudal balistik, Iran juga dikenal memiliki berbagai sistem drone dan teknologi pertahanan lainnya yang terus dikembangkan oleh industri militer dalam negeri. Pemerintah Iran menyatakan bahwa pengembangan tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor persenjataan sekaligus meningkatkan kemampuan pertahanan nasional.
Pernyataan terbaru dari Naeini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai konflik regional melibatkan sejumlah aktor negara maupun kelompok bersenjata non-negara, yang berpotensi memperluas ketidakstabilan di wilayah tersebut.
Analis keamanan menilai bahwa pernyataan pejabat militer seperti ini sering kali juga memiliki dimensi strategis dan psikologis. Selain menyampaikan pesan kepada publik domestik, pernyataan tersebut dapat ditujukan untuk menunjukkan kemampuan militer kepada pihak lawan sekaligus memperkuat posisi tawar dalam dinamika politik regional.
Sementara itu, sejumlah pengamat internasional mengingatkan bahwa meningkatnya retorika militer dapat memperbesar risiko kesalahpahaman di antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Oleh karena itu, berbagai pihak mendorong adanya upaya diplomasi untuk menurunkan ketegangan dan mencegah konflik terbuka yang lebih luas.
Meski demikian, pernyataan dari juru bicara IRGC tersebut menegaskan bahwa Iran memandang dirinya berada dalam posisi siap jika harus menghadapi konflik berkepanjangan. Dengan kemampuan militer yang diklaim masih belum sepenuhnya digunakan, Iran ingin menunjukkan bahwa negara tersebut memiliki cadangan kekuatan yang signifikan apabila situasi keamanan di kawasan semakin memburuk.
